Verba Volent, Scripta Manent: Sebuah Usaha Mengabadikan

Sebagai salah seorang pengiat sastra, tentu tidak terlepas dari peribahasa ‘Verba Volent, Scripta Manent.’ Benar saja, peribahasa itulah yang menumbuhkan semangat menulis dan menyingkirkan rasa malas yang tumbuh menjamur. Peribahasa tersebut berarti, ‘Apa yang terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertuliskan akan menjadi abadi.’ Selayaknya peribahasa pada umumnya, lahirnya peribahasa Latin tersebut tidak pernah terlepas dari latar belakang dan asal-usulnya.

Sejarah tak akan pernah ada jika tak ada salah seorang yang menulisnya. Bahkan, masa depan juga tak akan pernah tercipta jika tidak ada tulisan. Tulisan menjadi satu hal wajib yang harus dibiasakan. Jika tulisan tersebut tidak pernah dituliskan atau didokumentasikan, hal tersebut membuat sejarah tak pernah diciptakan. Oleh sebab itu, menulis menjadi satu hal penting dalam menciptakan sejarah. Hingga kini, sejarah menjadi referensi sebuah kemajuan.

Banyak pakar yang menganalisis sejarah lewat tulisan, prasasti, dokumen, dan beberapa peninggalan lainnya. Mereka melakukan penelitian tersebut sebagai rujukan untuk mempersiapkan masa depan. Karena, masa depan tidak akan jauh berbeda dari sejarah. Sehingga, arkeolog misalnya, mampu memprediksi kehidupan di masa yang akan datang. Sampai-sampai puing-puing prasati diagung-agungkan.

Verba Volent, Scripta Manent tidak akan pernah keliru. Tanpa adanya parkamen, manuskrip, papyrus, gulungan lontar, pahatan batu candi; prasasti, catatan ilmuan dan seniman, bisa dipastikan bahwa sejarah tak akan ada. Sebab, pada zaman kuno, masyarakat telah menyakini bahwa no documents, no history; tidak ada sumber tertulis, tidak ada sejarah. Tidak ada sejarah, bisa berarti tidak ada masa depan.

Berdasarkan realitas di atas, tentu ada saja beberapa tonggak peninggalan yang luput dari perekaman atau dokumentasi. Kebanyakan yang luput tersebut seperti halnya bahasa verbal yang sering diucapkan. Atau berupa pemikiran yang tidak dituangkan. Peradaban kuno pada zaman dahulu telah menyisakan teka-teki yang rumit. Adanya beberapa hal yang belum terkuak menjadi batu hambatan untuk melakukan eksperimen di masa depan. Hal-hal yang bersifat verbalistis menjadi hal-hal yang lenyap dari sejarah. Secara realistis, kondisi itu hanya menyisakan misteri yang membuat pening kepala arkeolog dan ilmuwan.

Representatif zaman

Verba volent, scripta manent memang tak hanya sebuah dokumenter dalam sejarah (history) belaka. Maksudnya, tidak hanya berisi sejarah peradaban manusia. Namun halnya, peribahasa kuno ini juga bermakna dalam konteks karya sastra dari sastrawan-sastrawan Indonesia dari zaman ke zaman yang menggambarkan kondisi pada zamannya—tepat saat sastrawan itu masih hidup. Rekam jejak yang ditorehkan sastrawan dapat dianalisis sedemikian rupa sebagai representatif sebuah zaman.

Kita bisa tahu pada zaman Pujangga Lama, di mana pada masa itu sangat populer karya sastra berupa syair, gurindam, hikayat, dan pantun. Kebanyakan karya sastra pada zaman tersebut tidak terlepas dari pengaruh agama dan kebudayaan Melayu kuno. Salah satu penyair populer pada masa Pujangga Lama adalah Raja Ali Haji. Beliau dikenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar bahasa Melayu ke dalam buku Pedoman Bahasa. Pada masa itu pula, Raja Ali Haji terkenal dengan sebuah maha karyanya yang berjudul Gurindam Dua Belas (1847), sebagai pembaru arus sastra di zamannya.

Menilik lebih dalam, perkembangan Pujangga Lama digantikan oleh zaman Pujangga Baru yang memperkenalkan Sultan Takdir Alisjahbana sebagai salah satu sastrawan yang fenomenal. Salah satu karyanya, Layar Terkembang menjadi sebuah karya yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain itu, sebuah karya yang berjudul Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya-karya penting sebelum terjadinya perang. Hal ini menandai zaman belum berbuah zaman, di mana golongan-golongan masih mementingkan ego dan mengesampingkan kesejahteraan secara menyeluruh.

Kedua zaman di atas menjadi rujukan kesuksesan Chairil Anwar sebagai pionir pembaharuan sastra Angkatan ‘45. Pada zaman Chairil Anwar, karya sastra tidak lagi berbau romantik-idealistik ataupun religi. Namun, lebih ke realistis—mengingat pada masa itu, Indonesia sedang dilanda perang dan usaha-usaha untuk mencapai kemerdekaan. Sastrawan Angkatan ’45 menginginkan sastra bebas, yang artinya mereka ingin bebas berkarya. Pada masa tersebut, cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharu prosa Indonesia.

Masih banyak sekali periode sastra dari zaman ke zaman. Selebihnya, setelah era Angkatan ’45, lahirlah sastrawan-sastrawan kondang seperti Pramoedya Ananta Toer (1950-1960), Taufik Ismail (1966), Sapardi Djoko Damono (1966), Goenawan Mohamad (1969), Putu Wijaya (1971), Mahbub Djunaidi (1975), Kuntowijoyo (1976), dan sastrawan-sastrawan lainnya. Dari sini, kita bisa memahami bahwa gaya kepenulisan sastrawan dari beberapa zaman ke zaman memang berbeda, sesuai dengan kondisi pergolakkan yang terjadi dan karya sastra menjadi sebuah pengejawantahan dari zamannya.

Sekarang ini, di era milenial ataupun sering disebut sebagai generasi Z (modern), sastrawan semakin banyak jumlahnya. Realitas itu memang wajar mengingat zaman semakin maju/modern. Verba volent, scripta manent telah membawa kesaktian dalam perkembangan sastra di Indonesia. Para sastrawan yang hidup dari tahun ke tahun memang sudah banyak yang telah meninggal. Namun, kita masih bisa mencicipi karya mereka. Mereka tetap abadi sampai kapanpun. Sebab, mereka telah mempercayai peribahasa kuno tersebut memang benar-benar nyata.

Di sini, kita tidak hanya mencerna peribahasa itu dalam sisi sejarahnya saja (history). Ada hal yang lebih penting dari itu. Sastrawan pada zaman milenial harus membawa sastra dalam sebuah kemajuan yang hakiki. Mereka harus bisa menciptakan karya yang dapat membawa kemajuan untuk bangsa dan agama. Tidak hanya menciptakan karya kolot, melainkan mempresentasikan karyanya untuk membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Mereka mengkritik pemerintah (satire), memberikan pengetahuan/mendidik (edukasional), dan lain sebagainya. Sehingga, peribahasa verba volent, scripta  manent tidak hanya mengabadikan namanya, namun juga menjadi pengaruh kemajuan sebuah zaman.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar