Terjebak dalam Tofet

MALAM ini kita akan memainkan adegan yang sakral. Bibirku dan bibirmu bakal beradu. Kau mendekatkan bibirmu sedikit demi sedikit. Aku memalingkan imanku dari tatapan Tuhan. Untuk sementara waktu, kita lebur jadi satu. Sebelum Argapura meletus, lekaslah kita mainkan. Lekaslah, sebelum Argapura itu benar-benar meletus dan aku jadi abu.

***

“MAUKAH kau menciumku, meski kini, Argapura menampakkan kemurkaan?” tanyaku dengan perasaan meruap dan berdebar.

     Kau tak menjawab. Diammu laksana diamnya ikan-ikan yang terjaring jala (hanya meronta, tanpa berkata). Atau, diamnya sebatang pohon yang ditinggal pergi oleh daun-daunnya. Malam ini, aku seperti menatap tubuh tak bernyawa. Tapi, aku mengerti, bungkammu bukan berarti bisu. Hanya saja, pertanyaanku ini bagaikan serangan polisi kepada tersangka dalam ruangan yang senyap.

     Minggu-minggu ini memang terasa pelik bagi kita. Kita adalah sepasang kekasih yang belum pernah bertemu. Hanya menyapa dalam mimpi—dan bahkan engkau ialah kekasih imaji di saat tubuhku terasa mati.

     Sebelum kita berjumpa pertama kali di sini, aku mengenalmu sebatas nama. Saat itulah, imajinasiku kian menjadi-jadi. Apa-apa yang kumiliki kunamai mereka dengan namamu. Kursi tempatku melamun ini misalnya. Ia kunamai Rengganis. Atau, lampu kecil di sebelah kamar, ia juga Rengganis. Kisi-kisi jendela tempatku melihat selintas kehidupan, ia bernama Rengganis juga. Barangkali, namaku sendiri telah kuganti dengan nama Rengganis.

     O, selain itu, Rengganis. Aku memang gemar menghitung waktu. Di tengah lamunan panjangku—di dalam kamar Rengganis, aku terbayang perihal kupu-kupu yang terbang tanpa arah. Aku melihatnya dari kisi-kisi jendela. Mereka bebas menjelajah. Ke mana pun mereka mau. Mereka dapat leluasa hinggap di kelopak. Kemudian, mengisap sari bunga sampai kenyang. Aku melamunkannya, Kekasih. Kala itu terjadi, secara tak langsung, aku menghitung waktu. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan kupu-kupu untuk mengisap madu? Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk dapat bertemu?

     Aku juga melamunkan nelayan-nelayan yang pergi melaut—kau tahu? rumah Rengganisku dekat dengan bibir laut. Kala nelayan itu menebar jala, ada banyak ikan-ikan lucu yang terjerat, tak terkecuali kerapu. Aku dapat melamun, bagaimana bungahnya hati nelayan-nelayan itu ketika mendapat ikan. Pasti istri dan anak-anaknya di rumah tak pernah mengenal busung lapar. Ya, mereka riang menyantap ikan-ikan segar, seperti riangnya diriku saat memandang senyum semringahmu di suatu tempat.

     O, Rengganis. Bagiku, cinta harus seperti seorang nelayan yang mengarungi lautan—meskipun kau tak pernah memikirkan tentang bagaimana seorang nelayan itu memperkukuh tekad dalam melawan ombak dan badai. Jantung mereka kerap dipacu, Sayang. Kesabaran diuji. Kematian begitu dekat seperti cermin. Wajah nelayan terpampang nyata dalam catatan Izroil. Malaikat itu, tinggal menunggu alasan yang tepat untuk mencabutnya, seperti: ombak yang beringas, lantai kapal yang bocor sebab lapuk, atau sejumpun alasan lain yang logis.

     O, iya, Sayangku. Apa kau ingat? Seminggu yang lalu, kaumendatangi lelapku. Di dunia imaji yang seperti nyata itu, kau ingin berlayar ke Laut Aru. Aku tak pernah heran dengan kemauanmu, Sayang. Kau selalu ingin menyingkap sejarah. Barangkali, waktu di bangku sekolah dulu, kau memandang sejarah sebagai mata pelajaran yang menyenangkan. Kau yakin bahwa masa depan tidak akan tercipta tanpa sejarah. Maka, dalam igauan di mimpiku itu, aku menatap ekspresimu yang manja dan cantik. Seolah, ada beberapa kalimat yang ingin kausampaikan padaku. Misalnya, “Ayolah ke Laut Aru, mengenang gugurnya Yos Sudarso!” Saat itu, aku laksana memandang matahari yang merekah di wajahmu. Ah, kau itu selalu cerah! Kupikir, tak ada gunanya Tuhan menciptakan matahari, Sayang.

     Tunggu! Aku ingat sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba menyembul dari pikiranku. Kau mengajakku bertemu. Ya, aku ingat itu.

     “Sebuah taman dengan kawanan kupu-kupu. Kita bertemu di situ pada suatu hari sebelum Senin,” ajakmu dalam mimpiku.

     “Siap, Sayang,” balasku dengan hati berdebar.

     Pada waktu itu, aku seperti bocah yang dibelikan mainan oleh Bapak. Begitu riang dan berniat menyuruh waktu supaya lekas berlalu. Aku sudah muak jadi nelayan, Sayang. Dari subuh sampai magrib, aku tak mendapatkan banyak ikan untuk mengenyangkan perut. Aku butuh hiburan, butuh kamu, serupa ikan-ikan yang bebas berenang, dari laut ke laut, dari mimpi ke nyata.

     Hingga, hari yang kita tunggu tiba.

***

SEBENARNYA, aku tak yakin dengan pertemuan ini, sebagaimana aku tak yakin bahwa kau itu nyata. Dalam lelapku, kau hanyalah imaji; seorang perempuan yang kuimpikan bakal jadi kekasih. Temanku mengarungi bahtera hidup. Di separuh abad usiaku ini, aku tak ingin mati sendirian. Aku ingin mati dengan mengecup keningmu. Atau, mati dengan kepala bersandar di bahumu. Selain itu, aku juga ingin anak-anak kita membuat selametan untuk mendoakan arwahku, supaya tidak begitu nista di mata Tuhan.

     Sebelum senja tiba, aku telah duduk mencangkung di bangku taman, menunggumu. Aku memandang setiap penjuru taman; bunga melati dan mawar bermekaran diselumuti kupu-kupu menawan, pohon akasia tumbuh menjulang meneduhi tubuhku dari sisa-sisa sorot matahari, orang-orang berlari riang ke sana-kemari, sepasang kekasih saling memadukan cinta, dan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.

     Taman ini sungguh indah. Cocok untuk suatu pertemuan yang penting; antara nyata maupun fiksi. Aku menantikan pertemuan ini bertahun-tahun lamanya. Diselingi undangan perkawinan yang tebar-menebar. Kau tahu? Teman-teman seumuranku sudah menikah semua, Sayang. Cuma aku yang masih melajang, sibuk melaut, sibuk mencari kebutuhan hidup.

     Satu jam berselang, kau tak kunjung datang. Hingga senja melukis langit cerah jadi jingga. Lama-kelamaan kian gelap dan orang-orang tenggelam dalam hunian mereka masing-masing. Tiba-tiba, pertanyaan krusial nampang di tempurung; sampai kapan aku harus menanti kedatanganmu?

     Spontan, di saat keputusasaanku telah merajai, aku mendapati langit menganga bagai ikan paus hendak menelan seorang nelayan malang. Atau, lebih menyerupai Black Hole di ruang angkasa. Di antara nyala bintang dan pendar-pendar lampu taman, seseorang turun dari mulut langit. Seorang perempuan jelita dengan rambut yang menjuntai, juga mata yang indah bak purnama, tiba mendatangiku. Taman ini tampak terang benderang. Bukankah sudah kubilang, bahwa Tuhan bakal kecewa menciptakan matahari?

     Kau menepati janji. Duduklah di sampingku dan mari bercinta!

     Aku melirik jalanan, memastikan orang-orang sudah tenggelam. Sepi. Tak ada siapa pun di jalan. Hanya lalu-lalang mobil sialan. Sudah waktunya bagi kita berciuman, Sayang.

     “Apakah aku berlebihan?” tanyaku padamu.

     “Tidak, Sayang. Imajinasimu begitu kuat. Bahkan, aku yakin, kau dapat menjala ikan-ikan di laut hanya dengan imajinasi. Jalamu tak perlu basah, peluhmu tak harus keluar. Kau penyair. Cukup berimajinasi,” jawabmu dengan menatapku, semringah.

     “Apa kau sudah siap dengan ciuman?” tanyaku kemudian.

    “Kapan pun, aku siap, Sayang. Silakan cumbui aku sepuasmu. Aku tak akan mengelak seluruh nafsumu.”

     Dengan libido yang membuncah, kumajukan bibirku sedikit demi sedikit, sedangkan kau menutup sepasang matamu. Malam ini, kita bakal menyatu sebagai sepasang kekasih. Jagat raya gempar dengan pertemuan ini. Gunung Argapura pasti meletus, menguarkan aroma durjana. Orang-orang tidak akan pernah mengerti; bagaimana seorang perjaka tua sepertiku dapat mendekap tubuh seksimu. Mereka tak akan percaya!

     “Tekan aku, Repatmaja!” seru Rengganis dalam sela desahan.

    “Aku akan menekan punggungmu hingga mendekapku sempurna.” Aku berseru yakin dengan kekuatanku, dengan seruak aroma bunga-bunga taman.

    Gunung Argapura benar-benar meletus. Letusan yang dahsyat. Sekawanan binatang berhamburan seperti debu yang bertebaran. Aku tak peduli dengan gejala kemurkaan Tuhan. Rengganis tetap kudekap dan kucium berkali-kali. Ia mendesah, “Lakukan lagi, Repatmaja. Lakukan yang kuat!”

     Pandanganku kian menjurus tajam ke arahnya. Suara desahannya makin manja. Juga lampu taman yang mengerjap. Bunga-bunga yang bermekaran gugur satu per satu. Semerbak wewangian pudar. Langit kian kelam. Tubuhmu tiba-tiba menghilang! Kau menyatu sempurna dengan tubuhku. Tetapi, tubuhku seperti Argapura yang meletus. Rasanya panas. Pandanganku kabur. Rasaku lebur. Imanku hancur, hingga matahari terbit. Cahayanya menerjang rimbun taman, pepohonan, juga setumpuk pakaian yang terbelah. []

 

Jan. 2019.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar