Sumpah Pemuda dan Spirit Pemuda Millenial

Tepat pada tanggal 28 Oktober 90 tahun silam, para pemuda indonesia yang dipelopori oleh Moh. Yamin secara bersama-sama berkomitmen mengikrarkan diri dengan perjanjian suci untuk meneguhkan persatuan, kesatuan, dan rasa cita terhadap tanah air indonesia. Ikrar atau sumpah tersebut kemudian dikenal dengan istilah sumpah pemuda. Sumpah pemuda adalah kristalisasi dari kesadaran mendalam para pemuda saat itu tentang rasa cinta dan empati mereka terhadap tanah air.

Derita pejajahan yang sudah berlangsung ratusan tahun menjadi pemantik kesadaran mereka untuk ikut serta berperan dalam perjuangan bangsa yang telah lama dilakukan oleh pejuang-pejuang sebelumnya. Walau bagaimanapun pemuda adalah ahli waris dari jerih payah perjuangan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya, oleh sebab itu mereka juga ikut bertanggungjawab meneruskan perjuangan di masa lalu sampai akhirnya mengantarkan pada kemerdakaan.

Perasaan itulah yang dirasakan oleh para pelopor sumpah pemuda, bahwa spirit dan usaha perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan terdahulu harus terus dilakukan sampai tercapai cita-cita kemerdakaan. Melalui sumpah pemuda mereka berusaha untuk menyadarkan serta menyalurkan spirit kebangsaan dan nasionalisme untuk secara bersama-bersama menyatukan komitmen perjuangan. Hingga pada akhirnya kemerdekaan yang dapat diraih oleh bangsa Indonesia salah satunya juga merupakan kontribusi besar dari komitmen sumpah pemuda. Kita tidak bias memungkiri bahwa disetiap fase sejarah perjuangan bangsa pemuda juga ikut mewarnai cerita di dalamnya.

Setelah era perjuangan berlalu, momentum sumpah pemuda menjadi hari penting dalam sejarah perjuangan bangsa yang setiap tahun selalu diperingati oleh bangsa Indonesia. Bukan hanya sekedar seremonial belaka, refleksi juga dilakukan untuk memberikan pemahaman dan menyadarkan kepada pemuda saat ini tentang sejarah perjuangan pemuda di masa lalu. Harapannya pemuda saat ini dapat menanamkan spirit sumpah pemuda pada sanubari mereka agar semangat perjuangan, rasa kebangsaan, dan cinta tanah air selalu tertanam dalam jiwa mereka.

Sejarah adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal, mereka yang masih hidup, dan mereka yang belum dilahirkan (Edmund Burke). Ungkapan tersebut kiranya tepat untuk menggambarkan hubungan sejarah sumpah pemuda dengan tanggungjawab yang harus dijalankan oleh pemuda di era saat ini dan yang akan datang. Bahwa setiap lembaran sejarah perjuangan bangsa yang telah ditorehkan oleh generasi masa lalu juga memberikan pesan dan amanat yang diwariskan kepada generasi saat ini dan masa datang.

Sejarah sebagai realitas memang tidak dapat diganggu-gugat lagi karena peristiwa itu telah lewat dan berlangsung serta tidak dapat diputar ulang. Namun sejarah sebagai kisah yang dituturkan akan terus dapat dikemukakan berubah-ubah sesuai dengan perspektif zaman. Tujuannya adalah agar generasi saat ini dan masa dating tidak lupa akan cita-cita perjuangan masa lalu dan mereka akan memperjuangkan cita-cita tersebut sesuai dengan konteks zamannya.

Cara pandang Soekarno tentang masa trilogi sejarah yang dinamakan “trimurti” agaknya tepat untuk memahami sejarah sumpah pemuda dalam konteks saat ini. Soekarno membagi sejarah dalam tiga cara pandang: yaitu masa lalu yang jaya (the glorius past), masa kini yang sulit (the dark present), dan masa depan yang cerah (the promising future atau the golden future). Cara pandang tersebut menarik untuk digunakan dalam melihat persoalan mendasar tentang problem kebangsaan dan pasang surut rasa nasionalisme pemuda Indonesia yang kemudian dikaitkan dengan spirit sumpah pemuda.

 

Refleksi Kebangsan; The Dark Present

Tak terasa bangsa tercinta kita sudah memasuki usia yang ke – 73 tahun. Bukan waktu yang sebentar bangsa kita telah berhasil merasakan kemerdekaan. Namun di usia tersebut masih banyak sekali persoalan yang melanda bangsa ini. Memang benar jika kita merefleksi tentang kondisi bangsa saat ini masih banyak sekali permasalahan-permasalah yang dialami oleh bangsa ini. Coba kita analisis beberapa permasalah krusial yang dialami bangsa ini. Kita mulai dari persoalan kesejahteraan dan ekonomi.

Berdasarkan data dari Badan Statistik Indonesia (BPS) jumlah kemiskinan di Indonesia pada tahun 2014 mencapai 27,73 juta orang/jiwa 10,96 persen dari jumlah seluruh penduduk Indonesia dan turun menjadi 9,82 persen atau sekitar 25,95 juta jiwa pada tahun 2018. Jumlah tersebut merupakan angka yang masih cukup besar jika diukur dengan potensi dan sumber daya alam kita yang begitu kaya dan melimpah ruang. Tidak sombong jika kita mengatakan bahwa Indonesia ini adalah bangsa yang kaya raya, karena potensi dan sumber daya alam kita bagitu melimpah ruang.

Tapi sayangnya potensi dan kekayaan alam tersebut tidak mampu dimanfaatkan untuk mensejahterakan rakyatnya. Ladang-ladang kekayaan di negeri ini hanya dikuasi oleh segelintir orang saja, dan bahkan yang lebih ironis beberapa lumbung ‘harta karun’ di negeri ini dikuasai oleh pihak asing yang justru sama sekali tak pernah dirasakan manfaatnya oleh bangsa sendiri. Yaa.., itulah fakta ironis yang terjadi pada bangsa kita saat ini, biar bagaimanapun sudah seharusnya sumber daya alam negeri ini dikelola oleh Negara dengan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan rakyatnya, karena itu merupakan amanat UUD dan implementasi dari cita-cita kemerdekaan. Tidak boleh diserahkan pada segelitir kaum ‘borjouis kapitalis’ dan Negara lain yang justru tidak bisa dinikmati bangsa sendiri dan bahkan menyengsarakan bangsa sendiri.

Tidak hanya masalah di atas, asset dan kekayaan negeri ini telah banyak dikuasai oleh pihak asing. Coba kita analisis beberapa persoalan terkait dengan kekayaan negeri ini sebagai bahan refleksi bagi kita semua. Berdasarkan catatan BPK dominasi pihak asing di sector Migas 70%, batubara, bauksit, nikel, dan timah sebesar 75%, tembaga dan emas sebesar 85%. Kemudian di sector minyak, penghasilan minyak utama didominasi oleh pihak asing, sedangkan Pertamina sebagai perusahaan nasional hanya menguasai sekitar 16%.  Dari total 225 blok migas yang dikelola Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) non-Pertamina, 120 blok dioperasikan oleh perusahaan asing, 28 blok dikelola oleh perusahaan nasional, dan sisanya adalah kerjasama asing-nasional.

Dalam sector retail dan produk-produk makanan-minuman, kita tahu ada raksasa retail yang menguasai lebih dari 80% produk retail di Indonesia, saking kuatnya dominasi perusahaan tersebut bahkan di daerah pelosok sangat terpencil pun produk-produk unilever tidak akan sulit untuk didapatkan disana. Jika kita melihat fakta tersebut, begitu lemahnya posisi Indonesia untuk melindungi dan memanfaatkan asset dan potensi kekayaan sumberdayanya. Wajar jika sebagai bangsa pribumi sendiri sangat sulit untuk mencari pekerjaan di rumahnya sendiri yang kaya, karena sekecil apapun peluang yang ada di Indonesia tidak pernah lepas dari jangkauan pihak-pihak asing dan segelintir kaum borjouis.

Dalam konteks politik, permasalahan-permasalahan lama masih saja mendominasi, semuanya tidak terlepas dan diawali pada persoalan ‘kepentingan, kekuasaan, dan kekayaan’. Tiga hal itu tidak bisa dilepaskan dari dunia politik, bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Disisi lain, urusan politik tidak bisa dilepaskan dari urusan pemerintahan dan kebijakan. Akibatnya control kepentingan dan kekuasaan yang tidak bisa dimanej dengan baik berimplikasi pada pola pengambilan kebijakan yang semrawut, asal-asalan dan tidak populis (tidak berpihak pada rakyat).

Persoalan tersebut semakin tambah ruwet saja jika terjadi benturan-benturan kepentingan pribadi dan partai politik. Dampaknya, terjadi disintegrasi dan tidak selarasnya pola pemerintahan lembaga-lembaga pemerintahan yang bertugas untuk menjalankan fungsinya guna mensejahterakan rakyat. Coba kita fikirkan, mau dibawa kemana bangsa ini jika para elit politik kita masih sering bertikai memperebutkan kursi dan jabatan, serta saling memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongan mereka sendiri tanpa mempertimbangkan sama sekali kepentingan bangsanya. Aahhh… terlalu pusing sebenarnya jika kita memikirkan para elit politik kita.

Dalam bidang social agama, lebih dari satu dasawarsa terakhir kedaulatan bangsa kita sedang diuji dengan semakin banyaknya muncul persoalan tentang disintegrasi bangsa. Dari berbagai persoalan tersebut yang menarik untuk dikaji adalah semakin banyaknya aliran-aliran garis keras yang mengatasnamakan agama menyebar terror dan intimidasi untuk menghancurkan kesatuan NKRI. Sebagai contoh, gerakan-gerakan Islam Radikal dengan berbagai ‘wajah’ dan strategi gerakannya berusaha untuk menghancurkan kedaulatan NKRI dengan dalih ingin menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam berdasarkan system khilafah dan sebagainya. Yang harus kita tahu, bahwa Indonesia tidak dibangun hanya berlandaskan satu ideology saja, akan tetapi Indonesia bisa menjadi Negara kesatuan yang besar dibangun berdasarkan suatu pemahaman tentang nilai-nilai pluralism, multikulturalisme, prinsip kesatuan yang melebur menjadi satu nilai dan ideology yaitu Pancasila. Oleh sebab itu Pancasila dan NKRI adalah HARGA MATI.

Dalam konteks budaya, semakin lama semakin banyak persoalan tentang kebudayaan yang melanda bangsa ini. Semua persoalan tersebut tak terlepas dari modernisasi global yang masuk di Indonesia. Modernisasi selalu diwarnai dengan kemajuan peradaban suatu bangsa. Mulai dari bidang teknologi, lifestyle, dan bidang kehidupan lainnya. Ada sisi negative ada pula sisi positifnya dampak dari modernisasi. Persoalan muncul jika modernisasi hanya dimaknai sempit sebagai perkembangan dalam bidang teknologi dan lifestyle.

Perlu kita ketahui, lifestyle (gaya hidup) yang datang dari luar selalu diwarnai dengan nilai-nilai budaya dimana gaya hidup itu lahir, misalnya; lifestyle dari barat berarti diwarnai gaya hidup kebarat-baratan. Kemudian, dalam teori budaya jika ada penetrasi budaya baru yang masuk dari luar, maka ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu akulturasi atau asimilasi, pertama; budaya baru tersebut akan berakulturasi dengan budaya local yang ada sehingga bisa menciptakan nilai-nilai budaya baru tapi tanpa menghilangkan budaya local, kedua; budaya baru tersebut akan berasimilasi terhadap budaya local dan dampaknya bisa menghilangkan cirri dan identitas budaya local dan membentuk budaya baru. Jika persoalan kedua yang terjadi, maka dampaknya akan mengakibatkan krisis identitas budaya yang dialami oleh suatu bangsa.

Terakhir, semoga di momentum sumpah pemuda nanti menjadi titik awal dalam sejarah baru kejayaan bangsa ini. Semoga bangsa kita segera terlepas dari persoalan-persoalan yang sudah melilit selama puluhan tahun. Semoga bangsa kita bisa menjadi bangsa yang maju, dengan peradaban dan budaya yang maju, rakyatnya sejahtera semua, damai, tentram, makmur, gemah ripah loh jinawi. Al-Fatihah…. Amiiinn.

Wahyu Saputra

Wahyu Saputra

Dosen Hukum IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar