Stereotip Kecerdasan Berdasarkan Kemampuan Numerikal Pada Peserta Didik

“Kemampuan numerical adalah kemampuan yang mengukur kemampuan berfikir dengan angka dan penguasaan hubungan numeric” (Tertera pada hasil test psikotes CV. SOMA PUTRA INDOTAMA). Topic ini menarik bagi calon guru, khususnya pada mata pelajaran numerical (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Mengapa menarik? Lebih dari 60% guru di tingkat SD (Sekolah Dasar) dan SMP (Sekolah Menengah Atas) pada mata pelajaran matematika meng-klaim bahwa siswa yang cerdas dan cakap dalam bidang matematika merupakan siswa yang ‘pintar’. Hal ini merupakan stereotype yang benar-benar salah. Stereotype ini mengakibatkan masalah pendidikan di Indonesia semakin bertambah. Hal ini terbukti dengan sistem pendidikan di Indonesia yang lebih melihat sudut pandang ke-‘pintar’-an peserta didik melalui sistem pendidikan yang ada di Negara ‘barat’ tanpa memperhatikan potensi sumber daya manusia yang khas dan hanya di miliki oleh peserta didiknya.

Guru hanya memandang ke-‘pintar’-an berdasarkan ‘matematika’ pada anak didik karena diperkuat dengan semua jalur Tes, termasuk untuk memasuki jajaran PNS dan sebagainya memerlukan kemampuan numerical pada dasarnya. Bahkan, untuk alasan yang seperti ini diperkuat oleh pihak ‘Psikiater’ yang mengatakan bahwa ‘Tingkat berfikir seseorang di dasarkan pada kemampuan numerical’. Dengan realitas, dapat dikatakan untuk semua bidang ‘peminatan’ keilmuan di monopoli oleh ‘matematika’ dalam jajaran bidang academia. Hal ini semakin memotivasi para guru untuk ‘menjejalkan’ mata pelajaran matematika kepada para peserta didik di luar batas kemampuannya. Secara tidak langsung, ini merupakan tindakan yang salah bahkan dengan alasan matematika merupakan bidang keilmuan yang ‘penting’.

Dengan dalih matematika dapat menentukan ‘masa depan’ peserta didik, Guru tidak memperhatikan bidang ‘peminatan’ yang anak didik ingin capai. Sebagian guru memotong seluruh akses untuk menuju jalan ‘peminatan’ yang ingin ditempuh peserta didik. Guru merubah semua minat dan bakat peserta didik dengan memonopoli semua yang masuk ke dalam kehidupan siswa. Memang, matematika mempengaruhi seluruh kajian ilmu pengetahuan dan bidang pekerjaan, tapi  tidak untuk di-‘jejal’-kan secara berlebihan kepada peserta didik. Alasannya, kecerdasan siswa tidak hanya terpacu dalam bidang ‘matematika’. Hal ini bisa digambarkan dengan siswa yang cakap dan mampu dalam bidang olahraga tidak terlalu memerlukan bidang kajian ‘matematika’ untuk dikatakan ‘cerdas’. Dengan kata lain seorang komponis lagu tidak akan memerlukan sederetan rumus ‘matematika’ untuk menaikkan jenjang kariernya.

Dalam konteks ini, ke-‘cerdas’-an siswa seharusnya dapat ditentukan oleh siswa sendiri tanpa dicampur tangani oleh guru. Hal ini terjadi ketika pendidikan yang mengakar di Indonesia dikategorikan dalam pendidikan yang menganut sistem parsial (tingkat pelajaran sesuai usia) khususnya dalam bidang matematika, tipe pendidikan seperti ini akan menimbulkan permasalahan pembatasan ‘minat’ dan ‘bakat’ yang dimiliki oleh siswa.  Berkaca pada sistem pendidikan yang berlaku di Negara Finlandia mereka justru mendukung ‘bakat’ dan ‘minat’ peserta didiknya dalam berbagai macam kegiatan pembelajaran tanpa batasan metode dan kurikulum pembelajaran.

Sistem pendidikan di Indonesia ini juga menimbulkan ‘mindset’ orang tua bahwa anak yang mempunyai nilai yang ‘kurang memuaskan’ pada bidang matematika merupakan anak yang ‘kurang pintar’. Bahkan, penanaman nilai ‘kesuksesan’ pada akhir pendidikan pada masyarakat merupakan insinyur yang pandai dengan jabatan yang tinggi. Jika factor keluarga dan masyarakat tersebut mempengaruhi sistem belajar siswa dengan mendorong siswa ke dalam bidang keilmuan yang tidak diminati sama sekali oleh siswa maka pada akhir pendidikan akan terjadi ‘kegagalan’ mencapai ke-‘cerdas’-an bidang yang diminati oleh siswa.

Akibat dari stereotype ini akan melahirkan ke-‘terbelenggu’-an bakat dan minat peserta didik dan akan berakhir pada penurunan SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada pada Generasi Muda Indonesia. Penurunan SDM ini akan menimbulkan berbagai masalah dalam bidang ekonomi, sosial-budaya, dan kesetimpangan pada masyarakat. Bahkan, bisa saja akan menghambat tingkat kemajuan bangsa dan Negara Indonesia. Jika pendidikan hanya akan menghasilkan ‘kegagalan’ dan ‘penurunan SDM’ mengapa pendidikan diadakan?

Terkait dengan jawaban di atas, bukankah menuntut ke-‘profesional’-an seorang guru yang sesungguhnya. Menuntut keadilan pembelajaran tanpa diskriminasi bidang kajian ke-‘ilmu’-an. Proses yang efisien dan efektif untuk memperbaiki kader-kader penerus bangsa, bukan malah menghancurkan generasi. Guru harus mampu bersaing menciptakan generasi yang cakap dan tanggap terhadap perkembangan zaman dengan basis technology. Hal ini karena guru adalah poros utama pendidikan yang berkualitas. “jika seorang guru gagal dalam mendidik, berarti ada sesuatu yang tidak benar pada cara mendidiknya”

Mulyaningsih

Mulyaningsih

Mahasiswa Tadris IPA IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar