Skafisme

AKU masih berada di tepi rawa dan memikirkan bagaimana cara membunuh Baidar. Kupikirkan tubuhnya ditutup dengan dua perahu yang ditangkupkan dan sedikit berlubang yang terlebih dulu (tubuhnya) kulumuri susu dan madu pada bagian mata, telinga, mulut, anus, serta penisnya. Lambat laun, serangga-serangga itu akan menyerangnya secara brutal dan ia mati dengan cara yang menyedihkan.

Baidar memang pantas mendapatkan siksaan macam itu. Bukan hanya aku belaka, seluruh penduduk di kampung ini dan gadisgadis serta jandajanda juga menyepakatinya. Salah seorang yang paling cepat sepakat ialah Alamanda. Setelah kuusulkan metode penyiksaan demikian di sebuah rawa, Alamanda dengan segera berucap, “Aku tidak sabar melihat penisnya dimakan belatung.”

“Jangan,” kataku, melirik matanya, “kau tak akan kuat melihatnya.”

“Mataku lebih perih ketika melihat lubang selangkanganku ditusuk secara tidak manusiawi oleh tongkat berlendirnya itu.”

Tidak ada balasan apa pun untuk kalimat Alamanda. Kupikir, Baidar memang pantas mendapatkannya. Itu jatahnya, balasan dari perbuatannya selama tiga bulan belakangan ini. Tiga bulan yang amat kelam lagi menyedihkan.

Tiga bulan yang lalu, Isabel, istriku, melapor, “Lelaki itu mirip anjing. Ia menarik lenganku di sebuah gang sempit yang busuk. Kemejaku dirobek di bagian itu dan ia merobek lagi di bagian lain.”

“Apa ia menyetubuhimu?”

“Aku sempat berteriak sebelum mulutku dibungkam oleh telapak tangannya.”

“Ia sudah menyetubuhimu?”

“Dan, aku merasa beruntung karena diberkahi gigi yang sedikit runcing untuk mencacah tangannya sedikit demi sedikit.”

“Katakanlah, apa bajingan itu menyetubuhimu?”

“Sialnya, jawaban dari pertanyaanmu itu terlalu menyakitkan untuk kaudengar. Aku memang berhasil membuat telapak tangannya menderita. Tetapi, apa yang kemudian terjadi jauh lebih menderita daripada sekadar gigitan.”

Bermula dari kejadian tersebut, tidak ada yang kupikirkan dari Baidar selain kematiannya. Pikiranku terlampau sadis apabila nasib buruk itu hanya menimpa istriku semata. Nyatanya, tujuh perempuan menyusul, melaporkan nasib mereka yang sama buruknya dengan Isabel kepadaku, sebelum sehari kemudian nyawa mereka yang melaporkannya pada Tuhan.

Aku masih ingat, bagaimana Laela datang padaku dengan napas tersenggal. “B-Ba-Bajingan itu m-mencekoki lambungku dengan a-arak sebelum mencekoki lubang s-se-selangkanganku dengan cairan yang menyebalkan,” begitu katanya.

Laela adalah seorang dari enam perempuan yang bernasib malang. Sehari setelah ia melapor padaku, kutemui mayatnya mengapung di rawa. Tiada yang mengiringi kematiannya selain pikat dan beberapa ekor belatung. Sungguh ironi. Seharusnya ia berada dalam lubang kubur dengan tenang dan dengan peziarah yang mengiringi serta mendoakannya.

Kematian Laela merupakan kematian korban kekejian Baidar yang terakhir. Setelah ia membunuh perempuan lajang itu—yang entah dengan cara bagaimana ia membunuhnya, aku berhasil menangkap Baidar dan menyeretnya ke tepi rawa.

“Katakanlah, apa maumu?” Aku menantangnya.

“Menyetubuhimu, tentu saja.”

“Aku bukan perempuan jalang!”

“Ya, tapi kau punya lubang anus dan itu cukup bengis untuk menyetubuhi pahlawan kesiangan sepertimu,” sahut Baidar dengan tubuh beralas tanah lembap. Beberapa kadal berlarian masuk ke semak belukar.

“Lakukan jika kau mampu.”

Baidar sejenak diam. Barangkali, ia sedang mencari cara: bagaimana mengawali suatu serangan yang mematikan pada seorang mantan preman yang puluhan tahun telah menjaga kampung ini. Tetapi, kenyataannya aku salah menduga.

“Apa kau ingat Alamanda?” tanya Baidar.

Tentu saja aku ingat. Alamanda adalah anak semata wayangku yang jelita. Rambutnya hitam berkilau dan sedikit bergelombang, matanya menyala seperti bulan purnama dan orang-orang yang menatapnya seketika jadi gila. Mungkin aku terlalu berlebihan jika menganggap Alamanda merupakan perempuan tercantik sekaligus termuda di kampung ini (usianya baru delapan belas tahun).

Semenjak kasus pemerkosan dan pembunuhan yang dilakukan Baidar naik daun, Alamanda tak kutemui di rumah dan aku curiga, sesuatu yang buruk sedang menimpanya. Baidar? Tentu saja ia orang pertama yang kucurigai.

“Di mana anakku?”

“Seharusnya kau sudah tahu.” Baidar menggerakan tangannya, menyangga tubuhnya, berposisi duduk. “Untuk apa menjadi ketua preman jika tak kaukerahkan anak buahmu untuk mencarinya?”

“Aku bukan preman.”

“Di mataku kau tetaplah preman.”

Baidar menggerakkan tangannya sekali lagi—kali ini beserta kakinya, mencoba berdiri. Ia sedikit goyah—barusan, sebelum menyeretnya ke tepi sungai, aku telah memukulnya berkali-kali.

“Aku tidak salah menculik Alamanda dan sedikit bermain dengannya.”

“Kau hypersexual!”

“Aku cuma balas dendam.”

“Balas dendam?”

Tanpa kuduga sebelumnya, Baidar memukulku tepat di pelipis. Aku tertumus di atas rumput liar yang lembap. Sedetik kusadari bahwa ia berhasil menemukan cara mengawali serangan yang mengagumkan.

“Sembilan belas tahun yang lalu, kau telah mengambil Isabel dariku. Bukan berarti kau lebih baik dan lebih tampan dariku. Hanya saja, kau seorang preman sedangkan aku hanya anak ingusan yang takut buang air kecil sendirian. Kau dapat melakukan apa pun yang kau mau dan ketika apa yang kau mau tidak tercapai, kau tinggal memukul seseorang yang mencegah kemauanmu itu,” kata Baidar, berapi-api.

“Isabel jatuh cinta padaku.”

“Jatuh cinta?” Baidar mendekat ke arahku. Bibirnya sedikit menyeringai. “Kau mengancam akan membunuh seseorang yang berani mendekati Isabel dan kaupaksa perempuan itu supaya menikah denganmu, apakah itu yang dimaksud jatuh cinta?”

Aku terdiam lama ketika ia menambahkan, “Kaulah bajingan sesungguhnya. Belasan tahun aku memikirkan cara balas dendam yang tepat untukmu. Kau tidak hanya melukai fisikku. Kau juga merebut separuh jiwaku dan itu lebih menyakitkan daripada memukul wajahku berkali-kali.”

“Kau sudah merasa puas?” celetukku.

“Telah kusetubuhi Isabel di malam yang menyedihkan dan telah kurenggut masa depan Alamanda. Itu lebih dari sekadar memuaskan. Lihatlah, keluargamu dan hidupmu sudah hancur!” kata Baidar, sebelum tersenyum kecut.

Namun, sebelum ia benarbenar merasa puas dengan senyum dan sedikit ketawa jahatnya, seseorang lebih dulu memukul pundaknya dari belakang dengan sebilah bambu besar. Pukulan itu membuat tubuh Baidar tertumus di samping rawa.

Kulihat barisan warga datang dengan membawa beberapa celurit dan bilah bambu dan obor dan apa pun yang mereka ambil sekenanya. Alamanda muncul di antara orang-orang itu. Isabel merangkul tubuhnya erat-erat, seolah tidak ada yang boleh meculiknya, apalagi menyetubuhi tubuh mulusnya.

“Tinggal menunggu waktu bagi kematianmu.” Aku berdiri, membersihkan rumput-rumput dan tahi tikus yang menempel di bajuku.

Baidar telah jatuh di tepi rawa akibat pukulan itu dan kuterka pukulan itu telah meremukkan tulang-tulangnya. Seharusnya, ia mengerang dan menjerit karena terluka. Nyatanya, Baidar justru meringis. Tubuhnya kebal pukulan.

Seseorang yang memukulnya itu meminta beberapa warga untuk mengangkat tubuh Baidar. Sesegera orangorang meletakkan senjata mereka dan mengangkat Baidar, berniat menyiksanya sebelum memendam tubuhnya ke dalam tanah. Dua lelaki berposisi akan memukul bajingan itu. Tetapi, aku lebih dulu menahannya. Dan mereka urung menyiksa lelaki pemerkosa itu dengan cara memukul seluruh bagian tubuhnya berkali-kali.

Kupikirkan bagaimana cara membunuh Baidar. Tentu saja, sebelum seberani itu memerkosa belasan perempuan kampung, Baidar lebih dulu belajar ilmu kebal. Ia bawa azimat. Memukulnya berkali-kali pastilah tindakan yang sia-sia.

“Orang ini tak akan mati dengan pukulan.”

“Lalu, bagaimana cara membunuhnya?”

Aku pernah mendengar skafisme, metode penyiksaan kuno. Maka, kuusulkan metode itu dan ternyata seluruh warga yang berdiri di tepi rawa menyetujuinya, termasuk Alamanda. Ia yang paling cepat mengangguk.

Tubuh Baidar akhirnya diikat di dalam perahu milik salah seorang warga yang telah rapuh. Perahu itu dilubangi di beberapa bagian—tidak termasuk di bagian bawah. Tujuan dari pelubangan itu ialah sebagai tempat masuk seranggaserangga. Untuk menarik seranggaserangga masuk ke situ, Baidar lebih dulu dijejali susu dan madu sampai kenyang. Dan, ketika perutnya mengembung, sisasisa susu dan madu itu digunakan untuk melumuri seluruh tubuhnya yang telanjang.

“Pertama-tama, ia akan buang air besar di perahu itu karena efek samping susu dan madu yang telah ia telan.” Aku memberikan perkiraan. “Puluhan lalat bakal merubung anusnya dan selangkangannya. Bau busuk memberikan sinyal yang kuat pada mereka. Dan, kedua, kita perlu menutup perahu itu dengan perahu lain yang ditangkupkan. Aku ingin melihatnya sesak napas!”

Tanpa basa-basi, beberapa warga segera melaksanakan usulku. Azimatnya tak bakal berperanguh dengan metode itu. Bagiku, menjadikan binatang sebagai pembunuh Baidar merupakan cara membunuh yang alami. Pembunuhan primitif. Lagi pula, binatangbinatang itu—para serangga—tidak memiliki secuil dosa.

Akhirnya, tubuh Baidar dihanyutkan ke rawa. Tentu tidak benarbenar hanyut. Sepasang perahu itu hanya akan membawanya ke tengah, ke medan penyiksaan yang menyedihkan. Baidar akan mati dan meninggalkan sejarah penyiksaan dan pembunuhan dengan metode skafisme pertama kali di kampung ini.

“Penjahat itu akhirnya mengalami kematian yang tragis,” pungkasku, sambil berkacak pinggang dan melihat sepasang kapal itu makin lama makin mengecil dan ratusan serangga menyerbunya sebelum tubuhnya tenggelam ke neraka.

Di sela-sela kekhidmatan prosesi penyiksaan terhadap Baidar dan kepuasanku menyaksikan bajingan itu mengerang, tibatiba Isabel berbisik, “Hmm… jangan bangga dulu. Ada seorang lagi yang belum kaubunuh.”

“Siapa?”

“Seseorang dalam perutku,” ucap Isabel yang seketika membuat tempurungku mendidih. ***

 

/Dolopo, Juni 2019

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar