Siapa yang Bernyanyi di Kamar Mandi?

JAM sebelas malam, aku terbangun. Telingaku kemalingan. Surai-surai gorden tersibak, kaca jendela bergetar, jam dinding miring, dan kasurku berkerinjang. Ada suara yang menggelegar—yang entah dari mana asalnya. Dan, suara itu bukan suara warga dusun sebelah—yang kerap kali berjudi di pos kamling dekat pasar dan berteriak kencang ketika salah satu dari mereka menang taruhan (suara itu lebih mirip “nyanyian”).

Aku masih menyetubuhi selimut ketika suara itu kian kencang dan parau. Sungguh aneh. Siapa pula yang bernyanyi di tengah malam begini? Dan, siapa pula yang sudi mendengarkannya? Seandainya pohon berbuah di belakang hotel ini punya telinga, ia akan ranggas seumur hidup! Atau, bila rembulan dapat mendengar, ia akan tuli dan terbelah. Hingga, langit bakal sepekat kopi yang sering kusesap di balkon hotel sendirian.

***

Chris Cornell, datang beberapa jam sebelum nyawanya jatuh tempo. Seorang pengawal pergi keluar, membeli wiski.

Sebelum bernyanyi, biasanya Chris Cornell menegak wiski. Kebiasaan itu dimulai ketika ia berada di bar, dekat persimpangan jalan—yang entah dinamai apa jalan itu. Di situ, pelayan mondar-mandir menaruh sebotol wiski ke meja. Pengunjung berjubel, seperti antre sembako. Bila sebotol wiski itu telah diletakan di meja, pengunjung akan berebut, membuka, lalu menuangkannya ke seloki sampai melembak. “Tiada ampun bagi wiski,” begitu kata mereka.

Seorang pelayan tanpa sengaja menumpahkan seseloki wiski ke kemeja Chris Cornell waktu itu. Si pelayan tampak terburu-buru. Rona wajahnya melindap seketika. Sepertinya ia sadar: ancaman besar sedang membuntut. Tentu saja, ia tidak bermaksud begitu. Jangankan menuangkan minuman keras itu ke kemeja, melihat meja kotor atau lantai bercampur muntahan pengunjung saja, para pelayan di sana bakal bergidik. Sebab, bos mereka amat “kejam”.

Untung saja, Chris Cornell lekas menyeka kemejanya dan tak memper-panjang masalah itu.

Cornell muda, pada saat itu diajak oleh seseorang yang tak ia kenal—yang mengaku sebagai vokalis. Cornell menurut. Karena itulah, ia berada di bar ini dengan wajah tegang dan sedikit cemas. Ia baru kembali tenang setelah seseorang yang mengaku vokalis itu berbisik ke telinganya, “Ini obat depresi yang tak kautemukan di apotik mana pun,” sambil mengangkat seseloki wiski.

***

Aku membuka pintu, mencari sumber nyanyian yang mengerikan itu. Tiap kamar di hotel MGM Grand Detroit ini memiliki toilet di dalamnya. Artinya, aku harus bersabar melangkah dari kamar satu ke kamar lainnya. Anehnya, begitu kakiku telah jauh meninggalkan kamarku, suara itu kian redup, seperti radio mulai kehabisan baterai.

Sesampainya di kamar nomor 202, aku berhenti melangkah. Aku mulai sadar: betapa bodohnya aku. Mengapa tak kuprotres saja pegawai di sini? Lagi pula, aku tidak merasa sedang “dimuliakan”. Mana tip untuk si Bell Boy besar pula. Dan, segala makanan serta pelayanan di sini juga seharga langit.

Karena itulah, aku turun, menemui “concierge”, dan berniat, melontarkan cacian paling sarkas tepat di kupingnya.

***

Pengawal Cornell baru tiba ketika matahari mati. Ia membawakan sebotol wiski untuk majikannya. Malam ini, Cornell tampak kusut. Berulang kali, Vicky Karyanianiss meneleponnya dan tak sekalipun vokalis Soundgarden itu—dengan kerendahan hati—mengangkat panggilan istrinya. Tampaknya, ia tidak sedang baik-baik saja. Dan, tampaknya pula, ia termakan dengan ajakan seseorang yang mengajaknya ke bar untuk kali pertamanya. Cornell percaya, suaranya bakal lebih “menakutkan” setelah menegak wiski dan sebelum berdiri di atas Fox Theater dengan gagah.

***

Nyanyian itu masih tetap terdengar. Aku telah putus asa dan merasa sia-sia ketika mendatangi resepsionis dan mereka mengatakan tidak tahu tentang “bunyi tanpa etika itu”. Ingin sekali aku menodongkan senapan ke batok kepalanya dan memintanya berdoa; ‘semoga aku tak dilempar ke Jahanam.’ Sialnya, aku terpaksa menahan amarah di tempat umum seperti ini. Mau tidak mau, aku harus menyumbat mulut “penyanyi gila itu” sendirian.

Aku kembali ke kamar.

Di depan pintu kamar, aku mendengar nyanyian itu. Ya, nyanyian itu kian kencang dan kejam. Firasatku tertuju pada kamar mandi. Hahh, kamar mandi di kamarku? Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Pintunya telah kukunci sedemikian rapat. Aku tak sudi seseorang memasuki ruanganku tanpa izin. Dan, bila perlu, aku bakal menelan kuncinya. Aku tak suka diganggu.

***

Rabu Malam yang kelam, Chris Cornell menggila di atas teater. “Wiski” telah membuatnya kian buas. Sorak semarai penonton membikin panggung bergemuruh dan garang. Salah seorang penonton naik ke atas panggung, ikut bernyanyi dengan suara yang lebih mirip “kaleng bekas tak berguna”. Sebagian yang lain berjingkrak-jingkrak, seperti menang undian. Bingo!

Rasanya, pesta baru saja dimulai, mikrofon baru saja dinyalakan, tetapi jam dinding sudah mengantuk, menunjuk angka setengah sebelas. Karena sudah larut, Chris Cornell—membuntut di belakangnya, si pengawal—turun dari panggung. Mereka kembali ke hotel MGM Grand Detroit. Sebab, sebuas apa pun ia di atas arena, vokalis Soundgarden itu tetap saja manusia, yang butuh kasur, butuh ucapan “selamat malam” paling manis.

“Aku sudah lelah!” begitu kata Chris Cornell setelah “limbung” di kasur hotel. Ia menjawab panggilan istrinya dengan kalimat sehemat itu.

“Kau butuh istrirahat,” kata Vicky Karyanianiss.

“Tidak. Aku butuh Tuhan.”

“Ehem. Kau harus membersihkan dirimu. Pergilah ke kamar mandi,” pungkas Vicky, sesaat sebelum menutup telepon.

***

Langkahku berhenti di kamar mandi hotel—di dalam kamarku. Sungguh jelas. Nyanyian itu berasal dari sini. Aku yakin benar. Tak perlu membuang waktu untuk segera mendobraknya, lalu menyumbat mulut “penyanyi gila itu” dengan ujung senapan atau stick baseball. Ia harus membayar kegaduhan ini. Aku mulai tak waras karena dipaksa mendengarkan suara “merdunya”

Aku mendekat, meletakkan telinga ke daun pintu. Setelah itu, aku mulai sadar: ini lagu mirip dengan lagu yang sering kunyanyikan. Ya, aku sering menyanyikan lagu ini ketika pikiranku meletus, serupa gunung purba yang ratusan tahun membisu dan sekalinya berbicara, ia mengeluarkan erupsi paling mematikan dengan radius ribuan kilometer.

Ketika pintu itu kubuka, aku melihat sesuatu yang “sangat menakutkan” dan tak asing di mataku. Orang Eropa yang bertubuh kekar, mata tajam, dan rahang yang kuat, dan dengan temali yang menggulung lehernya. Mustahil! Sungguh mustahil. Ternyata, orang itu—seseorang yang sedang bernyanyi di kamar mandi hotel itu—ialah “diriku sendiri”. []

/Wkp. Djangkrik, 2019

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar