Senja Pinggir Kota Dari Gumira

Aku yang baru saja memarkirkan sepeda motorku dengan tenaga yang masih tersisa sehabis mencari senja. Senja yang sudah enam puluh detik tadi termakan temaram. Kini tubuhku yang terasa lelah ingin segera bersemayam ke pulau kapuk. Aku melangkah dengan gontai seperti terbawa angin ke ufuk barat dan timur. Tas di punggungku tak terisi apa-apa. Hanya ada kamera beserta perlengkapan lainnya yang tadi kugunakan untuk mencari senja.

Senja yang hanya ada di pinggiran kota, yang membuatku harus rela menjadi penunggu senja untuk beberapa minggu ini. Hanya demi tugas kuliah yang sebenarnya sangat mengherankan bagiku. Bagaimana mungkin mahasiswa semester pertama diberikan tugas mencari senja yang hanya ada di pinggiran kota, yang hanya ada pada saat manusia tidak mencarinya.

Aku harus sembunyi-sembunyi untuk mencari senja dengan lensa kamera. Karena senja yang satu ini sangatlah pemalu, ketika cahaya flash yang berasal dari lensaku menyala, seketika senja itu meredup. Entah bagaimana, Tugas ini sangat menyusahkanku. Tidak semudah seperti seorang Seno yang dengan gampangnya memotong senja dan dimasukkannya ke dalam sakunya, lalu diberikan kepada kekasihnya- Alina. Ah, sungguh kejam sekali dosenku itu.

Setiap hari aku harus bergelut dengan cuaca. Terkadang mendung menggangguku untuk menemukan senja di pinggir kota itu, terkadang hujan juga membuat senja malu-malu untuk menampakkan diri, hingga temaram yang setiap kali datang selalu memakan senja bagianku. Sungguh, hari-hariku hanya dipenuhi dengan lika-liku mencari senja pinggir kota.

Senja pinggir kota tiba-tiba membuatku lupa akan tugas kuliah lainnya. Bagaimana tidak, hari-hari kujadikan hari yang tak seperti hari. Waktu tak kuanggap lagi sebagai waktu. Yang ada hanya senja di pinggir kota. Hingga pada hari di mana tugasku untuk mengumpulkan senja kepada dosen yang kuanggap kejam itu tiba. Namun, tak ada sejepret senja di lensa kamera yang dapat kutangkap. Yang ada hanya sepotong senja dari Seno.

Aku mendapatkan senja itu satu hari sebelum pengumpulan senja. Kupaksakan diriku untuk menemui Seno. kupastikan aku bisa bertemu dengannya saat itu juga, hanya untuk meminta sepotong senja. Aku tidak berharap ia memberikan sepotong senja yang asli yang pernah ia berikan kepada Alina, cukup senja yang palsu yang pernah ia temui di lorong bawah tanah ketika ia dikejar oleh polisi karena mencuri senja asli.

Tanpa membuat janji terlebih dahulu, tanpa ada persiapan kata-kata untuk kuutarakan kepada Seno, aku langsung tanjap gas menuju rumahnya. Setelah dua kali fajar kulewati, akhirnya aku sampai di kediaman Seno. Kulihat rumahnya tiada gerbang tinggi yang biasanya menutupi ruang pribadi, yang ada malah hamparan taman asri dengan air mancur di tengahnya yang berbentuk buku yang terbuka dan terdapat pena yang mana air mancur itu keluar.

Depan rumahnya dikelilingi pagar yang terbuat dari bambu sederhana yang juga dibentuk seperti pensil yang ujungnya menancap di tanah, sempat kukira rumah itu terkesan seperti taman literasi. Tak sampai aku melihat-lihat rumah depan Seno, tiba-tiba muncul sesosok makhluk yang bercirikan rambut panjang berwarna putih dengan mata yang berkacamata. Ia menampakkan diri dengan secangkir kopi dan sebuah buku di masing-masing tangannya.

Ketika dia melihatku yang sedang berdiri di depan rumahnya, ia langsung bersuara hai nak, apa kau ingin meminta sepotong senja palsuku? Katanya yang membuatku heran, bagaimana ia tahu bahwa niatku datang kemari adalah meminta potongan senjanya. Kemudian ia mengisyaratkan dengan tangan yang membawa buku kepadaku untuk masuk mengikutinya. Aku mematuhi perintahnya, aku ikuti langkahnya melangkah. Hingga sampai di mana aku dan dia di suatu tempat yang aku sendiri bingung menjelaskannya dengan kata-kata.

Tempat itu tidak seperti tempat, tapi jika tidak dikatakan tempat tetap saja itu sebuah tempat. Kemudian aku bertanya kepadanya, apakah nama tempat itu. Dia tidak menjawab, malah memberikan sebuah isyarat perintah kepadaku untuk diam. Aku mengikuti perintahnya, namun semakin aku diam semakin membuatku penasaran tempat apa itu, bagaimana ada tempat semacam itu di dunia ini.

Di tempat itu ada banyak potongan senja yang tersusun mozaik dan seperti tergantung di dinding, padahal tak ada tali yang menggantungnya. Ini semacam tempat yang mengantarkanku dari dunia nyata menuju ke dunia lain. Seperti teleportasi waktu yang ada pada cerita doraemon. Namun, jika di cerita doraemon mereka memakai mesin waktu yang canggih seperti mobil terbuka yang berjalan, lain lagi dengan aku dan Seno yang berjalan kaki tanpa kendaraan.

Walaupun begitu aku tak pernah merasa letih, bahkan aku tak merasa sedang berjalan karena terlalu asyik menikmati potongan-potongan senja yang tergantung berjejer di kanan kiriku. Dengan background gelap, potongan-potongan senja itu menyala dengan warna jingga kemerah-merahan, yang membuatku dan Seno tak merasa kegelapan karena memang tempat itu gelap tanpa cahaya.

Aku dan Seno hanya diam selama berjalan entah menuju ke mana. Hingga pada akhirnya aku dan dia sampai di ujung gelap yang mana di sana tergantung potongan senja yang berukuran lebih kecil dari yang lain. Jari telunjuk Seno menunjuk ke arah potongan senja itu tanpa berkata sepatah kata pun. Aku masih bingung apa maksudnya, namun kemudian ia memberikan isyarat lagi bahwa aku boleh mengambil potongan senja itu.

Kuraih potongan senja yang berukuran kecil itu dengan tanganku, namun entah mengapa aku tak bisa mengambilnya. Bukan karena letaknya yang terlalu tinggi atau terlampau jauh dari aku berdiri, namun memang benar-benar tak bisa kuambil, bahkan aku merasa potongan senja itu tak bisa tersentuh tanganku. Ketika kuraih, tanganku tak membawa apa-apa.

Hingga kudengar suara tertawa lirih dari Seno, kulihat dia sedang menertawakanku. Kemudian ia berkata bahwa ptongan senja itu semu. Pernyataan Seno membuatku kesal yang tertahan, bagaimana mungkin seorang Seno mengerjai orang biasa sepertiku. Namun, aku tak berhak kesal padanya hanya karena hal semacam itu, seharusnya aku juga berpikir bagaimana mungkin Seno dengan semudah itu memberikan potongan senjanya kepadaku.

Kemudian ia memberitahuku bahwa aku harus memotretnya, karena hanya dengan lensa kameralah potongan senja itu bisa kuambil. Namun hanya dengan sekali jepretan, selebihnya potongan senja itu akan hilang. Dan benar saja, ketika aku berhasil mengabadikannya di jepretan pertama, seketika potongan senja itu menghilang. Bagai masuk ke lensa kamera yang kubawa. Bahkan bukan hanya potongan senja itu yang hilang, Seno pun ikut menghilang. Membuatku kebingungan ke mana perginya. Hingga kulihat di layar kameraku, di sanalah Seno dengan senja pinggir kota yang kucari.

Ketika potongan senja itu kuberikan kepada dosenku, ia tiba-tiba melepas kacamatanya dengan mulut yang menganga bagai melihat sesuatu yang tak bisa dipercaya. Apa maksudnya? Aku kira dia penggemar berat seorang Seno Gumira.

Nurjanah

Nurjanah

Pegiat FPM (Forum Penulis Muda) IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar