Sekilas Pandangan Appadurai Tentang Materi Dan Nilai

Perkembangan antropologi semakin menunjukkan hal-hal baru yang semakin bervariasi, diantaranya antropologi tidak hanya mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan keburukan budaya manusia dari perspektif tertentu (bad-anthropology), tetapi juga telah berkembang membahas mengenai hal-hal yang baik dari suatu budaya tertentu (good-anthropology). Hasilnya akan sangat berbeda, karena seorang antropolog tidak sewenang-wenang lagi dalam membuat justifikasi budaya dengan subyektif, tetapi lebih mendudukkan sebuah fenomena atau realitas sesuai dengan porsinya masing-masing.

Sebagai contoh pelopor good-anthropology adalah Clifford Geertz yang berhasil mengetengahkan kembali fenomena budaya sabung ayam di Bali menjadi sebuah budaya luhur penuh makna. Geertz berhasil mengeluarkan kungkungan justifikasi negatif budaya sabung ayam pada jaman itu sebagai budaya murahan dan tidak sesuai dengan peri kehewanan. Masyarakat Bali dan seluruh pihak, termasuk pemerintah dan seluruh stakeholder terkait, semisal aparat penegak hukum, bersepakat memposisikan budaya ini sebagai warisan yang harus dipelihara selamanya. Sabung ayam kemudian menjadi identitas dan jati diri masyarakat Bali yang adiluhung penuh makna.

Budaya dengan demikian tidak dibandingkan dengan prilaku budaya lain. Dengan kata lain setiap budaya memiliki keunikan masing-masing yang tidak dapat disamakan dengan yang lainnya. Dalam pandangan Geertz kebudayaan merupakan jejaring simbol yang komplek dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. Mungkin materi budaya sama, akan tetapi maknanya bisa arbitrer. Misalnya sama-sama warna merah, dapat berarti berani pada bendera RI, tapi juga bermakna nilai jelek jika ditulis dengan tinta merah di buku raport anak sekolah. Perbedaan makna ini dikarenakan pada konteks yang berbeda dan dalam ide yang berbeda.

Akan tetapi kesan lokal dan khusus ini menurut Appadurai belum tentu dia berada pada lokalitas yang sesungguhnya. Tinta merah yang dipakai menulis nilai, agaknya, bukan lagi kearifan lokal, tetapi telah menjadi ide bersama secara global, atau yang ia sebut sebagai berada pada wilayah ideoscapes atau mungkin juga technoscapes. Persinggungan lintas batas ini sering disebut era globalisasi. Batas teritorial sudah semakin kabur dan tidak menunjukkan existensinya dalam beberapa hal. Ethnoscapes mendorong globalisasi budaya ke seluruh penjuru dunia dibantu oleh teknologi dan media.

Koentjaraningrat mengatakan bahwa budaya seperti makhluk hidup organik, memiliki nilai dan real. Budaya memiliki materialnya masing-masing dengan nilai makna masing-masing yang ini mempunyai “nilai jual” tersendiri. Dalam era globalisasi sesuatu yang ada di daerah lain yang unik menjadi daya tarik tersendiri terhadap yang lain. Ada posisi tawar yang jelas terhadap bentuk budaya tertentu. Budaya tidak saja dapat saling diserap, tetapi juga dapat saling “dinikmati” sebagai hasil karya seni prilaku manusia. Nilai keindahan menjadi daya tarik utama, sehingga keindahan mampu menjadi alternatif solusi untuk “refrehing” manusia modern yang penuh “masalah”. Sehingga budaya dengan demikian dapat menjadi commodity yang hidup dan mempunyai nilai. Appadurai (1996: 3) mengatakan bahwa commodities a like persons, have social lives.

Commodity atau komoditas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online berarti “barang dagangan utama; benda niaga” yang biasa diekspor ke luar negeri. Dengan demikian komoditi berupa “materi” yang memilki nilai tertentu, dapat dijual dan ada yang membutuhkan. Pihak yang membutuhkan adalah konsumen, dan yang menyediakan adalah produsen. Pada titik ini terlihat betapa profitnya hubungan antara produsen, komoditi dan konsumen. Ada simbiosis mutualisme yang terbangun. Tetapi pertanyaannya adalah siapakan yang membuat sebuah komoditas itu bernilai? Komoditas itu sendiri ataukan produsen ataukan justru konsumen itu sendiri?

Pertanyaan di atas akan dapat didekati dengan beberapa perpektif. Diantaranya adalah dengan cara Marxian yang biasa disebut materialisme historis. Para Marxian meyakini bahwa pengubah sebuah materi menjadi berharga adalah karena ada unsur tenaga buruh dan alat produksi. Perubahan bentuk suatu materi juga akan merubah nilai material tersebut dari yang tidak bernilai menjadi bernilai tinggi. Sedangkan perubahan bentuk material tersebut melekat didalamnya seberapa banyak tenaga buruh berada disana dan alat-alat yang digunakan. Sehingga menurut mereka buruh ini harus juga makmur seperti para majikan pemilik modalnya. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Mereka tetap tertindas di bawah kuasa modal kapital para pemilik modal. Dan parahnya juga pasar sebagai tempat menjual juga dikuasai para pemilik modal tersebut. Sehingga dalam pandangan Marxian ada proses hegemoni pemilik modal dalam komoditas. Pada bagian puncaknya mereka mengatakan bahwa budaya selalu dibuat oleh para pemilik modal yang hanya bertujuan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Perpektif ini memberikan pengertian bahwa budaya yang kemudian menjadi populer tidak lepas dari rekayasa dari para pemilik modal atau produsen. Mereka yang akan mengendalikan pasar dengan menciptakan trend-trend baru dalam masyarakat. Propaganda dilakukan semasif mungkin, dilihat oleh sebanyak mungkin orang, dengan semudah mungkin mengaksesnya. Pemilik modal akan senantiasa kreatif membidik segmen peluang pasar mana yang banyak atau lagi dibutuhkan oleh banyak orang atau sebagian orang tertentu untuk ditarik uangnya dan diambil keuntungan sebesar-besarnya. Kondisi seperti ini yang dipersoalkan kaum Marxian.

Kuasa para pemilik modal ini akan semakin kuat manakala globalisasi berjalan dengan baik. Secara nyata pada era sekarang globalisasi telah mecapai masa keemasan. Medsos sudah seperti “dunia lain” atau menurut Enderson sebagai “komunitas imajinatif” yang memiliki kehidupan tanpa batas teritorial. Manusia sebagai penciptanya seharusnya yang mengaturnya, akan tetapi malah sebaliknya. Manusia justru menjadi dikendalikan oleh teknologi yang dia ciptakan sendiri. Para kritikus kontemporer mengatakan hal ini sebagai kegagalan manusia modern. Dengan demikian materi sebagai komoditas tidak lain sebagai hasil rekayasa pemilik modal semata, dan dengan demikian pula budaya juga tidak lain adalah hasil ciptaan para kaum elit yang menghegemoni semua orang.

Pandangan Marxian ini, agaknya, cenderung menyederhanakan proses terciptanya budaya yang kemudian populer. Proses terbentuknya sebuah budaya sangatlah panjang, dimulai dari proses olah pikir dan olah rasa yang kemudian dituangkan dalam simbol-simbol material yang memiliki makna terhadap para penganutnya. Budaya mempunyai dimensi lahir dan batin. Bahan materialnya hanya sebagai visualisasi makna batin yang ada di dalamnya. Bentuk material sangatlah terbatas dibanding makna batin yang ada didalamnya. Kaum elit yang dimaksud, khususnya pemilik modal, tidak akan berfikir sampai pada tataran makna atau meaningfull ini. Mereka hanya berfikir bagaimana laku dijual saja dan dapat untung untuk dirinya sendiri.

Appadurai berusaha mendudukkan kekurangan pandangan Marxian ini dengan mengatakan bahwa komoditas seperti manusia yang mempunya kehidupan sosial juga. Jika komoditas juga dipahami sebagai bagian dari budaya, maka nilai dari sesuatu itu – secara material – tidak semata ditentukan dari perubahan bentuknya, melainkan juga sangat ditentukan oleh seberapa meaningfull yang ada di dalamnya. Nilai yang muncul sangat abstrak dan subyektif. Mungkin sebuah komoditi dianggap jelek dan murahan oleh seseorang, tapi oleh orang lain sangatlah berharga. Misalnya benda-benda antik di museum. Ada dunia makna yang hidup mengalir senantiasa seiring kehidupan manusia juga. Sehingga kualitasnya juga senantiasa berubah dan juga menentukan nilai-nilainya.

Agus Setyawan

Dekan Fakultas Dakwah INSURI Ponorogo. Kandidat Doktor Antropologi UGM Yogyakarta

More Posts

Beri Komentar