Secuil Riwayat Hidup Karl Marx

Sangat berat bila memandang suatu hal yang itu bila sudah terjustice oleh kejadian kejadian dan alur opini yang mengarah pada dogma bagi manusia. Bagaikan tempurung yang membelenggu katak, tak bisa larilah si katak. Sama juga pada otak atau pikiran yang telah terkonstruk karena menerima segala apa yang dilihat, didengar, diraba dengan menjadikan itu semua sebagai kesimpulan. Apalah daya manusia yang seperti itu dapat mengetahui apa dibalik kejadian-kejadian yang mungkin tidak semua manusia ketahui, hingga menjadikannya budak dari pikirannya sendiri.

Permenungan kembali harus dilakukan bagi siapa saja yang ingin mengetahui kejadian di luar tempurung tadi. Sama halnya dalam mempelajari tentang tokoh yang satu ini yaitu Henrick Karl Mark, seorang laki-laki yang dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di kota Tier, sebuah daerah Rheinland, Jerman yang mempunyai pemikiran yang sangat fenomenal bagi daerahnya, maupun dunia hingga saat ini. Ingat jangan ada suatu tempurung yang menjadikan otak ini tak mau atau takut atau ilfil untuk mengenalnya, karena kesadaran ilmu pengetahuan tidak sesempit tempurung itu.

Yang digadang-gadang bagi umat manusia, segala kebutuhan keinginan yang dicapai harus dituruti. Seperti kebutuhan lahiriyah maupun batiniyah. Maka adanya manusia dalam bermasyarkat ini yang kadang-kadang merasa ia dalam posisi kelas rendah atau kelas tinggi (elite), masalah kelas inilah yang sampai saat ini masih dipertentangkan bagi kalangan manusia. Memang kelas dalam arti konstruk sosial yang secara sadar maupun tidak sadar perlahan lahan menjadikan buta bagi manusia secara individu. Materialisme yang disebut Karl Mark dengan pandangan manusia yang hanya terpaku pada materi atau kebendaan inilah yang digagas tokoh filsuf tersebut.

Putra yang dibesarkan oleh kedua orang tuanya Heinrich Mark dan ibunya Henriette pernah menempuh pengalaman pendidikan di Universitas yang waktu itu dipengaruhi oleh Hegelianisme yang masih berjaya, di samping pemberontakan Feurbach terhadap Hegel untuk menuju Materialisme. Di usia 6 tahun Marx dan seluruh keluarganya mengalami keadaan yang lucu. Di mana keluarga itu berpindah agama dari penganut yahudi beralih ke penganut protestan. Jelas ini mengganggu sikap mental Mark dalam pertumbuhannya. Anggapan Mark, kepercayaan agama tidak terlalu penting terhadap perilaku kehidupan, namun perkembangan agama dipengaruhi oleh konstruk social ekonomi manusia.

Karl Mark juga beproses dalam bidang jurnalis, waktu itu ia bergabung di majalah Rheinische Zeitung, di daerah kota Koln. Artikel pertamanya tentang “Kaum Petani Jerman.” Karir Mark belanjut terus pada jurnalistik, kritik yang keras dan tajam terhadap kebijakan pemerintah selalu ia lakukan. Ini yang menjadi ciri khas Mark dalam penulisan sesuai dengan pemikirannya yang tak mau melihat keadaan situasi kebijakan yang tak memihak rakyat. Kemudian di kantor Majalah inilah Karl Mark bertemu Fredrich Engels, sahabat karib yang nantinya meneruskan perjuangan karl Mark maupun pemikirannya.

Melihat tulisan-tulisan yang diterbitkan Mark melalui majalah dan surat kabar yang isinya kritik tajam terhadap kebijakan, maka pemerintahan Jerman mengusir Mark. Perpindahan ke Brussel dilakukan setelah terjadinya pengusiran. Di Brussel hampir sama, Mark tetap melanjutkan kelilmuannya untuk memperdalam tentang studi ekonominya, juga menjalin kontak dengan orang-orang organisasi buruh. Bahkan Mark sampai ikut terjun dalam ranah diskusi para kaum pekerja atau buruh.  Pada tahun 1849 Mark harus kembali ke Inggris, disebabkan gagalnya revolusi yang ada di Eropa, yang ditandai kekacauan di Perancis pada tanggal 24 Februari 1848 yang meluas sampai ke Brussel, hingga Jerman tempat Mark tinggal.

Di Inggris dua sejoli (Mark dan Engels) ini semakin erat persahabatannya, mereka mencetuskan Communis Manifesto di Inggris sebagai pamphlet gerakan buruh yang mereka bangun. Keduanya melakukan maping media dengan menulis pada Koran-koran atau majalah yang disebarluaskan. Sedikit tentang Engels, bahwa pada waktu magangnya di Inggris, ia sudah mulai bekerja sama dengan kelompok gerakan kiri(sosialis). Mereka berdua juga mendirikan International Working Men’s Association(IWMA), gerakan kiri internasional pertama.

Di London Mark dan keluarganmya dalam keadaan miskin, namun terlepas dari pada itu, disinilah tempat pengkristalan teori-teiri yang ia punyai dalam merumuskan sosialisnya. Ditandai dengan karya besarnya buku yang berjudul Das Kapital yang terbit dalam tiga volume, yaitu pada tahun 1867, 1885, 1894. Sebuah karya yang bukan hanya analisis apa yang terjadi di Inggris, tetapi juga sebuah karya yang mencoba menjabarkan tatanan system kerja ekonomi kapitalis. suatu karya yang berkutat pada satu tema sentral, yakni kapitalisme adalah sebuah system yang hidup dari penghisapan.

Karl Mark sekali lagi juga sebagai manusia yang memandang manusia dengan manusia yang tak ingin apa yang dilihatnya itu suatu penderitaan yang dibuat. Seharusnya manusia dengan bahagia didunia tanpa ada unsur-unsur penipuan atau penghisapan terhadap sesama. Kemudian dibuktikan lagi bahwa Mark adalah seorang pecinta ilmu pengetahuan, nampak dalam kematiannya ia meninggal dunia diatas kursi depan meja belajarnya, pada pagi hari tanggal 14 Maret 1883. Selamat jalan… Al fatihah….

Berlanjut kembali bahwa seorang manusia layaknya tumbuh dan berkembang. Dari kecil, dewasa hingga tua yang mempunyai sisi-sisi dan nilai sendiri-sendiri. Mulai bentuk tubuh, pikiran, sikap sampai ketindakan yang selalu berubah ubah. Karl Marx juga pernah muda, apa yang dirasakan kaum-kaum muda juga dirasakan oleh Marx. Asmara menjadi tolak ukur pertama, bagaimana Marx juga merasakan apa itu cinta. Sesosok perempuan yang ia dambakan, bak gelora samudra yang menerjang daratan ia rasakan saat rindu kekasihnya. Perempuan yang bernama Jenny yang menjadi teman sejak kecilnya itu adalah tambatan hati Marx. Pernah Marx mengirimi surat kepada Jenny waktu dimana marx merasakan kegundahan hatinya untuk saling berbagi cerita apa yang sedang dirasakannya.

Saat tumbuh mudanya, Karl Marx dengan keluarganya juga merasakan keadaan carut marut saat sang ayah Heinrich dipecat dari pekerjaannya. Alasan pemecatan untuk sang ayah adalah bahwa hanya sang ayah beragama yahudi, karena sebagai keturunan ‘Kyai’ dari yahudi sang ayah tidak diperbolehkan untuk menjabat sebagai pengacara. Sangat agama yang dianggap tidak memberikan keadilan bagi ayah Mark dan keluarganya waktu itu. Maka segenap keluarga Marx hijrah, dari penganut agama yahudi menjadi penganut agama Kristen protestan.

Ini yang mula mula membuat Marx tumbuh jiwa-jiwa kemanusiaannya melihat sang ayah dipecat dengan dampaknya bagi keluarganya. Suatu keadaan yang di rasa Marx sebagai pukulan bagi keluarganya yang terpaksa hidup dengan penuh kekurangan dan keterbatasan. Kemudian hingga anggapan Marx yang tak ingin keadaannya ini dirasakan oleh orang orang yang ada disekitarnya. Juga sangat mempengaruhi jiwa dan pemikiran Mark pada waktu itu.

Ada perspektif yang muncul dari perasaan, keprihatinan yang nampak dari apa yang terjadi membawa pandangan yang jauh dari kemanusiaan, bahwa suatu penindasan terhadap sesama menyebabkan ketidakadilan dan menyebabkan kekuatan untuk memperkuat diri sendiri. Maka perlahan lahan semakin tidak puaslah manusia dengan kekuatan yang ia punyai, dan membuatnya semakin ingin lebih kuat lagi dan lebih kuat lagi. Sama dengan sifat keserakahan, yang terus lapar dan tak akan merasa kenyang sedikitpun. Sifat ini jauh dari prisip kemanusiaan karena hanya memperkenyang diri sendiri. Seperti yang diwasiatkan H.O.S. Tjokroaminoto “lereno mangan sak durunge wareg” yang berarti “berhentilah makan sebelum kenyang” dengan maksud agar menghindari sifat rakus dan serakah yang mementingkan pribadi atau golongan saja.

Sungguh hal yang tidak diinginkan, bahwa sesama yang saling makan, sesama yang saling menipu, sesama yang saling membunuh, sesama yang saling menjatuhkan. Karena sikap serakah, yang gila akan kekuasaan, gila jabatan, gila kepemilikan(benda). Perlawanan terhadap diri sendiri inilah yang harus tetap dilakukan bagi setiap manusia yang menunjukkan sikap atau jiwa revolusioner sejati. Sikap yang menuju pada saling ketidaktegaan(jowo : Ora mentolo) terhadap sesama yang bisa dikatakan juga dengan “memanusiakan manusia”. Maka sesuai dengan prinsip kemanusiaan, untuk menciptakan tatanan yang Humanism. Ini yang diungkapkan Marx pada waktu muda dengan pengungkapan dari perasaan yang ingin melihat manusia yang humanis atau guyup rukun.

Kemudian ada yang didengung-dengungkan yaitu kata “penindasan”, bila seseorang dibodohi atau dipekerjakan dianggap sebuah penindasan. Bila semakin bekerja maka semakin ditindas, apa benar seorang Bos menindas anak buah. Itu Bos atau Bosok(busuk), itu Anak Buah atau Anak tak berBuah atau bodoh beneran. Sungguh disini terdapat pandangan kelas antara Bos dengan Anak Buah atau yang disebut oleh Karl Mark antara Kaum Borjuis dengan Kaum Proletar. Kaum Borjuis adalah diantaranya orang pemodal, bangsawan, raja, penguasa, yang dianggap mempunyai kewenangan dalam menentukan segala apa yang diinginkan untuk mempertahankan kekuasaannya. Sedangkan kaum Proletar diantaranya adalah kaum pekerja, buruh, budak, yang dianggap suatu kaum yang tertindas atau yang dikuasai. Disinilah terdapat anggapan kesenjangan antara kelompok-kelompok tersebut, yang disinalir dapat memicu pertentangan kelas.

Ada apa diantara dua kubu tadi yang dianggap saling bertentangan, apakah hanya penindas dengan tertindas atau hanya penguasa dengan terkuasai. Mari sejenak ke terminology dari Filsafat yaitu antara “fillo” dan “Soffia”, fillo yang bermakna Cinta dan Soffia bermakna Bijaksana. Ada Cinta yang harus mengiringi setiap berfikir, bersikap dan bertindak manusia untuk menuju kebijaksanaan. Karena cintalah yang memiliki perasaan, yang tak dapat dinilai secara materi. “cinta tak kenal pengorbanan, kekasih.. saat kau mulai merasa berkorban, saat itu cintamu mulai pudar”(Sujiwo Tejo), sangat mendalam apa yang dikata-katakan oleh Sijiwo tadi. Mulai ini coba memandang Materi yang didasari dengan pandang Cinta.

Kembali lagi pada konsep Karl Marx tentang pertentangan kelas. Bila memandang dari segi materi dari pertentangannya, hanya terlihat antara menang dan kalah, antara untung dan rugi, lalu dimana letak harmonisasinya?. Maka terlihat jelas, tidak mungkin sebuah ilmu pengetahuan dalam refelksinya dimandegkan, harus ada permenungan. Tidak bisa manusia memandang hanya satu kebenaran saja, karena ada banyak pandangan kebenaran. Dialektika yang digagas Marx adalah pertentangan kelas, yaitu anggapan antara kaum borjuis adalah kaum yang paling tinggi dan kaum proletar adalah kaum yang paling rendah. Dan pada akhirnya gagasan Marx untuk menuju kepada dunia soslialism.

Sosialim dalam pengertiannya adalah suatu pertemanan, persahabatan(kekancan : jowo), merupakan suatu hidup yang harmonis, damai, dan tepo sliro. Sangat tidak runtut sekali bila masih digembar gemborkannya suara penindasan. Malah hanya mengakibatkan pengetahuan pada pertentangannya saja. Pada dasarnya setiap kaum atau golongan entah borjuis atau proletar harus mempunyai jiwa yang tak hanya mengaggap dirinyalah yang paling tinggi, dirinyalah yang paling kuasa. Begitupun sebaliknya, tidak hanya menganggap dirinyalah yang ditindas, dirinyalah yang dibodohi. Itu hanya mengakibatkan pengkotak-kotakan, bisa juga disebut perbudakan akali. Sangat menyakitkan.

Kembali pada tujuan konsep Marx Sosialism, yang mana antar kelas tadi bisa menjalin hubungan kemanusiaan, kenyamanan untuk melebur menjadi satu dalam satu gerakan yang tak ada lagi penindasan, tak ada lagi penyalahgunaan kekuasaan. Semua menjalankan tatanan kehidupan dengan satu kesatuan, tidak ada kepentingan untuk diri sendiri, atau golongannya saja, semua melebur penuh Cinta, antara borjuis dengan proletar, antara penguasa dengan yang dikuasai, antara pemerintah(raja) dengan rakyat. Manunggaling Kawulo Gusti(Sunan Kali dan Syekh Siti Jenar) adalah suatu konsep socialism yang mana antara Kawulo(rakyat) denga Gusti(raja) melebur menjadi satu saling menghargai, saling menyayangi, hidup penuh kasih sayang, saling menghargai, dan damai. Sebuah bentuk tujuan yang indah bila kita menyadarinya konsep Sosialism ini.

Dengan begitu luasnya pandangan yang menycangkup dari keseluruhan hidup manusia, menjadikan tatanan manusia untuk bisa saling menghargai. Ini konsepsi manusia yang jelas dalam menumbuhkan kemanusiaan, kesatuan, untuk menuju keadilan social yang bisa disebut humanisasi.

Adhie Handika

Mahasiswa IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar