Sebuah Refleksi; Etika Berdoa

BANYAK dari kita saat gelisah atau susah, melampiaskannya dengan tulisan dan berdoa. Setiap hari tulisan-tulisan itu pun begitu mudah kitatemui di timeline media sosial. Peristiwa itu memicu saling menyudutkan satu sama lain yang disebabkan oleh perbedaan pandangan dan latar belakang. Perdebatan itu masih belum berakhir sampai saat ini. Dan,banyak dari kita yang merasa paling benar dalam membahas kebenaran dan semakin lupa saatnya ‘pembenaran.’ Apa yang kita dapatkan setelah kita beradu kebenaran, jika pada akhirnya hanya meredupkan cahaya keabadian?

Pada saat yang sama, dapat kita amati, di luar sana banyak yang mendoakan saudara kita sendiri agar celaka. Sebab, terkadang, kita terluka karena seseorang dan kita melaknatnya. Kita mendoakan mereka agar celaka—sebagai bentuk balas dendam. Dari situ, kita seolah memaksa Tuhan untuk mengabulkan doayang isinya berupa kutukan untuk saudara sendiri. Apakah yang kita inginkan akan dikabulkanTuhan?

Wallahu a’lam bisshowab.

Pada dasarnya,Tuhan Maha Mendengar. Meski tidak merapalkannya di bibir, Tuhan sudah mengetahui. Setiap hari kita hanya berdoa di depan dinding, tapi Tuhan sesungguhnya mengetahui segala hal yang kita kerjakan. Dia Maha Mengetahui jika kita berdoa kepadaNya dengan kepalsuan dan meminta dengan kemunafikan. Saat kita berdoa, kita meyakini bahwa doa kita akan sampai padaNya. Lebih-lebih dengan air mata, suara pelan, dan sujud panjang yang tak berkesudahan. Akankah Tuhan tidak pernah mengabulkan sedikit pun doa kita—yang setiap hari kita tak lelah memujiNya?

            Coba refleksikan. Kita acap kali tergesa-gesa saat sedang berdoa dan tidak meresapi apa yang kita rapalkan. Hanya fokus pada apa yang kita inginkan dan berharap secepatnya permintaan kita segera dikabulkan. Dalam QS Al-A’raf [7]: 55 dijelaskan bahwa:“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Tuhan tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”Setelah kita memahami ayat ini, hendaknya kita harus merendahkan diri; meletakkan kepala lebih rendah dari pantat dan bersuara lembut. Kita hanyalah hamba, yang tidak bisa hidup jika tidak bergantung pada zat yang lebih tinggi. Dan, manusia yang sibuk mencari dan membandingkan kebenaran; padahal, sampai saat ini kita belum tahu, kebenaran seperti apa yang digariskan Tuhan.

            Rasulullah pernah bersabda:“Doa adalah otaknya beribadah.”Dari sini kita telah mengerti pada saat berhadapan dengan Tuhan, kita harus mempunyai kewarasan dalam berpikir. Bukankah kita sudah terlampau gila jika terus-menerus tidak waras ketika berhadapan dengan Tuhan? Tapi, anehnya ingin sekali doa kita dikabulkan. Jika sudah gila, kenapa harus beragama dan berdoa?  Kita harus benar-benar memahami doa yang akan kita lantunkan kepada Tuhan. Bukannya malah kehilangan kewarasan; meminta kepada Tuhan seenaknya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Apakah bisa Tuhan kita dikte? Lantas, jika Tuhan tidak mengabulkan doa, apakah pantas untuk marah padaNya?

            Seharusnya,saat kita berdoa,kita harus berpikir terlebih dulu sebelum berhadapan dengan Tuhan, seperti saat kita sedang berkomunikasi dengan seseorang. Jika kita tidak berada dalam kewarasan berpikir, apa yang terjadi? Sesuatu yang tidak kita inginkan dapat terjadi. Kita terlalu terlena dengan keindahan dunia; menjadikan kita lupa terhadap diri kita sendiri. Kita terjebak dalam kemegahan semesta. Bukankah di dalam kebahagiaan identik dengan kelalaian?

            Dalam keseharian, pernahkan kita berpikir pada diri sendiri; lebih banyak manaantara yang kita ketahui dengan apa yang tidak kita ketahui? Jawabannya pasti lebih banyak dari apa yang tidak kita ketahui. Hal ini sama seperti saat kita berdoa kepada Tuhan. Seharusnya, kita meminta kepadaNya untuk selalu melindungi segala sesuatu yang tidakkita ketahui. Sebab, sesuatu yang tidak diketahui belum pasti akan memberikan manfaat kepada kita. Hendaknya kita mencontoh doa Nabi Nuh AS yang telah diabadikan di dalam QS Hud [11]: 47. (Nuh berkata:”Ya Rabbku! sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau) daripada perbuatan (memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku) atas apa yang aku telah terlanjur melakukannya (dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi).

            Semoga kita termasuk orang-orang dalam lindungan-Nya. Agar kelak, kita tidak menjadi golongan orang yang merugi di kehidupan kekal nanti. Amin.

Beri Komentar