Sebuah Naluri untuk Mabuk dan Bergairah dalam Menulis

ADA banyak pertanyaan yang biasa menyelinap di benak para penulis pemula. Baik itu di acara seminar, pelatihan atau kelas menulis. Salah satu pertanyaan yang paling familiar ialah mengenai bagaimana cara menjaga produktivitas menulis?’ bagaimana cara menjaga mood saat menulis? bagaimana menemukan ide yang brilian? Dan masih banyak sejibun pertanyaan lainnya.

Tentunya menjadi penulis bukan didapat secara instan, semudah membalikan telapak tangan. Pintu kreatif dalam kepenulisan harus selalu digedor dengan kontemplasi-kontemplasi di bilik kesunyian. Bila proses kreatif itu senantiasa diolah dan dibumbui, akan menghasilkan cita rasa tersendiri. Tujuan dari itu semua tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menghasilkan karya yang gemilang dan orisinalitasnya terjaga.

Cukup banyak buku how to yang menerangkan tentang bagaimana kiat-kiat menjadi penulis. Namun, tak sedikit yang hanya menerangkannya secara teoritis. Hingga sulit diterapkan dalam tataran praktiknya. Kebanyakan hanya menceritakan bagaimana dan bagaimana. Akan tetapi, saya mendapati sebuah dimensi lain setelah membaca buku berjudul “Zen dalam Seni Menulis”. Saya seperti dilempar pada dunia kreatif penulis yaitu Ray Bradbury. Ada banyak cerita yang menggambarkan perjuangan, keyakinan, sekaligus kegilaannya saat ia berkelana dalam proses kreatifnya.

Pada mulanya, saya mengira yang disebut “Zen” dalam judul buku ini adalah nama pena seorang penulis. Namun setelah saya telusuri dalam KBBI, Zen adalah aliran Agama Buddha Mahayana. Singkatnya aliran Zen ini berusaha mengungkap intisari sejatinya dunia dan menghindari dualistik. Rupanya Ray Bradbury sedang mengkloning ajaran Zen untuk dijadikan jurus terampuh dalam menggairahkan proses kreatifnya.

Ray Bradbury mencoba menggabungkan atau memakai aliran Zen dalam proses kreatif menulisnya. Hingga terbukti, Zen mampu menjadikannya penulis yang gemilang di usia muda. Beberapa karya di masa mudanya telah berhasil difilmkan. Seperti naskah untuk beast From 20,00 Fathoms, skenario untuk It Came From Outer Space dan Moby Dick, narasi Orson Welles untuk King Of The Kings. Selain itu, ia juga menulis dua puluh tujuh buku novel, cerita pendek, naskah drama, esai, dan puisi.

Secara umum, buku ini berisi esai-esai yang menceritakan perjalanan heroik Ray dalam proses kreatif menulisnya. Ia menceritakan secara sporadis dan gamblang proses kreatifnya, hingga ia merasa gila dan mabuk dalam menulis. Rupanya aliran Zen semacam ini mampu membikin gairah dan semangat itu menggebu-gebu hingga suatu waktu akan meletus tanpa bisa dikendalikan oleh siapapun. Setelah itu matamu tak lagi mampu memandang kesulitan hidup, yang ada hanya kegembiraan di depan mesin ketik. Tempatmu membuat dunia baru.

Buku ini berhasil menampik anggapan saya, tidak sampai tujuh menit anggapan saya bahwa menulis itu berat, menyiksa, dan membosankan telah dilenyapkan dengan isi buku yang pertama.

Gairah dan semangat. Dua kata kunci yang sering dilupakan penulis, ialah kecintaan, keriangan, dan kegembiraan menulis. Tak banyak penulis yang mengedepankan semua itu. Biasanya, faktor komersial lebih mereka lirik ketimbang jujur pada orisinalitas diri sendiri. Ketika itu terjadi, maka mereka akan berubah menjadi robot penuh beban untuk tujuan ekonomi, lalu menjadi mayat hidup. Jasad beku, wajah pucat, tanpa roh dan jiwa apalagi cinta. Ia telah kehilangan roh dalam karyanya. Dia kehilangan dirinya sendiri, karena menurut Ray, menulis itu adalah perayaan akan apa pun yang kita lihat, kita alami, dan kita perjuangkan. Jadi, nyalakanlah api cinta itu dengan menulis. Pentingnya menjadi diri sendiri diungkap oleh Ray, misalnya dalam kutipan buku ini.

Cuma ini: kalau kau menulis tanpa gairah, tanpa semangat, tanpa cinta, tanpa keseruan kau hanya setengah penulis, kau begitu sibuk melirik pasar komersial, atau menyimak kawanan garda depan, sehingga tak menjadi dirimu sendiri (hal. 17).

Dengan kecintaan tersebut, kau akan berhenti mendiamkan waktu dan menemui mesik ketikmu. Mungkin saat di jalan, saat kau menjumpai pak polisi yang sedang merokok, atau kau menepuk tatanan rambut seorang gadis yang sudah disusunnya sepanjang pagi, melihat kawanan preman atau apa pun, kau akan berhenti dan menuliskannya. Semangat dan gairah adalah bahan bakar utama di depan mesin ketik, itu juga diungkapkan oleh Ray:

Hidup itu pendek, kesengsaraan itu pasti, ajal itu niscaya. Namun, di sisi lain dalam karyamu, kenapa tidak membawa balon dari kulit babi yang berlabel semangat dan gairah itu. Dengan balon-balon ini, saat aku melawat ke dalam kubur, aku bermaksud untuk menampar punggung orang-orang bodoh, menepuk tata rambut seorang gadis jelita, melambai sejenak pada buah kesemek yang tinggi (hal. 23).

Itulah isi buku di bagian pertama. Secara garis besar, Ray Bradbury ingin menularkan proses kreatifnya melalui kegembiraan, semangat, —dan gairah. Namun, yang menjadi daya tarik buku ini ialah lontaran-lontaran ceritanya dalam kegilaan menulis. Seperti ia pernah harus menyewa mesin ketik dengan beberapa koin dan setelah itu harus menulis secepat mungkin sebelum waktu sewa habis. Inilah pembeda dengan buku how to. Ketika membaca buku ini, saya seperti diajak jalan-jalan di lingkungan Ray yang sederhana, diajak bermukim di tempat tinggalnya yang bahkan kursi atau meja saja tidak ada. Diajak berlarian saat ia mendapat ide di tengah jalan, pertokoan lalu dengan kaki seribu berusaha kembali ke mesin ketiknya hanya untuk menuliskan ide yang muncul tiba-tiba itu. Bahkan saat bangun tidur, pertama kali yang ia lakukan adalah berloncatan menuju mesin ketik. Membaca buku ini berarti harus siap-siap ikut gila dalam kehidupan Ray Bradbury.

Jadi, sungguh sangat melegakan pada saat awal usia likuran aku kebetulan melakukan proses asosiasi kata di mana aku begitu saja bangkit dari tempat tidur setiap pagi, berjalan ke mejaku, dan menuliskan kata atau rangkaian kata yang kebetulan ada di kepalaku (hal. 106).

Ray juga mengungkap, bahwa penulis pemula kebanyakan mencari ide dari kawasan luar dirinya. Padahal Tuhan pun tak pernah berhenti membisikan suara-suara indah dalam pikiran kita sendiri. Kita sering mengacuhkan atau pura-pura tidak mendengarkan. Mungkin karena takut atau tidak jujur pada diri sendiri. Padahal dari suara Tuhan itulah orisinalitas ke-makhluk-an akan tercapai. Persoalan ini pun diungkapnya dengan gaya bahasa yang tekstur, lumer, dan renyah.

Pertama-tama, aku merogoh-rogoh dalam pikiranku untuk mencari kata-kata yang dapat menggambarkan mimpi buruk personalku, rasa takut pada malam hari dan waktu dari masa kanakku, dan membentuk cerita dari semua ini (hal. 106).

Pada akhirnya, yang jelas, masih banyak kiat-kiat super untuk menulis yang disampaikan oleh Ray Bradbury dalam kumpulan esai sastranya. Selain itu, enam belas esainya dikemas dengan gaya bercerita yang mengundang tawa, gairah, bahkan mengundang pukul. Terutama pukulan untuk yang tidak mencoba menuliskan apa yang ia lihat, sejak lahir sampai mati.

Penulis: Ray Bradbury
Penerbit: Basabasi
Tahun: 2018
ISBN: 9786025783234
Halaman: 212

Wasis Nur Naini

Wasis Nur Naini

Mahasiswa Jurusan Hukum IAIN Ponorogo, Ketua Komunitas Literasi Forum Penulis Muda (FPM) IAIN PONOROGO

More Posts

Beri Komentar