Sang Penulis Hoax

Aku mengurung diri di sebuah kamar kos kecil di pinggiran kota. Dan mulai menciptakan dosa yang menyanangkan. Tak hanya menyenangkan, kesibukanku ini juga menghasilkan pundi-pundi rupiah. Aku seorang penjahat dunia maya. Aku tak terlihat mata, namun tulisan-tulisanku siap meracuni otak para pembaca. Aku seorang penulis artikel hoax. Aku tak peduli dengan akibat yang timbul dari tulisanku ini. Perpecahan, perdebatan, dan kejelekan orang mungkin akan merajalela, tapi aku tak pikir panjang dan tak mau tau soal itu. Lagi pula memang itu tujuan artikel-artikel yang kubuat.

Ini bukan keinginanku sendiri semuanya adalah pesanan orang-orang di belakangku. Aku hanyalah pemain drama dalam tulisan-tulisan yang kubuat sendiri . Di belakangku ada dalang-dalang bajingan yang mengendalikan jari-jemari diatas keyboard laptopku.

Aku sudah 4 tahun menjalani profesi sebagai penulis artikel-artikel jahat ini. Awalnya aku adalah seorang penulis biasa. Menulis puisi, cerpen, esai dan mengirimkannya pada surat kabar mingguan atau mengirim di media-media online. Tak jarang aku juga mengikuti kompetisi-kompetisi menulis yang diselenggarakan media online.

Satu ketika aku mengikuti dan memenangi kompetisi menulis di suatu media online. Lalu seorang elite politik menghubungiku  untuk memesan satu artikel yang berisi tentang kekurangan dan kelemahan lawan politiknya untuk modal kampanye hitam. Awalnya aku tak mau, karena selama ini aku menulis sesuka hatiku dan tak sudi menulis sesuai pesanan orang lain meski dijanjikan ratusan ribu uang. Menulis hasil pemikiran orang akan merusak idealisme yang aku bangun dan prinsip-prinsip yang aku pegang.

Namun kali ini situasinya lain. Ibuku jatuh sakit, infeksi lambungnya kambuh-kambuhan. Aku butuh banyak uang untuk merawatnya hingga sakitnya benar-benar sembuh. Mau tak mau dan sedikit berat hati, aku menerima pesanan artikel dari orang politik itu. Lumayan juga upah dari satu artikel yang aku tulis bisa di beli hingga lima ratus ribu rupiah. Lagi pula upah menulis di surat kabar atau media online sangat rendah dan tak terlalu menjanjikan. Itupun belum tentu di muat. Aku harus bersaing dengan puluhan hingga ratusan penulis untuk berebut ruang halaman di surat kabar atau media online.

Artikel hoax pertamaku sukses. Pemesan tulisan itupun mengaku puas dan memberiku sejumlah bonus. Sejak saat itu pemesan artikel hoax yang aku buat mulai membeludak. Sebagian besar pemesan adalah orang-orang yang ingin menjatuhkan lawan politiknya. Mulai dari pemain politik lokal di daerahku hingga orang-orang terkenal yang berskala nasional mulai tertarik menggunakan jasaku. Tak hanya menulis tentang keburukan lawan-lawannya, aku seringkali menerima pesanan artikel yang memuat kebaikan-kebaikan dan prestasi-prestasi diri mereka sendiri guna membangun citra.

Mulai saat itu aku berhenti menulis untuk surat kabar dan media online. Aku memilih menulis artikel-artikel hoax meski ibuku sudah sembuh dari penyakitnya. Aku mulai memasang tarif untuk artikel-artikel hoax yang kubuat. Tarifnya bervariasi dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah tergantung muatan artikel tersebut. Bila berskala lokal dan berisi keburukan lawan mereka, mungkin tarifnya tak seberapa, namun jika sudah berskala nasional dan memuat fitnah-fitnah yang amat kejam, aku mematok jutaan rupiah untuk satu artikel yang kutulis. Jenisnya juga bervariasi, namun yang paling laku adalah opini atau esai yang menjatuhkan seseorang serta berita-berita yang berisi tentang kebohongan.

Tak sulit membuat cerita-cerita hoax tentang seseorang. Tak perlu mencari data atau fakta yang benar tentang mereka, cukup tau keburukannya kemudian kutulis dan kujabarkan secara berlebihan. Kemudian kutambah dengan fitnah-fitnah dan opini yang menjatuhkan orang itu. Agar terkesan lebih faktual, artikel yang aku buat biasanya kutambah foto-foto tentang orang yang akan dijatuhkan.

Aku tak berpihak pada satu golongan saja. Semua pesanan aku terima meski terkadang tulisan-tulisanku bertentangan dengan tulisanku yang lain. Aku hanyalah penulis berita-berita bohong itu. Siapa yang membayarku, maka akan aku layani dengan senang hati.

Tak perlu takut dipolisikan. Semua tulisan-tulisanku tak pernah mencantumkan penulisnya. Jadi aku tenang-tenang saja menjalaninya, bahkan sebagian pemesan tulisanku berani menjamin keamanan dan keselamatanku. Pembaca juga tak peduli siapa penulisnya. Mereka lebih menikmati kebohongan yang aku buat. Semakin kejam tulisanku, semakin antusias pembaca untuk menikmatinya. Dan tentu saja otak mereka semakin kotor keracunan hoax-hoaxnya.

Bila kau ingin pesan artikel-artikel palsu atau hoax untuk membangun citramu atau menjatuhkan lawan-lawanmu, kau bisa memesannya padaku. Mungkin banyak orang-orang di luar sana yang bekereja sepertiku. Duduk di balik layar, namun mengendalikan pikiran-pikiran para pembaca. Mungkin saja tulisan-tulisan yang kubuat sudah kau baca dan kau percaya begitu saja. Salah satunya adalah tulisan ini. Karena aku pembuat cerita hoax, maka tulisan-tulisan yang saat ini kau baca adalah hoax semata. Terima kasih sudah menjadi salah satu korban dari tulisan hoaxku.

Andan Lawu Megantara

Andan Lawu Megantara

Lahir dan Bermukim di Ngawi. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Aktif di Instagram: @ampasskopimu

More Posts

Beri Komentar