Reuni 212; Refleksi Atas Invasi Mongol Terhadap Abbasiyah di Baghdad

Memanasnya dunia sosial media dikarenakan perbedaan persepsi mengenai aksi 212 atau yang sering diklaim sebagai aksi bela Islam, mengingatkan saya terhadap sebuah peristiwa besar dalam sejarah peradan Islam di dunia. Sebuah peristiwa fenomenal yang mengakhiri kekuasaan sebuah dinasti Islam yang berkuasa hampir lima abad lamanya; Abbasiyah.

Hulagu Khan sebagai salah satu cucu dari Jenghis Khan, yang memeluk agama Samaniyah (mengakui Tuhan, tapi tidak melaksanakan ibadah khusus) atas intruksi kakaknya yang berkeinginan untuk menghancurkan dinasti Abbasiyah—yang saat itu hanya memiliki kekuasaan di Baghdad.

Kenapa Hulagu Khan saat itu berambisi untuk menghancurkan Baghdad?

Karena saat itu, Baghdad dipimpin oleh seorang khalifah yang sangat tamak, dan membiarkan rakyatnya dalam kesulitan di bidang ekonomi. Maka, representasi Islam dalam benak Hulagu Khan adalah perilaku khalifah Musta’shim yang saat itu menjabat. Maka, ia berambisi untuk menghancurkan segala yang berhubungan dengan Islam, karena dianggap tidak memberikan hak-hak untuk masyarakat di bawah kekuasaanya. Bahkan, dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Musta’shim menyimpan emas di bawah tanah dan hak prajurit tidak semua ditunaikan karena ditimbun untuk kepentingan pribadi.

Singkat cerita, Hulagu Khan dengan taktik politiknya berhasil memanfaatkan perpecahan golongan Islam, didapati bahwa dalam tubuh Abbasiyah ada dua golongan yang dominan, yaitu: Syiah dan Sunni. Namun, untuk jabatan pemerintahan diduduki oleh Sunni secara mayoritas meskipun ada juga dari golongan Syiah, salah satunya adalah Al-Qomi yang menjabat sebagai perdana menteri. Maka, yang dilakukan Hulagu Khan adalah memanfaatkan kubu Al-Qomi dengan mengiming-imingi jabatan dan kerja sama untuk meruntuhkan kepemimpinan Sunni Musta’shim. Mendengar iming-iming Hulagu Khan, Al-Qami berseru, “Sesungguhnya saya lebih suka dipimpin oleh orang nonmuslim daripada dipimpin oleh muslim Sunni. Maka, yang dilakukan Hulagu Khan hanyalah membakar emosi Syiah terutama Al-Qami sebagai perdana menteri agar melakukan pengkhianatan terhadap khalifah Sunni Musta’shim. Ketika keduanya sudah pecah, bentrok, rapuh, saling mencaci, menghina, dan merasa paling benar dalam menjalankan syariat agama sesuai dengan keyakinan golongan masing-masing, di sinilah Hulagu Khan melakukan invasi militer.

Kubu Syiah otomatis tidak membantu pihak khalifah, karena berasumsi bahwa yang diserang Hulagu adalah Islam Sunni, bukan Islam Syiah. Dengan mangkirnya Syiah, maka mengurangi kekuatan armada Bani Abbasiyah, sehingga Baghdad luluh lantak, rata dengan tanah. Masjid dihancurkan, perpustakaan dibakar, dan hampir seluruh peninggalan Islam dihilangkan jejaknya. Padahal, jelas yang diserang Hulagu bukanlah Sunni atau Syiah, tapi Islam.

Apakah Hulagu memberikan kubu Syiah jabatan?

Tidak. Hulagu berpikir jika dengan rekan seiman saja berkhianat, bagaimana dengan kelompok yang berkeyakinan lain?

Maka, dua tahun pasca tumbangnya Abbasiyah Al-Qami tewas di tangan Hulagu Khan karena terus menuntut jabatan yang pernah dijanjikan.

Dalam peristiwa ini siapa yang paling diuntungkan? Sudah pasti Hulagu Khan. Hanya dengan kekuatan fitnah dan mampu membaca peluang perpecahan dalam tubuh Islam, ia berhasil menakhlukkan dinasti Abbasiyah dengan pasukan militer yang tidak terlalu banyak.

Siapa yang dirugikan? Syiah-kah? Sunni-kah?

Bukan. Islam yang dirugikan. Karena kekhalifahan Islam dalam bingkai dinasti Abbasiyah hancur oleh kekuatan fitnah pihak di luar Islam.

Bagaimana dengan reuni 212, siapa yang paling diuntungkan?

Muncul timeline di sosial media dengan bahasa-bahasa yang sangat kasar, bahkan istilah yang sangat tidak pantas diucakpan dari mulut manusia yang mengaku beragama, apa pun agamanya. Bahkan tidak pantas diucapkan oleh mulut manusia yang mengaku makhluk sosial. Bukannya sebagai makhluk sosial kita diwajibkan untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia tanpa memandang latar, suku, budaya, agama dan warna kulit?

Namun, kenapa kata-kata yang tidak pantas itu justru keluar dari mulut muslim yang sama-sama mengaku sangat beragama?

Lantas untuk apa agama mereka anut? Dan sampai di mana ia memahami agama sebagai panutan dan tuntunan hidup? Lebih detail lagi untuk apa ia beragama? Apakah untuk merasa paling suci dan paling beriman?

Siapa yang diuntungkan dalam acara reuni ini?

Apakah mereka yang ikut reuni dengan segala atribut dan simbol? Tidak. Karena tidak sedikit yang merasa menjadi muslim yang paling sempurna karena aksi tersebut, yang akhirnya melukai nilai ibadah yang hakiki. Bahkan, menyatakan “sesat” bagi muslim yang tidak ikut dalam aksi. Bisa jadi, tujuan “dakwah” dalam Islam yang bertujuan menyebarkan dakwah Islam tidak terlaksana, karena mereka nonmuslim fobia dengan cara berakidah dengan model seperti ini.

Apakah mereka yang merasa muslim nasionalis yang tidak ikut dalam aksi reuni tersebut?

Tidak juga, karena golongan ini banyak mengeluarkan dugaan, fitnah, dan juga cemooh yang mendiskreditkan mereka yang ikut reuni. Fitnah tentang nasi bungkus, provokasi makar, dan segala dugaan lainnya. Dan juga tidak segan mencari aib-aib pribadi dari sosok yang tidak disukai cara berislamnya dengan cara apa pun. Bukankah menutup aib sesama saudara muslim dianjurkan oleh Rasululah?

Lantas siapa yang diuntungkan?

Mereka pihak ketiga yang sedang menunggu kehancuran muslim di Indonesia. Kita sedang menantikan Hulagu Khan versi Indonesia yang saat ini berhasil mengkotak-kotakkan muslim di Indonesia, dan saat muslim Indonesia dalam keadaan kacau balau dan berperang dengan sesama muslim dalam ideologi, maka Hulagu Khan versi Indonensia akan dengan mudah memecah belah muslim di Indonesia. Mungkin, saat ini ia sedang tertawa, bertepuk tangan, menertawakan muslim yang saat ini saling berseteru dengan sesama muslim.

Hal ini bisa dihindari jika pihak muslim itu sendiri memahami kondisi Islam Indonesia saat ini, jika masih tetap tidak menyadari, maka muslim Indonesia selamanya akan seperti ini dan bahkan lebih buruk lagi.

Dan siapa yang paling dirugikan?

Kita! Ya kita, aku, kamu, kita yang saat ini merasa beragama Islam.

Masih banggakah mulutmu berkata kotor? Padahal, telah jelas musuhmu sesungguhnya?

Naudzubillah.

Semoga Tuhan menjadikan kita muslim yang sehat akal, nurani, dan nalarnya.

Lutfiana Dwi Mayasari

Lutfiana Dwi Mayasari

Dosen Sejarah Peradaban Islam IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar