Relasi Bahasa Arab Terhadap Pembentukan Nama Masyarakat Jawa

Nama merupakan sebuah identitas yang harus dimiliki oleh setiap orang ketika mereka memasuki dunia baru. Dengan “nama,” seseorang bisa dikenal identitasnya: gender, suku, hingga bangsanya. Dalam terminologi teologis, di antara kewajiban orang tua ketika melahirkan anaknya ialah memberi nama yang baik. Sejalan dengan itu, nama dalam tinjauan identitas lokal merupakan kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap individu sebagai simbol pribadi dan keluarga.

Dalam studi Antropologi Linguistik, nama dapat dikaji melaui sistem asimilasi konteks agama dan budaya, sehingga nama-nama yang melekat pada masing-masing pribadi (individu) akan mencerminkan identitas lokal di mana ia dilahirkan. Sejalan dengan pemikiran tokoh strukturalis Levi Strauss (1902) yang menyatakan bahwa bahasa yang diucapkan oleh masyarakat adalah suatu refleksi atau cermin keseluruhan kebudayaan masyarakat tersebut. Manifestasi nama sebagai produk budaya bahasa lokal turut mengejawantahkan nilai-nilai kearifan lokal.

Salah satu bentuk nama-nama orang yang unik dikaji dalam sudut pandang Antropologi Linguistik adalah nama-nama orang Jawa. Masyarakat Jawa, menurut Clifford Gerts (2006), dikategarosasikan ke dalam tiga golongan, yakni: santri, abangan, dan priyayi. Santri merupakan stratifikasi masyarakat Jawa yang pernah memperdalam ilmu agama. Abangan merupakan stratifikasi masyarakat Jawa yang masih kental dengan adat istiadat Jawa. Sedangkan Priyayi merupakan kalangan bangsawan, negarawan, dan pemangku jabatan dalam masyarakat.

Dari ketiga katagori tersebut, masyarakat Jawa pada permulaan abad ke-20 masih didominasi oleh kalangan Abangan. Pergeseran stratifikasi masyarakat abangan ke santri di tanah Jawa masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan relativitas budaya sekitar, sehingga tidak mengherankan jika nama-nama anak yang lahir saat itu turut mencerminkan tradisi lokal seperti nama “Slamet” dengan harapan agar nanti menjadi orang yang selalu selamet. “Bejo” dengan harapan agar kelak menjadi orang yang selalu beruntung, dan lain sebagainya. Kemudian, masyarakat abangan yang sudah mulai mengenal agama akan memulai memberikan nama anak-anaknya dengan nomenklatur agama, seperti “Tisngatun, Machasin, Ismiyati, dan lain sebagainya.”

Masyarakat abangan pada abad ke-20 mempunyai paradigma bahwa agama merupakan juru selamat dan kebahagiaan di akhirat. Demi menuju jalan tersebut, segala sikap, tindak-tutur dan norma istiadat yang berlangsung harus berasimilasi dengan agama. Bahasa sebagai salah satu produk kebudayaan setempat mempunyai peran penting demi mewujudkan identitas lokal yang tidak mengubah nilai-nilai agama yang salah satunya adalah memberikan identitas masyarakat lokal dengan pemberian nama-nama anak yang dikonstruksi dari bahasa Arab-Jawa.

Bentuk relasi agama dan budaya yang dimanifestasikan oleh masyarakat santri pemula yang dulunya abangan akan memberi dampak terhadap paradigma, sikap, dan tindak-tutur mereka. Masyarakat santri pemula akan terus belajar menjadi pribadi secara totalitas sembari menyelami kebudayaan yang sedang berlangsung. Agama menjadi unsur pokok pergeseran stratifikasi dari abangan ke priyayi. Masyarakat yang belajar agama tentunya akan belajar aksara Arab dan baca-tulis Arab pegon yang diinterferensikan ke dalam bahasa Melayu, Indonesia, dan Jawa. Interferensi ketiga bahasa demikian memberi pengaruh terhadap redaksi dan pembentukan kata yang digunakan dalam komunikasi verbal dan nonverbal masyarakat saat itu.

Di antara nama-nama anak yang diberikan oleh masyarakat santri pemula saat itu merupakan bentuk derivasi morfologi Arab maupun sintaksis Arab yang memiliki konstruksi bahasa kurang benar. Konstruksi nama nama Arab yang dibuat oleh kalangan masyarakat abangan yang baru mengenal agama atau santri pemula dengan asumsi agar kelak anak-anak mereka mempunyai sikap seperti halnya arti dari nama-nama tersebut. Secara eksplisit, mereka telah berusaha mendialogkan tradisi Arab dengan Jawa.

Berikut nama-nama Arab-Jawa yang dibuat dari kalangan masyarakat Jawa Abangan beserta artinya:

 

No Arab-Jawa Arab-Fusha Arti
1 Tisngatun Tis’atun Sembilan
2 Durrokhim Abdurrohiim Hamba Allah yang Maha Penyayang
3 Apdul Rojak Abdul Razzaq Hamba Allah yang Maha Pemberi Rizki
4 Sapar Shofar Bulan Shofar
5 Supangat Syafa’at Pertolongan
6 Lilo Ridho Rela
7 Kasbolah Hasbullah Dicukupi Allah
8 Kaped Hafidz Penjaga
9 Kusen Husain Baik
10 Jemangat Jama’ah Kelompok
11 Surip Syarif Mulia
12 Samsiah Syamsiyyah Matahari
13 Kaden Ikhwanuddin Saudara agama
14 Konak Qona’ah Menerima apa adanya
15 Marpi Mura’ah Menjaga
16 Japar Ja’far Ja’far

 

Sejauh apa yang telah dilakukan oleh masyarakat santri pemula saat itu telah membuktikan bahwasanya tatanan sosial tidak lepas dari struktur sosial. Struktur-struktur sosial yang berlangsung di masyarakat akan memberi wadah dan media agar relasi agama dan budaya kian harmonis dan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Kemudian, afiliasi agama akan terjunjung dengan kayanya produk budaya yang disinergikan. Hal ini merupakan salah satu aktualisasi Islam sebagai agama yang mampu menjunjung nilai-nilai budaya setempat.

Wallahu A’lam.

Wahyu Hanafi

Wahyu Hanafi

Alumni PPs UIN Sunan Kalijaga, Kaprodi PBA INSURI Po, dan Praktisi Linguistik Terapan

More Posts

Beri Komentar