Puisi-puisi Jourdan Sabiq M; Pelukis Yang Melukis Kematiannya Sendiri

Nasib

 

derap kaki, gemuruh knalpot mesin kuda,

memecah kesunyian

bulan pun lari dan bersembunyi dari keangkuhan

udara seakan menyulut api dalam diri;

matahari terbakar berahi

 

semut-semut memilih mencari uang

bukan karena kebanyakan makanan,

tapi, hidup mereka semakin kehabisan ruang

dan ratu ngewel ketakutan

 

kudengar keributan di pasar; bukan karena semut lagi

orang-orang berpeluh-peluh menghajar maling pisang goreng

tak peduli ringkik dekil dari tubuhnya, orang-orang bilang “sudah biasa”

betapa berhasilnya para atasan mengajarkan ketidakpedulian.

 

musim hujan memanggul beban;

ratapan airmata penduduk pinggiran,

peluh pohon mengahadang longsoran,

lambung kali pecah, tak mampu membendung luapan

tangis langit yang tak sudah-sudah

 

Ar Roudhoh, 2018

 

 

 

Pengembara yang Membara

 

telah terbit matahari dari jari-jari pengembara

cahayanya menetes, menyuburkan tanah

di ujung jarinya terpancar harum darah

berjalan memikul segala gelisah — menapaki ranah

 

di depannya sebuah ruang gelap

ia dahulukan kesepian untuk masuk; meresap

sebelum raung sunyi memekak dan menyergap

sebelum gelap menghisap cahaya; pengap

 

pengembara,

matahari terbit dari jari-jarinya,

duka, derita, terangkum memupuk kegigihan

di dada berdebum kalimat agung;

“Tuhan hidup, aku mati”

 

Ar Roudhoh, 2018

 

 

 

pelukis yang melukis kematiannya sendiri

 

“Aku harus mati hari ini”, gumamnya ketus

air mata melukis hidup; seseorang yang menanti kematian

 

air matanya terus mengalir, menghilir ke jalanan

ke rumah-rumah, ke pos jaga, ke masjid, kelurahan

gedung-gedung, jembatan penghubung; jadi saksi

ia melukis kematiannya sendiri

 

orang-orang tak sanggup peduli

seakan ia tak pernah lahir di muka bumi

 

dengan penuh luka dirawatnya lukisan itu:

seorang wanita dengan jantung di genggaman,

hutan gersang dan angin panas mengembuskan kepiluan,

seorang lelaki menghirup kepedihan

 

betapa ia pelukis yang paling jujur

menggambarkan dunia dengan begitu hancur

betapa ia pelukis yang paling jujur

di antara jajaran pelukis maha ngawur

 

Ar Roudhoh, 2018

 

 

 

Aku Tak Tahu Cara Membunuh

 

jikalau waktu tak lagi menjamah tubuhku

aku ingin baju terakhirku, tak berwarna putih

dan tak ada bunga-bunga yang melilit kerandaku

atau bertebar di atap kamarku

 

aku ingin kau menolak pergi ke pemakamanku

dan tak ada air mata yang semena-mena jatuh

meluber di wajah dan dada yang dangkal untuk kuselami dengan rindu

 

jikalau waktu tak lagi menyentuh rambutku

aku ingin identitas ubanku,

tak dikenali barang siapa pun

tak juga cintamu atau keramahan kasihmu

 

aku ingin kau tak menyadari ketiadaanku

dan seluruh bagian tubuh yang tak lagi utuh

sebab aku tak tahu, bagaimana cara membunuh yang paling aduh.

 

Ourong-ourong, 2018

 

 

Kartiniku, Masihkah Ibu? 

 

dunia ini dimakan zaman, atau dimakan kartini, kekasih?

kenapa begitu melimpah lelaki molek dengan dada berisi?

juga konde, berkeliaran dengan jantan

mencukil mataku yang jelalatan

 

bumi ini sebenarnya berkelamin perempuan atau laki-laki?

begitu mudahnya ia sakit hati dan tergiur janji-janji

perlukah kubuat cermin, agar ia asyik bersolek,

dan lupa pada tugasnya untuk tegap menjaga dan menghidupi?

 

kartiniku, masihkah ibu?

dada mereka mulai keras membatu

dan aku mulai ragu, ketika puisi ini mewakili kegelisahanku,

jangan-jangan aku juga bagian dari kartini baru?

 

O, ibu kartini, tetaplah berkibar pada kartini lama

aku rindu pada tusuk konde yang menjadi syariat wanita

dan menganugrahi lelaki istri mulia

bukannya istri guna-guna.

 

Ponorogo, April 2018

 

 

 

Selamat Hari Ibu

 

Desember adalah bulan hujan

Pada kejap-kejap mata yang merindukan surga

 

di mulut mereka bunga bermekaran

sekalipun mata menyimpan kebohongan

dan masih dalam batas kewajaran

jika tak lebih dari sebulan

 

ibu yang merana umurnya, tampak bahagia

disuguhi ucapan manis berbusa-busa

serta kecupan miris di kerut keningnya

meski tak cukup secangkir teh untuk membalasnya

 

Desember adalah bulan hujan

Pada ruap-ruap hati yang menginginkan kepulangan

sebelum surga tersimpan di bawah batu nisan

sebelum ibunda, rampung merawat harum bunga.

 

Lor Kali, 2018

 

 

 

Surga Ibu

 

inilah yang ada,

ketika badan berkepala nisan, kuburan menjadi selimut teraman

dan anak-anak serius merawat perebutan warisan

kematian seakan cita-cita tertinggi dalam kehidupan

 

keriput yang mencipta gelombang laut, riap rambut menuju maut

dan kulit erat memeluk tulang

mengabarkan tahun yang berulang,

tak sanggup lagi menahan untuk pulang

 

ibu, ceritakanlah kuburmu yang mendesah

kegersangan ditengah deras hujan

rimbun rumput yang dirawat ketidakpedulian

dan putra-putrimu sibuk mengatur kegelapan

 

ibu, sekarang anak-anakmu punya surga baru

yang tertanam di bawah perut kekasih mereka masing-masing

jadi kau bisa nikmati surgamu sendiri, di bawah kakimu sendiri

kau tak perlu merasa asing, Tuhan memang tak suka bising.

 

Lor kali, 2018

 

 

Lebaran

 

Lebaran, sayang

Adalah perjalanan hati yang kesepian

Mencoba melebarkan maaf namun hati masih pengap

Mencoba meliburkan dendam

Namun sakit tak pernah padam.

 

Lebaran, sayang

Orang-orang berbondong meluapkan penyesalan,

Dan airmata menjadi korban dari perasaan

Aku sangat kasihan, mereka harus ranggas dari mata tuannya

Hanya untuk menonjolkan kesedihan sia-sia

 

Untuk itu,

Di rumah, ibuku menyiapkan ketupat lengkap dengan opor ayamnya

Karena tak ingin tangisan para penyesal kelaparan

Dan tak ingin air mata mereka lupa juga untuk lebaran

 

Nganjuk, 2017

 

 

 

Musim Panen 

 

padi banyak menunduk

peluh petani bertepuk-tepuk

nyawa padi terancam remuk

 

celurit petani berlumur kecamuk

padi yang sudah bertekuk–tunduk

kena amuk, ditebas dengan penuh umuk

 

peluh petani mengalir pongah

seperangkat lelah dan resah,

berhasil meminang bungah

 

tanah kembali menganga

melapangkan dada demi semoga-semoga

yang terpanjat di antara rugi dan laba,

dari kekuasaan hama

 

Penjara Suci, 2018

Jourdan Muzni

Penulis dirilis di Madiun pada tahun 1996, berdomisili di Ponorogo PP. Darul Huda. bergiat di komunitas Syawirasa. Akun yang bisa dijangkau; Instagram @sm_jourdan, email omuzni@gmail.com.

More Posts

Beri Komentar