Puisi-puisi Hendy Pratama; Solilokui

kamar dalam kata

     : buat yuditeha

 

dalam ilusi, kumasuki ‘kata’

bangunanbangunan fiktif

ruangruang sepi dan sunyi

pintu yang terbuat dari masa lalu

 

tapi, tunggu. aku belum jadi kamu

kenangankenangan bagai tungku

segala hal -termasuk aku- siap dibakar

hingga jadi abu, jadi kamu.

 

*

kita kembali ke halaman depan

kau tahu, seluruhnya punya pintu

kejahatan ialah pintu bagi narapidana

kematian: pintu keabadian.

 

karena itu, kupanggil kenangan

kucari puisi dalam kemuramanmu:

menjadi abu dalam lubang berapi

membelah hati sebagai kunci

 

(madiun, 2019)

 

 

solilokui

 

kepalaku sejatinya bukan kepala manusia

ingatan ialah pembunuh. tak ada polisi kaujumpai

mimpi tersusun dari sejibun sandiwara:

drama kolosal yang entah bertemakan apa

 

tiap malam, aku dan tubuhku terbunuh

aku sudah mati berkali-kali tanpa kauketahui

meski sebenarnya, kaulah yang membunuhku:

aku teringat setangkai mawar yang kauberi

 

di hari lain, aku berusaha bunuh diri:

kubelah dada dan kucacah tengkorak kepala

tak ada lagi yang perlu kuingat dan kupikirkan

panggung itu telah rubuh, lebih dulu rapuh

 

tetapi, aku teringat tentang puisi

segala hal tak ada yang abadi sekalipun ilusi

baitbait terbang tanpa arah, lariklarik terpisah

aku; seperti berada dalam dunia entah

 

(madiun, 2019)

 

 

melankolia

 

kubayangkan mulutku

mengecil dan lenyap

tiada lagi yang dapat kuisap

selain puting angin

 

malam telah menua

bulan terbelah dibagi dua

untukku dan untuk aku

kemuraman hinggapi dada

 

pikiranku; lebat hujan

rintik yang memercik

sirami beratus kesedihan

yang tumbuhan

 

sekalipun kucoba pergi,

ingatan pasti kembali

kenangan layaknya malam

selimut keterasingan

 

(madiun, 2019)

 

 

petrichor

 

hujan di kota

telah lenyap dan senyap

kesedihan belum

 

gerimis mati

diserap tunas pohon

duka tidak

 

apa yang bau

dari bekas ricik itu?

ialah sejarah

 

sejarah tuhan

tanamkan benihbenih

kehidupan

 

serupa bau hujan

sehabis tumpah darah

di tanah merah

 

(madiun, 2019)

 

 

nar

 

jika sesuatu yang memabukkan itu haram,

mencintaimu ialah neraka bagi aku yang gila.

 

(madiun, 2019)

 

 

delusi

 

/1/

ini mata bagai ditubruk laut

sebentang carut marut menatapku

kapalkapal berlabuh, namun tidak

di dermaga; di kepalaku.

 

/2/

puluhan paus, ribuan hiu

lalang lalu seperti kenangan

 

/3/

aku diam, merangkul sepi

mulutku seperti sepah tebu

katakata lebih dulu mati

tertelan wajah waktu

 

/4/

namun, apa yang kutatap

ialah mata cermin

aku yang asing, aku yang lain

setelah kemelut akut renggut aku

 

/5/

mataku laut; aku menubruk diriku sendiri

 

(madiun, 2019)

 

 

mencari yang terapung

     : buat tria dev

 

telah kucari dalam lembar demi debar

waktu yang sembunyi di balik genangan

jarum jam: degup jantung yang menyamar

perasaan bagai mesiu di perut petasan

 

kalender ialah mesin waktu

aku: astronaut yang menjelajah dimensi

mencari tempat bermukim yang abadi

bumi seperti mumi yang diawetkan

 

hari demi hari sebenarnya ilusi

usia: jarak yang mengkaburkan mata

tiada yang mengira, kapan kematian

mudik ke kampung tubuh kita

 

tahun ini adalah musim semi

kuncup baru bagi kesedihan yang gugur

tetapi, sejatinya kesedihan tak pernah mati

terapung di sudut sembap matamu

 

(16.6.2019)

 

_______

gambar: deviantart.com

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar