Puisi-puisi Hendy Pratama; Bahasa Doa

membakar diri

aku membakar diri

di depan tungku perapian

seperti halnya api membakar kayu

hingga jadi abu

 

seluruh tubuhku lenyap

tak ada yang sisa

kecuali bekas jelaga

di dinding dan atapatap rumah

 

(2018)

 

 

pagan

       —Pangeran Prapen

 

malam ini, langit tampak sibuk

oleh kidung merdu—tapi bikin ngilu

keluar dari mulut lembah di sudut Mataram

kukuh dan kuat, jadi tabiat pribumi

meski kuat mengikat, ia bukanlah kakawin

alamat Kejawen, atau nazam –Parsi

hanya seikat ilusi, tersusun oleh tempurung

dan kelakuan ibu dari para ibu

 

tiada sanggup membelah tanah

dari mana sembah-menyembah atas alam

dari timur; bebatuan-bebatuan terapung

ialah dewa membikin orang jadi hamba

atau pesuruh tatkala murka purba ancamannya

jadilah api, sebelum Prapen tiba atas titah

Raden Paku –setelahnya, ia hajar pagan itu

pakai seloka merdu bergema hingga lenyap

seluruh langit dari jentaka dan malapetaka

 

tanah lembap oleh air pasang jadi bisu

sebab, Prapen jayeng dan kidung telah lebur

namun, setitik binar masih kabur

tatkala sumbuk menjemput Sumbawa-Bima

oleh sebab hilang lenyap Prapen, Mataram

jadi berulah, membabat tanah dan langit

hingga kidung langit kembali sibuk oleh pagan.

 

2018

 

 

skakmat

tak ada kata-kata

keluar melawan kalimat janji

ia telah mati sebelum lahir

terkubur dalam liang epiglotis.

ia hanya bisa bermandi sepi

di antara para pembual berdasi

 

2018

 

 

menziarahi diri sendiri

aku ingin menziarahi diri sendiri

memakamkan diriku ke pemukiman sepi

dari ingar bingar dan desis ular kobra

di sawah dan di ladang petani

 

aku lahir dari pertarungan sengit,

di mana aku melawan gelap malam

dengan menyembulkan tubuh

keluar dari lorong tua yang lembut

 

— lorong tempat ular masuk

dan bisa yang menyembul; membikin

tubuhku terbentuk sempurna

 

*

sebenarnya, aku telah mati sebelum lahir

bukan karena ruh yang kembali dicabut,

melainkan hati tak lagi berfungsi

aku tak dapat melangkah ke jalan seberang

sebagaimana burung tak bisa terbang

atau ikan lupa cara berenang

 

2018

 

 

sebelum jadi pohon

       : The Sisters—Zaitun

 

sebatang pohon menjulang

dengan sisa-sisa topang-menopang

mengirim minyak

dahannya menolak kerusuhan

 

2018

 

 

bahasa doa

aku merapal semua mantra

yang masih sanggup bekerja

tiada datang sebelum petang

hanya seutas tali menggelantung

di rusuk atap rumah

 

angin-angin terhuyung

membaca doa yang kusilakan

meminang kekasih sunyi

menjadi beladu, menggulung tali

 

ada yang bertopang pada tanah,

ada yang melayang di udara

 

tiada sanggup mendikte

apa-apa yang dituliskan

bagai pohon karet kehilangan getah

hanya doa; bertelabat harum

seperti wewangian, menyemprot habis

seisi ruangan.

 

2018

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar