PUISI-PUISI FUADDIN ASRORI; SEORANG ENIGMA

SEORANG ENIGMA

 

seperti pengembara

aku turut sungai tuntut, yang

harusnya adalah apa-apa

 

tapi tidak. kucari sesuatu yang bukan apaapa

dan menyusuri apa-apa

tapi apa?

 

lamalama aku mati dalam puisi

; ditalqin para rahib, berkafan diksidiksi

 

sampailah aku pada malam dan puisi yang tak sedap

puisi yang gelap

puisi yang  keluar dari gua yang lindap dan pengap

 

o tuhan

mana yang benar—mataku nanar

 

samar-samar terdengar

sayup-sayup tersuar

 

buyar, buyar, buyar

 

jadi!

 

(2018)

 

 

UDARA

 

kita berbagi puisi seperti halnya berbagi udara. pisau ingatan telah mengiris bumi menjadi dua. membelah jarak dan menjadikan kita kian asing. lalu kau di mana?

 

kukira kita masih berbagi udara. udara yang kauhirup akan keluar, dan udara yang keluar darimu akan kuhirup. meski udara yang kau embus entah datangnya kapan

 

aku menunggu sampai berwarna kadru. seperti balon kutahan-tahan udara yang tersimpan di ruang kerinduan. betapa mungkin aku meledak tanpa dipaksa. lalu kau di mana?

 

(2019)

 

 

HANGAT

 

diduga, aku disihir olehmu

melalui benda-benda, angin, atau entah apapun itu

nyatanya aku selalu insomnia

manakala kau dan aku belum bisa semeja

 

aku tak tahu bagaimana kau bisa masuk dalam kopiku

mengendap, atau bercampur rindu-rindu

saat kusruput, kau masuk ke dalam perut

menyusup, dan menjelma selimut di musim kabut

 

(2017)

 

 

KRAKAP CINTA

 

di gerbang berhias warok dan gemblak itu kau datang kali pertama

memasuki pagelaran budaya yang merindu kita untuk menjadi lakonnya

seperti jathil kau menjelma penari feminim antara mlaku dan ngracik

memberi kabar bahwa budaya leluhur seluruhnya becik

 

gerakmu halus dan lincah

genit dan bikin mata siapa pun terperangah

pada pola ritmis itu kau menari seperti moyang;

pinggul penonton tersihir ikut bergoyang

 

bila seni benar kaujunjung, mestinya enyah jangan dulu

tunggulah sampai ganongan itu mengocok perutmu

atau hingga samandiman memecut dan mencuat;

memberi isyarat bahwa budaya belum sepenuhnya tamat

 

singobarong perlambang aku dan kau;

caplokan kepala singa dan merak yang ditakdir saling pukau

pada krakap hitam beludru yang disulam monte itu,

inginku menuliskan sesuatu; kau dan aku satu. cinta yang syahdu

 

(2018)

 

 

FOTO KECIL

 

engkrik jangkrik begitu gandang di balik kelambu remang

saat puntung tembakauku memercik abu dan lelatu. malam ini masih dini

dan tampaknya, sepi sedang menempelkan detak detiknya

pada dindingdinding kayu

 

masih kupandang. seorang bocah berbaju biru yang tengkurap dalam sebingkai foto

dengan rambut yang belum segondrong ini. bocah yang sepi padahal tercelik ceria

foto itu berkelindan di antara bukubuku dan kenangan. lebih dari dua windu silam

beberapa tahun sesudah njedul dari pintu rahim ibu. foto yang tiada lain adalah aku.

 

sunyi tibatiba melemparku pada sebuah masa yang imut

di mana betonbeton belum mengubahku menjadi siput

yang mengasuh lelumut. dalam dunia yang lecut dan serabut

seperti maut; neraka mengintai siapapun yang lengah dan luput

 

oh, demi mainan dan burungburung di atas kerikil

sungguh, aku sedang terantuk masamasa kecil

yang buta perkara pilpres, pilkades, dukcapil, korwil, atau sebangsa pil

dan cuma tahu susu dan pentil

 

aku bahkan tak ingat, apakah aku pernah digendong memakai jarik atau sarung

sebab aku masih kecil. juga tak kuingat perihal sudah kali keberapa aku diambung

yang kuingat adalah yang kudengar. seperti tembang atau kidung tak lelolelo ledung

 

memandang foto lama adalah lorong pertemuan antara sekarang dan kenangan

penaka jalur lintas tercepat untuk mengetahui kodrat yang unggul, dan murni

atau sebagai kaca, atau bunga. yang rapuh. dan sewaktuwaktu bisa pecah

atau hancur. seperti perca. seperti abu. seperti hati. seperti cinta

andai aku tak sempat menjamahnya

 

(2019)

 

Fuaddin Asrori

Fuaddin Asrori

Seorang ambigu. Pekebun, sekaligus memangku adat di komunitas Syawirasa. Mengelola dunia maya di Instagram @otakpribumi. Salam puisi bertubi-tubi!

More Posts

Beri Komentar