Puisi-puisi Fuaddin Asrori; Lahir Syair

Lahir Syair

Boleh kudesirkan puisi ke telingamu?

Supaya nanti ketika rindu,

Ada sensasi yang merangsangmu.

 

Boleh kususukan puisiku di dadamu?

Supaya kelak sewaktu gerak,

Bisa kauanggap sebagai anak.

 

Boleh kubenamkan puisiku di rahimmu?

Supaya kelak ketika lahir,

Cakap kautimang sebagai syair.

 

(2018)

 

 

Syahadat Sekarat

Sebuah puisi, kubacakan di telingamu.

Lalu kau meniru, iringi tubuhmu yang mulai haru biru.

 

Sebuah puisi, kutalikan tepat di atas kepalamu.

Lalu kau tersenyum; pertanda surga baunya harum.

 

(2008)

 

 

Dalih

Kuberi kau puisi. Lalu kau berdalih:

Tuan, bagaimana caraku berterima kasih?

Dengan tidak memalingkan wajah, Kekasih.

 

(2017)

 

 

Lupakan

Kau tak ingin bersedih dengan menyuruhku berhenti berpuisi? Lupakan.

Matamu, matamu sendiri, mangsi atas semua ini.

 

(2018)

 

 

Jadi Api

Jangan berlebihan, Dik

walaupun cinta, bila berlebihan bakal menjadi api

Ia akan tumbuh, menjalar ke seluruh tubuh

 

Kau tampak segar, walakin tak sadar

Bahwa diamdiam kau telah terbakar dari akar

 

Ubunmu asap,

Hatimu pengap

 

Aku takut, apinya

Hendak membakar kita

 

(2018)

 

 

Liannaka

Subuh-subuh mataku kendur, berangsur-angsur menyeduh kopi tak bisa tidur

Khawatir sadarku ngelindur, ngelantur figur yang selama ini niat kukubur

Harapku kau tak lagi membaur; simbur pada tubuh yang telanjur ajur

 

(2018)

 

 

Lavalo

Sebab, walaupun jarak dan sepi,

Hujan maupun sendiri,

Rindu tetaplah rindu, Kekasih

 

Aku harap, tiap kali mangkat sembahyang,

Kau wudu dahulu

Basuhlah kenanganmu di bawah mataku;

Ada kran di situ

 

(2017)

 

 

Dandere

Asal mau, berkatalah

Suaramu menghilangkan resah

Dadaku biarlah jadi rebana yang ditabuh dengan tabah

 

(2018)

Fuaddin Asrori

Fuaddin Asrori

Seorang ambigu. Pekebun, sekaligus memangku adat di komunitas Syawirasa. Mengelola dunia maya di Instagram @otakpribumi. Salam puisi bertubi-tubi!

More Posts

Beri Komentar