Psikologi Sebatas Justifikasi

Psikologi jika digunakan oleh orang yang tidak ahli, hanya akan menumbuhkan ketidak-kepercayaan orang lain yang semakin kuat bahwa psikologi hanya sebatas justifikasi”

Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari jiwa manusia. Psikologi ini dapat diterapkan pada berbagai bidang kajian ilmu. Sayangnya, psikologi hanya diterapkan di perguruan tinggi, sedangkan di sekolah hanya sebatas mata pelajaran bimbingan konseling ataupun yang biasa disebut BK. Bimbingan dan konseling disekolah, juga hanya sebatas pihak yang biasanya dipercayai untuk memberikan sosialisasi, motivasi dan solusi bagi siswa yang hanya membutuhkan. Sebenarnya, menurut beberapa kalangan, psikologi merupakan ilmu yang menarik. Ilmu itu akan menarik jika dapat mengkaji sesuatu yang dapat dikatakan semua orang belum secara mutlak mengetahuinya.

Lantas bagaimana jika ilmu ini disampaikan oleh seseorang yang belum mempunyai keahlian yang pantas untuk menyampaikan kajian ilmu tersebut? Ukuran pantas atau tidaknya seseorang untuk menyampaikan kajian psikologi tentu tidak hanya diukur dari tingkat pendidikannya bukan? Jika penyampaian dan bahkan penerapan ilmu itu salah bukannya akan mengakibatkan tingkat kepercayaan terhadap ilmu psikologi hanya sebatas spekulasi. Bahkan mirisnya, peristiwa seperti ini juga terjadi di beberapa tempat disekitar kita yang bisa diambil pelajarannya. Persepsi ini muncul ketika saya mengikuti beberapa kali kelas kajian keilmuan tentang psikologi. Dalam kelas tersebut seringkali terjadi pen-‘justifikasi’-an terhadap kepribadian seseorang atas dasar beberapa pertanyaan yang ‘konon katanya’ dilandasi dengan banyak teori ilmu psikologi.

Menurut persepsi saya berhubungan dengan justifikasi yang dikeluarkan oleh ‘pemateri’, sama sekali tidak sesuai dengan kepribadian yang diklaim. Secara tidak langsung, ketidakbenaran atau ketidakakuratan ini membuat banyak orang berfikiran bahwa “psikologi benar-benar hanya sebatas justifikasi, dan pengklaiman nilai-nilai yang dilakukan tidak lebih dari sebuah spekulasi”. Bagaimana kepribadian seseorang hanya dilihat dengan pemilihan warna, gambar dan simbol, disertai beberapa pertanyaan dalam situasi yang tidak efektif (didepan umum) sedangkan di sisi lain psikologi sendiri juga sudah menyatakan bahwa “kebenaran tes kepribadian tidak lebih dari 30 %”, bahkan psikologi juga menyatakan bahwa “objek kajian psikologi adalah jiwa manusia, sedangkan manusia sendiri penuh dengan kebohongan”. Dalam konteks ini orang yang terbiasa berfikir dalam bidang ilmu pasti atau eksakta kemungkinan besar mengklaim bahwa tes yang dilakukan seorang tester kepada seseorang yang ingin diketahui kepribadiannya, bergantung pada sedikit-banyak subjektifitas tester tersebut.

Terlepas dari ketidakakuratan sebuah tes kepribadian psikologi, ketidakakuratan dan ketidakbenaran ini juga terjadi pada tes intelegensi. Mengapa tes ini bisa dikatakan tidak akurat? Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah buku yang berjudul “Psikologi Belajar” karya Rohmalina Wahab. Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa “penggolongan intelegensi seseorang bukan merupakan harga mati” (hlm. 144), sedangkan buku tersebut juga menjelaskan bahwa hasil tes psikologi tidak bisa dipercaya secara penuh karena beberapa faktor antara lain : boleh jadi hasil test yang diperoleh, dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat tes berlangsung, selain itu perkembangan kemampuan tiap-tiap anak berbeda, hal ini menyebabkan sebagian anak belum mampu menyelesaikan tes yang diberikan sehingga hasil yang dicapai belum memuaskan.

Menyikapi hal ini, Image pendidikan terhadap inteligensi adalah indikator kemampuan anak dalam berfikir seharusnya dihilangkan. Mengapa perlu? Ketika seorang anak mempunyai hasil tes IQ yang cenderung lebih rendah daripada teman-temannya, hal itu akan membangun sugesti anak tersebut bahwa ‘dirinya merupakan anak bodoh yang tidak mampu mengimbangi teman-temannya’. Penanaman justifikasi oleh psikologi inilah yang akan berakibat fatal jika diaplikasikan oleh orang yang salah. Jika dibuktikan dengan realitas yang ada di sekitar kita, orang-orang banyak yang ‘termakan’ oleh justifikasi ini.

Banyak sekali orang yang dipatahkan semangat belajarnya hanya karena hasil tes inteligensi tidak memenuhi kategori ‘cerdas’, bahkan hal ini memunculkan persepsi ketika seorang anak yang mempunyai inteligensi yang lebih tinggi dibanding teman-temannya tampil sebagai ‘bintang’ kelas, anak lain akan beranggapan bahwa ‘pantas, karena pintar dari lahir’. Anggapan ini akan melemahkan semangat belajar teman yang lain. Sedangkan disisi lain yang perlu diketahui, orang yang cerdas tidak harus ber-inteligensi tinggi. Sebenarnya hal ini bergantung pada seberapa ‘mau’ untuk mencapai, bukan seberapa ‘mampu’ untuk mencapai.

Solusi dari kasus tersebut tidak hanya bisa diselesaikan dengan penanaman motivasi, tetapi mereka yang mempunyai persepsi seperti itu perlu mendapat rehabilitasi mental jika sudah mencapai sikap ‘minder’. Psikologi hal ini mempunyai peranan yang salah, tetapi bukan berarti ilmu kajian ini tidak berguna. Ilmu ini sangat berguna, tetapi penyampaian kajian ini harus di sampaikan oleh seorang sarjana yang benar-benar menguasai. Mengapa itu perlu? Hal ini dijelaskan dalam buku “Bunga Rampai-Psikologi Pendidikan” karya Sobani Irfan dkk, menyatakan sebagai berikut:

Ya dan Tidak, karena jenis tes psikologi tertentu (misalnya Wartegg, Grafis, TAT, HTP, Rorscach) pemberian skornya sulit untuk dikuantitatifkan sehingga faktor subjektifitas dari tester sangat berpengaruh. Untuk jenis tes tersebut sangat dituntut sekali pengalaman dan latihan untuk dapat menguasainya dengan baik, sehingga tidak setiap sarjana psikologi dapat menguasainya.

Sehubungan dengan perlunya keahlian, psikologi akan menjadi keilmuan yang sangat berpengaruh karena mampu mengendalikan jiwa seseorang, tetapi jika disalah-gunakan oleh tenaga pendidik juga akan berakibat fatal karena meruntuhkan jiwa seorang anak didik yang sedang dibangun karakternya, diasah kemampuannya, memunculkan sugesti yang buruk kepadanya yang menyebabkan trauma mendalam pada anak didik. Hal itu bisa saja terjadi karena respon tiap anak terhadap stimulus yang diberikan oleh tenaga pendidik tidak selalu sama. Maka dari itu, perlu ditanamkan motivasi yang harus ada dalam diri seseorang tidak ada yang lebih penting dari Kemauan’, karena semua tes yang dihasilkan oleh psikologi tanpa standar ukuran yang jelas, sistematis, dan terstandar tidak lebih dari sebuah justifikasi.

Mulyaningsih

Mulyaningsih

Mahasiswa Tadris IPA IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar