Perayaan Kebisuan

Diriku seakan-akan terasing dari kehidupanku sendiri. “Bahasa” telah menjadi batas pemisah antara manusia satu dengan lainnya.  “Bahasa ibu” saja tidak cukup untuk menterjemahkan “bahasa asing” itu bagi mereka yang gemar menghabiskan waktunya di hutan dan di dapur. “Bahasa asing” itu adalah ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang melahirkan kesadaran adalah “bahasa” yang telah melebarkan jarak antara diriku dengan masyarakatku. Dan akhirnya aku sadar akan suatu hal, bahwa perasaan dan pengetahuan adalah akar dari segala kegelisahan. Keduanya mengawasi lewat mata hati dan mata pikiran.

Aku seperti berbicara dengan diriku yang lain. Sedangkan mataku masih setia memandangi langit yang sama. Sambil berbaring di tengah tanah kosong, tempat di mana saat matahari bertahta di atas kepala, telah menjadi lampu untuk anak-anak bermain sepak bola.

Menjadi manusia dewasa artinya berani mengambil keputusan sendiri tanpa intervensi orang lain. Begitulah fatwa Immanuel Kant; sapere aude yang mashur itu. Apakah aku menyesal setiap keputusan yang telah kuambil? Tidak. Kendati kata orang Padang Panjang akan berfatwa: makan hati berulam jantung. Karena harus menghadapi sinisme, ironi, dan satire yang dilayangkan manusia modern. Namun bagiku Kehidupan modern tidak selalu berarti baik, bahagia, dan gemilang. Tiga syarat itu harus ditopang napas materialistik. Setidaknya itulah dalil yang diucapkan kebanyakan anak muda secara berjamaah.

Keberhasilan seseorang misalnya. Selalu yang menjadi parameter adalah kedudukan dan penghasilan. Seseorang hanya disebut orang jika dompetnya tebal dan rumahnya besar. Siapa saja yang berhasil secara maateril semua orang akan menganggapnya saudara. “Lihat si Ahmad merantau di sudah punya rumah besar di Jakarta. Istrinya juga cantik. Itu baru namanya orang.” Begitulah orang berfatwa. Celakanya nasib yang menimpa perempuan. Kadang kala demi mengurangi beban ekonomi, orang tua yang mempunyai anak gadis yang buah dadanya sudah menonjol, maka akan segera dinikahkan. Apalagi bagi anak gadis yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Maka tak ada pilihan, selain hari-harinya dihabiskan untuk menunggu datangnya lamaran. Hal semacam itu telah mendarahdaging di masyarakat karena kuatnya teologi.

Akibatnya, rantai “keterbelakangan” (kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan) tidak terputus. Begitulah pikiranku berkecamuk. Memikirkan haluan hidup di msayarakat pedesaan setiap kali aku pulang: aku seperti dikepung kebodohan. Sebab, setiap jengkal tanah yang kulalui di situ yang berlaku hanyalah moralitas. Bagi laki-laki hidup adalah mengotori kakinya dengan lumpur dan memperlihatkan pundaknya yang merah akibat goresan kayu. Bagi perempuan selain beranak-pinak hidup adalah mengasapi badannya di dapur. Pikiran habis dikuras hanya untuk bagaimana esok bisa makan.

Begitupun penghidupan di kota. Seluruhnya menyembah pada uang dan jabatan. Sedang dunia pendidikan hanya mencetak watak kapitalistik. Akibatnya pragmatisme mengepung intelektualisme. Hiruk-pikuk semacam itu yang membuatku menyingkir. Dan tiba-tiiba seseorang mengganggu renunganku.

“Kamu benar-benar sinting anak muda. Di seberang sana di bawah gemerlap warna-wani lampu cahaya para anak muda sedang berbahagia, bertukar pelukan dan ciuman merayakan pergantian tahun baru. Di sini ada anak muda sinting terlentang seperti sebatang lilin.”

“Pak Tua sendiri tak ubahnya seperti onta di tengah padang pasir yang tertinggal dari kelompoknya.” jawabku pada lelaki paruh baya yang rambutnya sudah dipenuhi uban. Sudah seminggu aku bergumul dengan lelaki paruh baya itu di puncak malam yang meninggi dan sunyi. Barangkali sudah seperti Rumi dan Saymsi Tarbiz.

Pak Tua yang sudah melewati tiga masa pemerintahan dan ratusan cobaan dalam hidupnya. Semisal luka di keningnya, adalah bekas stempel gagang AK47 yang dilakukan oleh aparat semasa orde baru. Lalu kakinya yang pincang, adalah akibat tertabrak mobil di jalan raya saat ia melarikan diri dari kejaran Satpol PP sepuluh tahun yang lalu. Lalu pakainya yang compang-camping adalah semiotik perlakuan peradaban yang kejam dari dulu hingga sekarang. Andai mata hatiku dapat melihat lebih tajam, mungkin aku dapat menyaksikan jiwanya yang tergores. Istrinya meninggal setelah di perkosa. Anaknya mati kelaparan  dua tahun setelah kematian ibunnya. Kekerasan hidup tidak bisa dihindari dan itulah pengalaman eksistensial manusia. Begitu ceritanya tempo hari yang lalu. Sedikit banyaknya dia telah mengajarkan tentang hakikat hidup.

            “Aku tidak tertinggal dari kelompokku. Aku memilih untuk tersesat. Keramaian adalah suara tak bermakna. Bahasa yang tidak mengajarkan apa-apa. Sudah puluhan tahun kota Jakarta bagiku bisu. Di sini semua orang buta, tuli, dan gagu.” Jawab orang tua itu sambil ikut berbaring di sampingku sebelum mengeluarkan sesuatu dari tas plastiknya.

“Aku mengerti ucapan itu. Ucapan yang penuh dengan luka dan ketidakpercayaan,” gumamku dalam hati.

“Makanlah. Aku tahu kau belum makan. Ini adalah kado dari Tuhan, karena besok terpujilah bagi mereka yang teruji.”

“Malam ini kita akan ke mana?”

“Seperti biasa.”

Selesai makan dia bangkit dan berjalan mengimamiku. Setelah dua kilometer berjalan ke arah selatan Jakarta dia berhenti. Lama dia terdiam memandangi jalan raya yang sunyi. “Setiap aku melihat jalan ini. Aku mendengar suara tangisan perempuan yang sangat kucintai. Tepat di tempat kita berdiri, dulu ada sebuah bangunan, tempat seorang perempuan menghabiskan hari-harinya berdagang dan mengurusi anak semata wayangnya. Namun, hanya karena perempuan itu matanya sipit dan kulitnya kuning langsat ia gagal mempertahankan kehormatannya dari gerombolan pemuda beringas yang mengamuki orang-orang yang dianggapnya berbeda. Sebelum matahari menemukan mayatnya tanpa busana. Dan seisi kota bisu.”

Aku hanya terdiam. Dan ini adalah kali ketiga dia menerangkan pesakitannya. Kemudian dia melanjutkan langkahnya berjalan terus ke selatan. Di langit kembang api berhamburan mengalahkan cahaya bintang. Teriakan, nanyian, dan bahasa-bahasa kebahagiaan menggema mengepung Jakarta. Di depan bangunan tua–gedung yang mangkrak. Puluhan manusia sedang bersukacita. Anak-anak kecil terlihat teler sambil menggenggam aica aibon. Di sampingnya sepasang remaja sedang bercumbu. Wajah mereka terlihat dekil, bajunya compang-camping. “Mereka senasib denganku. Yang membedakan adalah kelapangan. Aku tak pernah menginginkan nasib ini, begitupun mereka. Namun, keadaan telah memperkosanya di saat tangan negara terikat.”

Dia masih saja terus berjalan dan membawaku ke tempat-tempat yang tak terduga. Melintasi kerumuan perempuan yang sedang memperjualkan keindahan bentuk tubuhnya, melewati rumah mewah dan anjing akan menggonggongi kami, melewati gelandangan yang sedang berbaris tidur di emperan, menyaksikan pemulung mengaisi botol air mineral dan sampah plastik lainnya yang berceceran dengan alat kontrasepsi.

“Dengarlah tangisan bayi-bayi di balik gerobak itu. Bayi malang itu adalah anak kandung jalan raya.” Sambil mengoceh dia terus berjalan hingga membawaku ke tempat yang setiap hari aku singgahi. “Di gedung yang menjulang inilah anak-anak muda meletakan harapannya. Begitupun kau, Nak.” ujarnya. Kulihat jam di tanganku: 05.20. Lebih dari tiga jam aku berjalan tanpa tujuan. Sudah seminggu setiap malam aku melakukan ritual gila ini. Karena diliputi keingintahuan aku bertanya, “Apa yang sebenarnya yang ingin Pak Tua ajarkan padaku?”

“Pelajaran yang tak kaudapat di kelas. Apa saja yang sudah kuterangkan tentang apa yang kita lihat?”

“Kejahatan, kemiskinan, ketiadakadilan, penindasan, keputusasaan, dan kemuraman.”

“Maka itulah yang ingin kuajarakan pada manusia berpendidikan sepertimu: menggugah kesadaran. Kota Jakarta ini sunyi dari kenegarawanan, kedermawanan, dan budaya filantropia. Aku hanyalah satu dari korban kebisuan hukum yang gagu, yang mabuk dan sempoyongan, serta patuh pada uang sebagai lembaga tertinggi. Aku hanyalah satu dari sekian korban pendidikan yang angkuh. Aku hanyalah satu dari sekian korban pembangunan yang keras kepala. Orang seperti aku adalah kesunyian yang bahasanya tidak mungkin di dengar. Semuanya bagiku adalah kebisuan. Kehormatan orang seperti tidak lebih mahal dari botol air mineral. Belajarlah dengan baik. Apa yang kau tanam itulah yang akan kaupetik. Itulah hakikat hidup,” terangnya sebelum ia pergi meninggalkanku.

“Inilah kebisuan hidup yang selama ini tidak pernah kudengar suaranya di dalam kelas. Kesadaran adalah tisu di tong sampah. Berbahagialah anak muda yang hatinya tidak diliputi kegelisahan, setidaknya ia tidak akan dituntut oleh tanggung jawab sosial,” kataku pada diri sendiri.

“Maaf Mas gerbang kampus baru dibuka jam enam pagi. Ini hari masih gelap,” kata satpam di balik gerbang.

Arian Pangestu

Arian Pangestu

aktif di sekolah feminisme. Tertarik dengan bahasa kemanusiaan: kebebasaan, kesetaraan, dan keadilan.

More Posts

Beri Komentar