Paradoks Ayat Perang dan Ayat Rahmatan Lil Alamin Dalam Al-Quran

Berdasarkan survei Wahid Fondation tahun 2016, sebanyak 7,7 persen muslim di Indonesia bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal. Namun, meski hanya sebesar 7,7 persen, persentase tersebut cukup mengkhawatirkan. Sebab persentase tersebut menjadi proyeksi dari 150 juta umat Islam Indonesia. Artinya jika diproyeksikan, terdapat sekitar 11 juta umat Islam Indonesia yang bersedia bertindak radikal.

Realitas tersebut tentu tidak boleh dianggap sederhana. Laju perkembangan radikalisme agama yang terus meningkat di Indonesia ini harus segera direduksi, agar ke depan kehidupan beragama dalam masyarakat yang majemuk ini dapat berlangsung damai. Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk menanggulangi radikalisme, seperti cara kebudayaan, politik, ekonomi, sosial, keagamaan, dll. Dalam esai ini saya hanya akan berfokus pada cara keagamaan, yaitu dengan cara menghadirkan pemahaman keagamaan yang mampu menghalangi laju perkembangan radikalisme agama. Saya akan berusaha untuk menghadirkan pendekatan “baru” untuk dalam memahami agama, agar kita tidak terjebak dalam pemahaman-pemahaman keagamaan yang radikal, yaitu pendekatan kontekstual.

Bagaimanakah model pendekatan ini diterapkan? Saya akan memulai dengan mengenalkan dasar utama dari pendekatan ini. Dasar utama dari pendekatan kontekstual ini adalah prinsip bahwa Islam itu adalah agama yang rahmatan lil alamin. Ini diambil dari Al-Quran surat al-Anbiya’ ayat 107. Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

Dasar yang lain diambil dari hadis Rasulullah yaitu, “Seseorang itu tidak akan pernah masuk surga kecuali orang yang dalam hatinya penuh kasih sayang”.

Dengan ayat al-Quran dan hadis di atas, maka saya mengatakan bahwa dasar utama yang harus ditekankan dalam memahami agama Islam kontekstual adalah agama yang cinta damai. Islam adalah agama yang penuh dengan pesan-pesan kedamaian. Prinsip ini harus dipegang teguh di setiap kita mau memahami pesan-pesan keagamaan, dalam hal ini al-Quran.

Lantas, yang menjadi pertanyaan kemudian, bagaimana dengan ayat-ayat perang? Bukankah di dalam al-Quran juga ada ayat-ayat yang menganjurkan peperangan? Di sinilah kemudian pendekatan kontekstual menjadi penting. Pendekatan kontekstual ini adalah pendekatan yang berusaha untuk memahami makna asli dari ayat-ayat al-Quran, sembari kemudian mengembangkannya dengan signifikansi pada masa sekarang.

Dalam khazanah pemikiran tafsir al-Quran itu ada tiga aliran besar. Pertama, aliran literal, yaitu mereka berusaha untuk memahami al-Quran dengan memperhatikan makna asal (konservatif). Kedua, aliran subjektivis. Dalam aliran ini kuasa mufassir sangat dominan, sehingga abai terhadap makna asal. Ketiga, aliran tengah atau kontekstual. Dalam aliran ini, keduanya sama-sama mendapatkan porsi, baik yang literal maupun subjektivis.

Tahapan-tahapan atau metode penerapan pendekatan kontekstual yaitu: pertama, dengan cara menangkap makna asli. Ini dapat dilakukan dengan cara menguasai bahasa arab klasik, mamperhatikan intertekstualitas makna, memperhatikan konteks sejarahnya, dan terakhir yang terpenting menangkap maksud utama ayat. Kedua, dengan cara mencari signifikansi ayat. Ini bisa dilakukan dengan cara memperhatikan klasifikasi ayat-ayat al-Quran secara tematik, mengembangkan makna dengan memperhatikan konteks kekinian, menangkap makna simboliknya, dan terakhir menafsirkannya dengan memperhatikan keilmuan-keilmuan yang lain.

Model pendekatan kontekstual ini harus diterapkan dalam memahami ayat-ayat perang supaya kita tidak terjebak dengan pemahaman agama yang radikal. Ayat-ayat dalam al-Quran itu ada dua macam, yaitu ayat muhkam dan ayat mutasyabihat. Dari sekian banyak definisi tentang ayat muhkam dan ayat mutasyabihat yang pernah berkembang saya senada dengan pemahaman yang m kontekstualnyatakan bahwa ayat muhkam adalah ayat yang makna literalnya tidak bertentangan dengan prinsip utama di atas, Islam rahmatan lil alamin. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat makna literalnya bertentangan dengan prinsip utama di atas.

Mengingat ayat tentang dibolehkannya perang itu bertentangan dengan prinsip utama tadi, maka ia termasuk kedalam ayat mutasyabihat, sehingga dalam memahaminya diperlukan pendekatan tersendiri, yaitu pendekatan kontekstual. Contohnya, dalam memahami ayat pertama tentang diidzinkannya perang.

QS. al-Hajj; 39-40, Artinya: Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.  (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Untuk memahmi ayat tersebut mula-mula kita harus tahu sejarahnya, mengapa perang kemudian diijinkan. Kalau ditelusuri asbanun nuzulnya (sejarah turunnya ayat), izin berperang tersebut dilatarbelakangi oleh kedzaliman yang dilakukan oleh musyrikin Makkah. Mereka kaum muslim diusir dari tanah kelahirannya oleh musyrikin Makkah hanya karena mereka beragama Islam. Dalam sejarah banyak dicatat bahwa sewaktu di Makkah, nabi dan sahabat-sahabatnya sering mendapatkan perlakuan tidak adil, tetapi mereka selalu bersabar. Baru setelah turun ayat tersebut nabi mulai melakukan perlawanan atas mereka.

Selain itu, jika ditelusuri secara linguistik, kata udzina adalah bina’ majhul atau pasif. Salah satu ciri dari bina’ majhul adalah subjeknya disembunyikan. Dalam kasus ayat ini, subjeknya adalah Allah, tetapi kata Allah tidak disebutkan secara langsung. Hal ini karena, ayat tersebut adalah ayat perang, maka Allah pun malu untuk secara langsung menyebutkan namanya. Bertolak dari itu, maka dapat dikatakan bahwa ayat-ayat perang itu sejatinya tidak mengandung pesan bahwa Islam adalah agama yang suka perang.

Akhirnya, ada dua makna yang bisa disematkan untuk ayat-ayat perang dalam al-Quran, pertama, makna agar menghilangkan kadzaliman, karena diijinkannya peran dalam ayat al-Quran alasan utamanya adalah karena umat muslim kala itu didzalimi. Kedua, makna yang berikutnya adalah kebebasan beragama. Kalau diteusuri, mereka kaum muslimin di Makkah, mendapatkan kedzaliman hanya karena mengaku muslim. Selain itu, dalam ayat tadi juga disebutkan secara eksplisit bahwa diijinkannya peran itu untuk melindungi, gereja-gereja, sinagok-sinagok, masjid, dan tempat-tempat ibadah yang menyematkan nama Allah di dalamnya. Oleh karena itu, sebenarnya adanya ayat perang itu tidaklah berarti izin perang semata, melainkan agar para pembaca al-Quran dapat menghargai kebebasan untuk beragama dan tidak burtindak dzalim.

Muhammad Arif

Muhammad Arif

Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

More Posts

Beri Komentar