Orang “Timur” Tidak Ke-Timur-An

orang yang tinggal di belahan dunia bagian timur dikenal sebagai orang yang mempunyai social culture yang tinggi, ternyata hanya sebuah persepsi orang yang tidak mengetahui”

Indonesia termasuk dalam negara yang terletak di belahan dunia bagian timur. Orang yang tinggal di bagian timur, selalu dianggap sebagai orang mempunyai budaya sosial yang tinggi dibandingkan dengan orang yang tinggal di belahan dunia bagian barat. Oleh karena itu, orang ‘timur’ dianggap sebagai orang yang memiliki sikap ramah, tenggang rasa, sopan santun, tata krama dan toleransi yang tinggi terhadap sesamanya. Orang ‘timur’ juga mengedepankan jalinan silaturahmi dan adat istiadat yang masih kental dengan nilai budayanya. Tapi siapa sangka jika orang ‘timur’ sendiri tidak mempunyai sikap adat yang sesuai dengan persepsi kebanyakan orang yang melihat? Persepsi ini berawal ketika beberapa hari yang lalu, saya membeli salah satu produk IT jenis notebook di sebuah outlet cukup besar. Outlet tersebut mempunyai cabang yang baru-baru ini dibuka di kota tempat saya tinggal.  Outlet ini cukup terkenal penjualan produk komputer, gadget dan smartphone dengan  berbagai macam diskon dan penawaran yang cukup menggiurkan.

Melihat mewahnya bangunan dan furnitur didalamnya terlihat costumer hanya orang ber-‘uang’ yang mampu bertransaksi. Saya waktu itu berpenampilan biasa saja, berkemeja kotak, rok cukup lusuh dengan jilbab rabbani merk keluaran zaman purba. Pelayanan didalamnya cukup membuat kaget karena ada beberapa masalah yang tidak sesuai dengan outlet yang menjual produk IT pada umumnya. Lebih parahnya lagi, pelayanan yang tidak layak tersebut hanya ‘saya’ yang mendapatkan. Mulai dari penyambutan yang tidak ramah, pelayanan install aplikasi, kesalahan nota bertransaksi, pemeriksaan barang, sampai tidak lengkapnya fasilitas yang seharusnya didapatkan seorang customer. Berdasarkan pengalaman tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat pelayanan oleh karyawan di tempat tersebut tidak profesional. Di luar konteks profesional, sebagai orang ‘timur’ tidak menerapkan budaya ke-‘timur’-an yang seharusnya diterapkan seperti persepsi yang ada.

Indonesia mempunyai social culture yang tinggi, senyatanya hanya buah bibir untuk meningkatkan martabat orang ‘timur’. Orang ‘timur’ tidak ber-‘adat’ timur tetapi mereka ingin ber-‘adat’ barat. Hal ini dibuktikan dengan bertambahnya kecanggihan teknologi, adat ‘timur’ semakin terpuruk. Orang yang bertetangga tidak saling mengenal, orang berkumpul hanya untuk bermain gadget, orang bertemu tidak saling menyapa, orang berpendapat tidak saling menghargai, dan orang yang ber-‘kontra’ saling menyalahkan. Kondisi itu adalah indonesia saat ini. Mirisnya, hal itu terjadi pada generasi muda, generasi yang katanya ‘agen of change’, mengkoar-koarkan pengukuhan nilai-nilai pancasila dan demokrasi. Mereka tidak mengakui ke-‘timur’ an, karena memandang dengan mindset ‘barat’ dengan budaya seperti itu adalah kemajuan.

Pengakuan terhadap budaya ‘barat’ atas keberhasilannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan kemajuan negara memang tidak dapat dipungkiri. Tapi, bukan berarti ‘timur’ harus mengubah ‘budaya’ dan ‘potensi’ yang ada di dalamnya. ‘Timur’ juga luar biasa seperti ‘barat’ tanpa harus ‘budaya’ yang sama. ‘Timur’ hanya tidak mengenali ‘potensi’ dan tidak ber-‘mental’ dalam berkarya. ‘Timur’ tidak kekurangan orang pintar untuk bersaing, tapi hanya berfokus pada ‘kaca’ barat tanpa melihat dirinya dengan menjejalkan segala sesuatu yang seharusnnya tidak dibutuhkan. ‘Timur’ tidak menggunakan segala sesuatunya dengan maksimal, menggunakan untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

‘Timur’ hanya melihat budaya ‘barat’ tanpa melihat prinsip kerja, kedisiplinan, dan orientasi peluang di masa depan. ‘Timur’ masih berorientasi pada sejarah, tanpa melihat kedepan. Sejarah memang untuk dikenang dan diambil pelajarannya, tapi masa depan tidak berpacu pada sejarah. Adat ke-‘timur’-an tidak perlu dihilangkan hanya karena ‘barat’ tidak menerapkan adat ‘timur’. ‘Timur’ juga tidak perlu menghilangkan identitas untuk dapat maju seperti ‘barat’.

Melihat keadaan tersebut, sudah bukan saatnya kita sebagai orang ‘timur’ melakukan hal yang sama untuk terlihat up to date. Indonesia bisa berkarya bersama tanpa membodoh-bodohkan orang yang berbeda pendapat, menudungkan kata-kata tanpa mempersepsikan pendapat orang lain. Seharusnya yang perlu diingat, kita Indonesia dan kita bukan ‘rival’ tetapi kita adalah team. Indonesia tidak akan ketinggalan dengan kemajuan teknologi ‘Artificial Intelegent’ dan peluru ‘butterfly’ jika mampu menepis ke-‘egois’-an agar terlihat baik di mata orang.

Mulyaningsih

Mulyaningsih

Mahasiswa Tadris IPA IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar