‘Orang-orang Biasa’ yang tak Biasa

KETIKA pertama kali memegang buku ini—sebelum memutuskan membelinya—di sebuah toko buku yang lengang, saya tertarik dengan judulnya; “Orang-orang Biasa.” Saya penasaran, apa yang bakal saya temui dalam novel ini? Dan, seperti apa ‘Orang-orang biasa yang Andrea Hirata maksud? Hingga, pada akhirnya, saya benar-benar menemukan “sesuatu” setelah novel ini berhasil saya pindah-tangankan dari rak toko ke lemari saya dan seberes jari jemari membuka lembar demi lembarnya.

Pertama, novel ini memiliki banyak tokoh. Sehingga, kerap membikin fokus saya hilang ketika membacanya. Namun, hal itu tidak terlalu menggangu. Sebab, Hirata berhasil mengimbanginya dengan racikan bahasa yang renyah dan luwes, ditambah lagi dengan alur cerita yang menarik—yang membikin saya mudah memahaminya. Saya tertarik dengan cara Hirata menggambaran kisah dengan detail. Saya seperti diajak masuk ke dalam kisahnya dan merasakan apa yang tokoh itu rasakan. Misalnya, ketika tipo menulis pesan dan hal itu membuat geli diri sendiri. (hal. 137) Atau pada saat terjadi kejadian yang menegangkan, dan karena sangat gugup, kata-kata penting yang seharusnya diucapkan menjadi belepotan (hal. 257).

Selain itu, konflik yang dibangun awalnya bervariasi. Namun, saat sampai pada klimaknya, saya menemui benang merah yang menjadi titik temu kisahnya. Saya pikir, keberagaman dan keunikan konflik dalam novel ini patut untuk dialih-wahanakan menjadi teater atau sebuah film.

Novel ini menggambarkan sebuah kota yang bernama Belantik, di mana tingkat kriminalitasnya sangat rendah. Sehingga, membuat aparat penegak hukum tidak mempunyai pekerjaan apa pun, selain membuat surat keterangan kelakuan baik untuk warganya.

Salah satu tokoh yang saya idolakan ialah Inspektur Abdul Rojali. Sebab,ia memiliki idealisme yang sangat kuat dalam menegakkan hukum. Begini penggambarannya, suatu hari pernah berkata kepada bawahannya: “Dunia ini rusak gara-gara banyak bawahan yang suka melapor pada atasan asal atasan senang saja. Sersan! Bawahan semacamitu adalah para penjilat! Kalau melaporkan apa pun pada saya, apa adanya, Sersan. Jangan dikurang-kurangi, jangan dilebih-lebihi.” Kata-kata itu kemudian dipegang teguh oleh sersan P. Arbi (hal 48).

Inspektur merupakan sosok penggemar berat Shah Rukh Khan. Ia selalu membayangkan dapat menangani kasus kejahatan, kemudian mengatakan beberapa kalimat kepada korbannya. Kalimat itu adalah cuplikan dari adegan Shah Rukhan dalam sebuah film yang isinya seperti ini:

“Tatap, tatap mataku, aku berjanji padamu akan menangkap pelaku kejahatan ini. Atas nama pusara ayahku, aku akan mengejarnya sampai ke ujung dunia sekalipun. Kebenaran pasti akan mengalahkan kezaliman. Tatap, tatap mataku….(hal 14)”.

Selain tokoh dari kepolisian di atas, masih ada beberapa tokoh yang menjadi pusat perhatian dalam cerita. Mereka adalah sepuluh kawan yang bodoh dan sering menjadi korban bully di sekolah dasar. Persahabatan mereka tetap awet sampai mereka menjadi dewasa dan berkeluarga. Sejatinya, mereka adalah sekumpulan orang biasa, orang yang hidup seperti orang kebanyakan,dan tak ada yang istimewa.

Namun, nasib buruklah yang membuat mereka harus melakukan perampokan di sebuah bank. Hal itu mereka lakukan  demi menyekolahkan seorang anak dari salah satu sepuluh kawan. Ia anak yang cerdas dan berhasil lulus tes ujian masuk Fakultas Kedokteran. Namun, karena tidak punya biaya, anak itu tidak dapat melanjutkan studinya—di mana kita tahu bahwa kuliah di fakultas kedokteran membutuhkan biaya besar.

Di lain pihak, terdapat sekelompok sahabat yang dulu sewaktu sekolah sering menjadi pelaku bully. Perilaku mereka terbawa sampai mereka dewasa. Sehingga, mampu membikin konspirsi besar pencucian uang dengan modus Toko Batu Mulia. Akan tetapi, pada akhirnya sepuluh sekawan bodoh tadi menjadi pahlawan yang membuat mereka tertangkap tanpa diketahui oleh khalayak, termasuk Inspeketur Abdu Rojali.

Setelah membaca novel ini, saya mendapat pengetahuan baru. Bahwa orang-orang biasa seperti kita dapat berbuat yang “tak biasa” dalam keadaan mendesak. Saya juga bisa lebih menghargai siapapun dengan profesi apa pun yang mereka jalani. Dan Andrea Hirata berhasil menulis nilai-nilai yang selama ini tidak kita sadari dalam kehidupan sehari-hari.

Andrea Hirata mempunyai caranya sendiri dalam menulis. Ia dapat meramu kata, alur, dan tokoh yang dapat menjangkau semua kalangan. Kritik dalam novel ini disampaikan dengan baik. Tidak teralu frontal dan tetap terbingkai dalam bahasa sastra. Pesan moral yang dituangkan menginspirasi saya, membikin saya tergugah. Novel seperti inilah yang dibutuhkan oleh bangsa kita. Novel yang kental dengan nilai sosial dan kepahlawanan, yang disajikan melalui sudut pandang yang berbeda.

Satu hal lagi yang saya garis bawahi, bahwa orang biasa bisa menjadi orang yang tak terduga. Dalam keadaan mendesak mereka dapat berbuat luar biasa—seperti sepuluh kawan yang digambarkan dalam novel ini. Ditambah lagi akhirnya  mereka tetap memegang teguh hati nurani yang dititipkan Tuhan pada mereka.

 

/Ponorogo, Juni 2019

 

Penulis             : Andrea Hirata

Judul               : Orang-orang Biasa

Penerbit           : Bentang Pustaka

Tahun Terbit    : 2019

Jumlah Hal.     : 262 hal.

ISBN               : 978-602-291-524-9

Foto                 : Dokumentasi Pribadi

Sindi Kartika

Sindi Kartika

Ketua komunitas Laskar Sastra Muda dan bendahara Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Tinggal dan menetap di Ponorogo.

More Posts

Beri Komentar