Oktoberia: Merayakan Hari Kemenangan Pancasila, Santri dan Pemuda

Oktober menjadi salah satu bulan yang bersejarah. Tercatat ada tiga momentum penting dalam bulan Oktober. Pertama, diawali pada tanggal 1 Oktober yang dikenang sebagai hari kesaktian Pancasila. 1 Oktober menjadi penanda tegaknya ideologi Negara paska ditumpasnya gerakan partai komunis (PKI) yang dikenal dengan Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau G-30S PKI. Kesaktian Pancasila diuji sejak kelahirannya oleh kelompok-kelompok yang kontra dengan ideologi Negara.  Lipatan sejarah sudah menunjukkan bagaimana Pancasila melewati beragam gugatan dan ancaman untuk digeser dan digantikan dengan ideologi lain.

Belum lama Negara menghirup udara kemerdekaan, gugatan atas Pancasila secara terang-benderang digaungkan oleh partai komunis (PKI) yang kemudian memicu terjadinya tragedi 1948 di Madiun. Tak berselang lama pada tahun 1949, Pancasila juga digugat dengan munculnya NII (Negara Islam Indonesia) yang juga dikenal sebagai gerakan DI/TII.  Disisi lain Negara harus menghadapi agresi militer Belanda secara bertubi-bertubi untuk menguasai kembali kedaulatan negara dan mengoyak Pancasila. Daya tahan Pancasila terbukti sudah teruji dari zaman kezaman. Dengan demikian kesaktian Pancasila tidak diragukan apalagi dipersoalkan. Kesaktian Pancasila tidak hanya menunjukkan kemenangan negara tetapi juga kemenangan warga negara yang ikut serta atas kokohnya infrastruktur identitas dan ideologi negara.

Kedua, tanggal 22 Oktober yang ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Santri menjadi salah satu elemen penting yang memiliki saham atas kemerdekaan negara. Perjuangan para santri dalam mempertahankan kedaulatan tercatat dalam sejarah heroik yang dikenal dengan gerakan “Resolusi Jihad”. Atas restu dan komando Sang Maha Guru, Hadratussyaikh Hasyim Asyari, para santri berjuang menegakkan kedaulatan negara yang terwadahi dalam laskar hizbullah dan sabilillah. Bagi santri menjaga dan mempertahankan kemerdekaan Negara merupakan bagian dari kewajiban menegakkan agama. Hubbul Wathan Minal Iman.

Panglima Tertinggi Hizbullah, KH Zainul Arifin bersama Laskar Sabilillah mengerahkan pasukannya untuk mempertahankan negara dan mengusir pasukan sekutu dan NICA yang berniat ingin menguasai kembali Indonesia. Resolusi Jihad juga diyakini mempunyai kontribusi besar atas Peristiwa 10 November 1945 yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Bung Tomo atau Sutomo, pemimpin perjuangan pertempuran 10 November juga diketahui mempunyai hubungan yang dekat dengan kalangan muslim moderat. Maka peran para santri dalam perjuangan menjaga dan menegakkan kemerdekaan melalui gerakan resolusi Jihad menjadi fakta sejarah yang tidak terbantahkan. Tanggal 22 Oktober menjadi penanda kemenangan kaum santri dalam mengawal kedaulatan negara dari ancaman dan gugatan kolonial.

Ketiga, tanggal 28 Oktober yang populer dikenal sebagai Hari Sumpah Pemuda. 28 Oktober menjadi momen penyatuan cita-cita sekaligus perekat identitas nasional yang tertuang dalam jargon satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda menjadi pilar lahirnya “1 Indonesia” dimana benih-benih kemerdekaan sudah ditanam oleh Pemuda semenjak tahun 1928. 28 Oktober juga menandakan munculnya nasionalisme kebangsaan bukan atas sentimen keagamaan, kesukuan dan kedaerahan. Melalui Sumpah Pemuda semangat untuk meneguhkan cita-cita besar lahirnya kemerdekaan dan berdirinya suatu negara yang berdaulat diprasastikan. Pemuda menjadi tonggak penentu hadirnya akan tanah air yang satu, bahasa pemersatu dan bangsa yang bersatu dibawah panji yang sama, 1 Indonesia. Sumpah Pemuda menjadi dentum perubahan yang nyata bagi lahirnya nasionalisme kaum muda.

Maka, bulan Oktober ini seyogyanya dijadikan momentum persatuan antar elemen bangsa. Apalagi di tahun politik yang seringkali menghangat dan rentan terjadi perpecahan dan perseteruan sesama warga negara. Sudah saatnya menanggalkan ego komunal, primordialisme lokal dan fanatisme individual. Mari menyeduh kopi bersama untuk merayakan perbedaan dengan kegembiraan di sepanjang bulan Oktober ini. Bulan yang telah diwariskan semangat kemenangan khususnya bagi generasi muda sebagai pemegang saham perubahan. Selamat ber-Oktoberia.

Arik DJ

Arik DJ

Mahasiswa Program Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Ketua IKA-PMII IAIN Ponorogo, Ketua Lembaga DIUN (Dakwah Insuri Untuk Negeri)

More Posts

Beri Komentar