Nil

KEPUTUSANKU sudah bulat. Tak ada yang dapat mencampuri pikiranku. Aku tak suka dicampuri. Biarkan aku hanyut di aliran ini. Sudah lama aku ingin hanyut, berenang bersama ikan-ikan yang lucu. Di sana-sini kutemui wana yang elok. Aku melihat aneka tetumbuhan langka. Tetumbuhan itu rimbun dan menjulang. Aku juga dapat melihat aneka satwa di bibir sungai yang kebetulan sedang minum. Indah. Indah sekali. Jalan ini ialah jalan yang kutempuh. Sebuah jalan untuk melupakan.

***

Sebelum bibirmu mengucap kata itu, aku sudah memperkirakannya sejak dulu. Sejak nasi aking terasa hambar di lidah. Sejak cerlang matamu tak kutemui di selasar—sebuah tempat yang sering kita singgahi. Kala itu, gerhana keluar dari rumah, beranjak pergi dan menyisakan gulita. Gulita yang kawin dengan sepi.

Tubuhmu serupa ular yang menggigit tanganku hingga racun itu membikinku candu. Tiap malam aku jadi ingat saat sendiri, di mana air yang kuteguk terasa asin. Semua karena ulahmu. Meski kusadar, memilikimu ialah sebuah kenisbian, tapi tekadku seperti rel kereta api yang tiap waktu dilalui tanpa rasa ingin menumpangi. Hingga akhirnya, aku mengeladau rembulan agar selamat dari siang—terik yang menyayat ulu hatimu.

“Kusala!” panggilmu.

“Iya, Wulan. Ada apa? Kau sudah selesai?” aku menanyaimu. Tubuhku keluar dari beranda musala, mendatangimu di terminal.

“Sudah. Sekarang waktunya kita pulang.”

“Busnya sudah dapat?”

Kau mengangguk. Lantas, kau mengajakku menuju kandang bus. Letaknya tak terlalu jauh dari musala. Aku amat riang. Sebab, kau percaya padaku. Meski ada banyak sekali sahabatmu, kau yang menyuruhku untuk menemanimu di sini.

“Aku mau beli air minum dulu.”

“Oke. Aku menunggumu.”

Selang beberapa menit, bus itu melaju pelan, keluar dari terminal Giwangan. Kita akan menuju rumah sembari menunggu kabar—akankah kau benar-benar diterima di perguruan tinggi favoritmu itu atau tidak? Sedang aku hanyalah pengangguran yang tiap waktu menghabiskan hari dengan menyesap kopi.

Selama di perjalanan, kepalamu kau sandarkan di pundakku. Kala itu, hatiku amat senang. Aku seperti melayang ke alam imaji. Bahkan, aku sempat berpikir bahwa ini ialah surga. Rasanya seperti didekap oleh bidadari terbaik dari seluruh kayangan.

“Sayang, aku capek,” keluhmu, menatap mataku yang kikuk.

“Tidurlah,” suruhku. “Tetapi, kalau kau tidur, kau melewatkan pemandangan indah ini. Lihatlah di balik jendela. Kita bisa melihat kekayaan semesta. Bangunan-bangunan yang menjulang dan sawah-sawah rindang.”

Akhirnya, kepalamu benar-benar bersandar di pundakku. Awalnya, kau sempat melihat pemandangan. Tapi, tak butuh matahari berganti senja, kau sudah terlelap. Capek memang bisa membunuhmu. Tapi tak apa-apa. Tidurlah di sini, biar aku yang mengeladaumu dari ingar bingar yang usil.

Nanti kalau kau bangun, aku ingin, hal pertama yang kau lihat ialah wajahku.

***

Sebelum kau benar-benar bangun, aku ingin bercerita. Begini. Sebelum kita berangkat ke terminal Giwangan, kita menyewa jasa GoRide. Kau ingat? Untung saja kita tidak menyewa jasa GoKill, seperti yang disebutkan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya yang terbit di Kompas. Aku takut kita salah panggil. Beruntungnya kita masih teliti. Rasa letih yang mengidap masih bisa dikendalikan.

Kemudian, seminggu yang lalu, kau mengajakku melihat senja di kedai. Tapi, lagi-lagi kita beruntung. Kedai yang kita singgahi bukanlah Kedai Senja yang ditulis oleh Sungging Raga. Andai saja kita keliru, pastilah kita lenyap bersama bidadari-bidadari imaji itu dan digantikan oleh senja yang baru, orang-orang baru.

Kasihku, kau ingat? Aku melarangmu masuk partai. Dulu, sebelum kau memutuskan mendaftar kuliah di sini, kau sempat berniat ikut partai. Lekas-lekas aku melarangmu. Partai itu amat licik. Aku tak ingin kau menjadi budak atau boneka yang dipentaskan oleh orang-orang berduit. Tapi, aku lega. Kau urung masuk partai dan urung diseleksi oleh partai seperti yang termaktub dalam cerpennya Eko Triono.

Kasih, kau ingat? Beberapa bulan yang lalu kita merayakan hari jadi pacaran. Waktu itu mukaku merah tomat. Sebab, aku malu mengingat masa-masa awal kali kita pacaran. Aku tampak seperti bocah ingusan yang polos. Dulu, aku menembakmu saat kita berada di pantai Losari. Ada perpisahan antara matahari dengan senja. Kala itu, saat siluet hadir dan lenyap, aku membual padamu—meski aku menyebutnya sebagai gombalan. Ya, gombalan agar dindingmu rubuh olehku.

“Biarlah aku menjadi matahari untukmu, meski kini senja telah menampakkan diri dan malam telah merajai,” ucapku kala itu.

Kau telah memahamiku sebagai penyair. Hingga, kau tak merasa asing dengan bahasaku. Walau kadang, kau sulit memahaminya. Untung saja kau membalas ucapanku. Katamu, “Tak ada matahari apa pun yang dapat mengalahkan binarmu.”

Dan aku pun sadar. Kau mau menerima kekuranganku.

Kasih, perjalanan demi perjalanan yang kita lalui terasa lucu. Akulah yang merengkuh tubuhmu saat dirimu dicundangi dunia. Tapi, waktu demi waktu, kau mulai bosan denganku. Itu terasa berseberangan dengan rasa sayangku yang kian meluap. Aku sangat takut kehilanganmu.

Seminggu yang lalu itu menjadi saksi akan kisah kita.

Kasih, sebenarnya aku tak ingin menangis. Dan tangisanku menjadi air bah yang melembak ke rumah-rumah, ke sungai, dan ke hutan. Hingga, jadilah air yang menumbuhkan tetumbuhan. Tetumbuhan itu kian rimbun dan menjulang sampai menjadi hutan. Kemudian, orang-orang menyebutnya Hutan Air Mata serupa nama cerpen yang ditulis oleh Mustofa W Hasyim di koran lokal Kedaulatan Rakyat.

Sesungguhnya, aku hanya ingin kau kenang. Bahkan kau rindukan. Sebab, aku percaya bahwa puncak dari kasih sayang itu bukanlah digemari, tapi dirindukan. Seperti halnya aku merindukan Jogja, tempatku belajar serius menulis. Ketahuilah, hal itu sulit kuterima. Sampai kapanpun, aku tak ingin kau pergi dariku.

***

Bus masih melaju. Tapi ini bukan bus yang kita tumpangi di terminal Giwangan. Dulu kita menyimpan cerita. Aku menemanimu mendaftar kuliah di Jogja. Kau ingat saat itu? Kupikir, ketika kau mengajakku ke Jogja, kau mengistimewakanku. Sebab, kau punya banyak sahabat, tapi kau memilihku sebagai teman di perjalanan. Namun, ternyata itulah saat terakhir kita terikat.

Empat tahun kau kuliah di Jogja, kupikir kita akan terikat sampai menikah. Nyatanya, kau memilih untuk melupakanku dan tidak merindukanku sama sekali. Kau tahu? Hatiku seperti gelas-gelas yang jatuh bersepai; hancur berantakan. Kini, aku memutuskan untuk pergi jauh darimu. Tersebab, kau sudah punya lelaki lain yang kau temui di bangku kuliahmu. Lelaki yang kau idamkan semasa kuliah. Aku mengerti, kau kuliah di Jogja hanya untuk menjemput lelaki yang kau kenal di bangku SMA.

Jika disuruh memilih, aku memilih hanyut di sungai Nil, bukan hanyut di kereta api Argo Senja. Sebab, bila aku menulis cerpen ini di Argo Senja, itu artinya aku sudah melakukan plagiasi. Melupakan seseorang di kereta api Argo Senja sudah ditulis oleh teman baikku, Sungging Raga di koran Kedaulatan Rakyat. Makanya, aku memilih hanyut di sungai Nil yang kutulis sendiri.

Kau tahu? Dengan hanyut di sungai Nil, aku bisa melupakanmu dengan sempurna. Dengan mengelilingi beberapa negara, dengan melihat tetumbuhan yang terus tumbuh menjulang, dengan melihat satwa liar yang sebelumnya belum pernah kulihat. Dengan begitu, aku bisa jauh melupakanmu. Meskipun aku tak tahu, ke mana sungai ini akan membawaku. Kuharap, sungai ini akan membawaku ke surga.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar