Najib Mahfudz: Percikan Nilai Kritik Sastra Arab Feminis

Siapa yang tak kenal Najib Mahfudz? Nama ini jelas tidak asing bagi pegiat sastra Arab dan mahasiswa prodi Bahasa dan Sastra Arab. Najib Mahfudz (1911), adalah seorang sastrawan Arab modern, cerpenis, dan novelis berkebangsaan Mesir yang berhasil meraih nobel dalam bidang sastra di tahun 1988. Selain cerpenis, ia juga termasuk koreografer. Beberapa karyanya sempat diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia dan mendapat apresiasi lebih di belahan dunia.

Salah satu kisahnya adalah saat Mahfudz menulis novel terbaiknya dengan judul “Auladu Haratina” atau dengan istilah Indonesia “Anak-anak Gabalawi” di tahun 1959 yang endingnya mendapatkan kritikan dari kritikus sastra, peemrintah Mesir, dan sebagian masyarakat. Novel tersebut dilarang keras untuk dikomersilkan di Mesir karena dianggap menghujat Allah dan agama Abrahamic Monotheistic, Islam, dan Kristen. Bahkan, Mahfudz dituding sesat saat itu oleh Mufti setempat dan memancing gerakan ekstrimis oportunis Islam untuk membunuh novelis tersebut karena terkontaminasi legitimasi fatwa.

Anak-anak Al-Gabalawi dipersonifikasikan Mahfudz sebagai anak-anak yang memiliki kuasa, otoritas, dan kehendak mutlak. Sinopsis cerita novel ini berkaitan erat dengan budaya patriarki dalam keluarga. Ketika seorang ayah yang memimpin keluarga kecil dengan otoriter dan selalu menghukum putra-putrinya, bahkan istrinya sendiri, dianalogikan dengan sikap Tuhan yang dapat memberi siksaan dan hukuman bagi setiap manusia yang durhaka.

Al-Gabalawi memiliki lima anak, yakni Idris, Abbas, Ridwan, Jalil, dan Adam. Dalam Al-Qur’an, Tuhan telah menunjuk manusia sebagai khalifah terbaik di dunia yang mengalahkan makhluk lain, sehingga membuat iblis dengki kepada Adam dan menggugat Tuhan. Adam diciptakan dari sepotong tanah yang tidak memiliki daya, dan Iblis merasa lebih mulia dari Adam karena diciptakan dari api.

Kisah ini dilukiskan oleh Mahfudz bahwa Al-Gabalawi memilih Adam untuk menjadi imam dan paling berhak mengurus tanah wakaf dibanding saudara-saudaranya, padahal Adam adalah anak yang paling dihinakan oleh saudara tirinya karena terlahir dari ibu seorang budak. Saudara-saudara Adam menuai protes kepada ayahnya sebagaimana Iblis menggugat Tuhan karena merasa lebih berhak memimpin dan lebih mulia.

Adam dipilih oleh Al-Gabalawi karena diyakini memiliki kemampuan yang lebih dibanding saudaranya dalam bidang berhitung, analisis, dan mengelola perwakafan, sehingga membuat saudaranya iri termasuk Idris yang akhirnya hengkang dari rumah. Ini yang dilukiskan Mahfudz bahwa Tuhan memilih Adam menjadi pemimpin di bumi karena Adam memiliki akal, dan Adam lah yang telah diajari segala hal di surga, sehingga membuat Iblis hengkang dari surga.

Sinopsis novel inilah yang tidak bisa diterima oleh ulama Mesir saat itu. Al-Gabalawi dipersonifikasikan sebagai Tuhan. Sebagian kelompok Islam menjustifikasi murtad Mahfudz. Mahfudz mendapat perlakuan terkucil saat itu. Meskipun demikian, tidak sedikit mengurangi semangat Mahfudz untuk terus berkarya dalam bidang sastra. Bagi dirinya, sastra merupakan kebutuhan hidup yang terus mengalir dalam kepribadiannya. Dengan sastra, ia tumbuh menjadi salah satu pemikir muslim yang berpengaruh di Timur Tengah. Beberapa karya dalam bentuk cerpen dan novel yang ditulisnya memiliki popularitas tinggi yang terkadang menuai pro dan kontra.

Sastra adalah pengungkapan dari fakta-fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (Esten: 1978). Bahasa dari karya sastra dapat menimbulkan multi interpretasi tergantung subjektivitas interpreter yang terkadang menjadi disfungsi pesan, dan oposisi makna. Seperti yang diketahui bahwa dalam karya sastra merupakan hasil imajinasi yang bersifat intuitif dari gejala spekulasi seni, empati, perasaan, gejolak pikiran dan hati yang diekspresikan dalam sebuah narasi. Karya sastra lisan dan tulisan dapat dinarasikan dengan bentuk yang terkadang tidak ilmiah. Meskupun demikian, bukan berarti karya sastra tidak memiliki validitas ilmiah jika diontologikan sebagai disiplin ilmu. Validasi keilmiahan karya sastra tidak seperti penelitian yang lain yang diukur dari kausalitas variabel.

Sinopsis novel Mahfudz dengan judul “Anak-anak Gabalawi” demikian mengandung nilai-nilai sastra feminis. Feminisme adalah gerakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di segala bidang baik politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan kegiatan terorganisasi yang mempertahankan hak-hak serta kepentingan perempuan (Sugihastuti: 2002). Sastra feminis berusaha melihat perempuan memiliki aktivitas dan inisiatif sendiri untuk mempergunakan hak dan kepentingan tersebut dalam berbagai gerakan. Perempuan tidak bisa dipandang sebelah mata. Harkat perempuan diletakkan dengan posisi yang sama dengan laki-laki. Pelajaran yang dapat dipetik dari sinopsis novel karya tersebut adalah :

Pertama, perempuan dapat menjadi pemimpin hebat. Sebagai seorang pemimpin terkadang harus memiliki sikap pemberani dan mental yang biasanya belum tentu diterima orang lain. Syarat utama seorang pemimpin adalah mampu mengayomi yang dipimpin. Berbagai bentuk karakter manusia yang dipimpin akan menambah kedewasaan pemimpin. Dengan disibukkan memahami berbagai karakter orang lain, maka akan lahir pemimpin yang hebat. Pemimpin tidak boleh lengah jika mengalami kritikan dari orang lain asal ia berpegang teguh dengan prinsip yang dibangun sejak dini. Pemimpin tidak harus didominasi laki-laki. Perempuan yang memiliki kecerdasan, kredibilitas, dan loyalitas yang baik sangat layak dijadikan pemimpin. Seperti yang telah kita ketahui saat ini banyak perempuan menduduki posisi penting dalam pemerintahan, lembaga pendidikan, LSM, dan berbagai mitra lembaga sosial. Hakikat peran perempuan sebagai seorang pemimpin sebenarnya sudah tercermin semenjak zaman Rasulullah Saw. Salah satu contoh adalah Aisyah RA yang merupakan istri Rasulullah Saw. Aisyah banyak membantu Rasulullah Saw dalam menyebarkan agama Islam karena keluasan ilmu dan kecerdasannya. Bahkan, saat Rasulullah Saw wafat, ia sempat menjadi guru besar dalam bidang fiqh yang menjadi rujukan oleh beberapa ulama saat itu.

Kedua, menghapus budaya patriarki. Saat ini budaya patriarki sudah tidak berlaku. Budaya patriarki merupakan budaya peninggalan masyarakat Arab Jahiliyyah yang memposisikan perempuan sebagai kaum marginal. Setiap bayi perempuan yang terlahir di masa Jahiliyyah menjadi pengganggu stabilitas masyarakat ke depan, sehingga banyak bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup.

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan peran yang sama dan fungsi yang berbeda. Peran yang sama adalah setiap manusia mempunyai tanggung jawab untuk memakmurkan (isti’mar al-ardh) sesuai bidang keahliannya masing-masing di bumi. Kemudian, dari peranan tersebut akan menorehkan fungsi yang berbeda. Fungsi yang dijalankan setiap manusia tergantung dari jenis kelamin masing-masing. Hidup akan menjadi lebih indah jika diharmonikan dengan suasana damai tanpa membedakan peran dan fungsi masing-masing. Istilah yang sering digunakan dalam Islam adalah (al-musawah baina al-insan). Semoga dengan sedikit kisah Najib Mahfudz demikian, dapat menjadikan kita intropeksi diri dalam memposisikan perempuan di kehidupan sehari-hari. Wallahu A’lam.

Wahyu Hanafi

Wahyu Hanafi

Alumni PPs UIN Sunan Kalijaga, Kaprodi PBA INSURI Po, dan Praktisi Linguistik Terapan

More Posts

Beri Komentar