Munculnya Umat Silau

Fenomena radikalisme agama yang berkembang belakangan ini sangatlah memprihatinkan. Bahkan radikalisme agama telah menusuk kedalam inti eksistensi NKRI yaitu Pancasila. Bagi kaum radikalis kebenaran selalu tunggal (baca: truth claim) dan bersumber hakiki dari Tuhan (baca: Alloh), sehingga barang siapa yang menggugatnya dianggap kafir.  Bagi el-Fadl kaum yang demikian disebut sebagai kaum yang authoriter. Mengapa demikian?

Perilaku tersebut diatas dikarenakan gagal paham mereka atas hakekat kebenaran. Sehingga mereka sering tergelincir pada jurang kesesatan pikir. Orang yang tersesat ada beberapa kemungkinan, yaitu: pertama, karena gelap dan tidak bisa melihat, kedua, sebenarnya terang tapi tidak tahu arah, ketiga, karena terlalu terang hingga dia silau. Semuanya sama-sama bisa dikatakan “buta”. Beberapa kemungkinan tersebut akhir-akhir ini berkolaborasi dan memakai baju “agama” (baca: Islam). Dengan demikian agama menjadi hal yang aneh dalam kehidupan bermasyarakat.

Akan tetapi “keanehan” dari perilaku agama ini oleh pengikutnya dianggap sebagai semakin tampaknya kebenaran mereka. Para radikalis Islam ini – Gus Dur menyebut sebagai Neo-Khawarij – justru semakin merasa paling beriman dan merasa paling dikehendaki Tuhan (baca: Tuhan bingit gitu lhoh…) dengan keanehannya. Gaya beragama dengan indentitas “aneh” ini menjadi rentan disusupi kepentingan lain yang justru merugikan. Identitas “aneh” ini dapat dijadikan martir perang kepentingan para pemain global.

Menurut al-Syirazi, kebenaran itu bagaikan cahaya yang memancar dari sumber segala cahaya atau Nur al-Anwar dalam bentuk sinar terang ke seluruh alam semesta. Semua bentuk dan warna, keindahan dan keburukan atau segala sifat material para makluk menjadi tampak dengan senyatanya. Tanpa cahaya semua menjadi gelap dan tidak ada hakekat bentuk satu pun di alam semesta ini. Tanpa cahaya mata tidak akan melihat. Tanpa cahaya kita tidak akan mampu membuat definisi apapun.

Akan tetapi jika terlalu banyak cahaya, maka hasilnya adalah terlalu terang. Alat melihat manusia berupa mata (baca: hati, akal, indera penglihat) yang sangat terbatas tentunya akan bermasalah jika mendapatkan beban yang berlebihan. Indera penglihat kita akan menjadi silau saat mendapatkan sorotan sinar yang berlebihan. Kondisi silau ini berakibat menghilangnya fungsi indera penglihat tersebut. Hal ini sama saja dengan tidak bisa melihat atau buta. Terlalu gelap warnanya cenderung hitam dan terlalu terang warnanya cenderung putih, sehingga meniadakan warna-warna yang lain.

Tindakan radikal para penganut agama ini – agaknya – bersumber dari terlalu silaunya mereka atas cahaya kebenaran hingga mengakibatkan sesat pikir dan akhirnya sesat berperilaku. Kemampuan “mata” mereka belum mampu menatap langsung “Cahaya Sejati”. Keyakinan yang terbangun membias menjadi ego brutal dengan dasar nafsu menjadi orang yang merasa “paling benar” dan pada puncaknya ingin menguasai seluruh dunia dengan “kesilauannya”. Bukankah silau dunia itu menjadikan manusia kufur? Atau bahkan musyrik? Lalu apa bedanya dengan yang mereka anggap kafir?  Bukankah yang berhak dan pantas merasa paling benar dan berkuasa hanya Alloh SWT. Sungguh “terlalu” kata bang Haji.

Fenomena umat “silau” di atas perlu disikapi. Kebanyakan dari mereka adalah korban dari “asupan” agama yang “malpraktek”. Akar penyebabnya adalah proses belajar agama yang kedaluarsa. Dimana proses belajar agamanya dilakukan secara instan dan dilakukan saat sudah dewasa. Ditambah dengan sifat keras hati saat dewasa yang sudah sangatlah sulit dihilangkan. Sanad keilmuannya tidak terjamin kualitasnya. Bahkan bisa jadi ahistoris dengan para gurunya.

Agar indera penglihat tidak “silau” maka perlu alat bantu melihat yaitu basis keilmuan yang memadai. Ibarat ingin menyaksikan gerhana matahari langsung, maka seseorang butuh kacamata dengan ukuran tertentu sebagai pelindung dan alat untuk melihat secara maksimal proses gerhana tersebut. Dengan kaca mata tersebut dapat melindungi sinar ultrafiolet yang berlebihan yang dapat merusak kornea. Dan juga dengan kaca mata tersebut dapat dengan mudah melihat bentuk matahari dalam setiap proses perubahan bentuknya. Selanjutnya dapat diceritakan ke orang lain dengan benar pula.

Upaya meminimalisir ke-silau-an tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, proses belajar agama harus dibimbing sejak dini. Misalnya pilih PAUD yang mengajarkan akidah yang toleran. Ajarkan kepada anak-anak kita tentang makna perbedaan, saling menghargai. Hal ini penting karen belakangan, seperti di Malang, anak-anak PAUD sudah diajari paham radikal. Anak-anak sudah diajari membenci kelompok lain dan bahakan diajari cara membunuhnya. Mengerikan sekali. Fondasi hidup yang demikian membhayakan saat kelak dewasa.

Kedua, pada tingkat remaja ajarkan anak-anak kita cara ber-muamalah yang baik. Salah satu caranya adalah sekolahkan anak kita ke instansi pendidikan yang telah terbukti mengajarkan nilai-nilai universal kemanusiaan yang terkolaborasi dengan akidah agama dengan dosis seimbang. Contoh pesantren-pesantren salafiyah Syafiiyah. Atau madrasah-madrasah diniyah. Tujuannnya adalah terkonstruknya bangunan epistemologi nyata yang kokoh mengenai cara ber-Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Ketiga, pada usia dewasa hendaknya memilih amaliah dan jalan tasawuf yang menyejukkan. Nilai-nilai toleransi dan seimbang tersebut di atas aka semakin elegan manakala dimasuki saripati spiritualitas penuh “cinta” dari pusat kearifan sebuah penapakan jalan spiritual. Karena hakikat kebenaran ada dalam diri manusia yang toleran. Dan siapa yang mampu menggali dari dirinya dia akan mampu menemukan Tuhan-nya dengan benar.  Dengan demikian agama adalah “pusat cinta”, bukan peyesat dan perusak umat.

Agus Setyawan

Dekan Fakultas Dakwah INSURI Ponorogo. Kandidat Doktor Antropologi UGM Yogyakarta

More Posts

Beri Komentar