Menyantap Hidangan Informasi

Netizen atau warga internet di zaman ini sedang mendapat hidangan yang “mendidih” berupa informasi, baik berbentuk tulisan, video, gambar, maupun audio. Sebut saja, misalnya, facebook, whatsapp, instagram, youtube, tidak kira informasi “lebay”, kebencian, provokatif, dan belum jelas kebenarannya tersaji begitu masif. Hidangan informasi ini biasanya disantap oleh indra penglihatan dan pendengaran yang kemudian terjadilah proses penafsiran. Masing-masing memiliki penafsiran yang beragam terhadap informasi yang didapatkan. Adapun yang memprihatinkan ketika potensi emosional dan sentimen lebih dominan digunakan ketimbang nalar sehat dan kritis disaat menkonsumsi informasi. Alih-alih mengharapkan gizi kemaslahatan, malah yang didapatkan berupa virus kemudaratan.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa emosi dan fikiran anak negeri sedang “diacak-acak” oleh informasi yang beredar. Informasi seakan memegang kendali urat sarafnya. Informasi tersaji secara acak dan blakblakan di ujung jari masing-masing. Informasi di aspek sosial-politik plus keagamaan, misalnya, menyelinap masuk seperti bakteri yang membuat fikiran dan emosi orang-orang tertentu menjadi gatal untuk berkomentar.

Di media sosial berbasis internet, ada makhluk yang bernama whatsapp alyas we’a (begitu sapaan populernya). Tidak jarang di situ muncul informasi panjang lebar dan beruntun yang belum diketahui secara pasti apakah hoax atau tidak, apakah perak atau krikil, apakah emas atau loyang. Dalam informasi tersebut, kriteria baik dan buruk, benar dan salah, indah dan tidak indah, muhkam dan mutasyabih, halal dan haram, demonstratif dan ilusif, tulus dan pecundang membaur sedemikian rupa. Mengusik bahkan menggerogoti fikiran dan emosional. Inilah fenomena yang muncul, khususnya terjadi pada bangsa kita beberapa tahun terakhir ini.

Informasi seharusnya diproses terlebih dahulu, yaitu semacam mengolah atau menganalisis data dalam suatu penelitian. Sekiranya dilahap mentah-mentah maka emosi dan fikiran akan terusik bahkan terkuras untuk sesuatu yang ternyata tidak penting, tidak benar, dan tidak baik bagi pluralitas kehidupan bermasyarakat. Karena, misalnya, informasi tersebut berisi saling tuding dan saling mengejek yang biasanya berada dalam ruang lingkup kebencian. Dan, memang, menurut pandangan Niza Yanai dalam bukunya The Ideology of Hatred hampir dari semua sumber konflik sosial pada hari ini karena kebencian.

Narasi saling tuding kebencian menjadi pembelajaran sosial. Masing-masing kelompok saling menganggap kelompok lainnya “gagal paham”. Masing-masing terkepung oleh kebenarannya sendiri sehingga tidak bisa keluar untuk melihat kebenaran yang lainnya. Silaturrahim menjadi sila-tak-rahim bahkan bermusuhan. Keadaan sedemikian merupakan penyakit yang menghalangi manusia untuk berbahagia.

Menyantap menu informasi dengan didominasi oleh daya emosi ketimbang nalar kritis akan merugikan diri sendiri bahkan orang lain. Karena sifat dari daya emosi adalah terjun bebas dan melebur ke dalam informasi. Entah itu emosi berupa rasa benci, cinta, marah, dan sebagainya. Berbeda dengan daya akal yang biasanya mengambil jarak dan jeda terhadap informasi tersebut.

Biasanya, akal yang didominasi oleh emosi cenderung menjadi nalar dualistik ketika menyantap informasi, misalnya, hanya menggunakan justifikasi hitam dan putih, pro dan kontra, cinta dan benci, sunah dan bid’ah, subjektif dan objektif, “orang kita” dan “orang lain”, interior dan superior, syariat dan hakikat, halal dan haram, dan seterusnya. Padahal, informasi merupakan perpanjangan tangan dari eksistensi manusia yang multimakna, multidimensi, dan kompleks. Nalar dualistik terlalu kecil untuk memeluk realitas yang ada. Orang yang membaca realitas menggunakan nalar dualistik akan mereduksi fenomena dan makna. Nalar dualistik tidak cocok memetakan realitas kehidupan yang kompleks ini. Nalar dualistik tidak layak dijadikan acuan satu-satunya. Nalar dualistik akan menyesakkan nafas kehidupan berbangsa dan bernegara. Apabila terus berlanjut maka yang terjadi adalah “bunuh diri peradaban”.

Nalar dualistik bisa dikatakan sebagai nalar yang miskin sudut pandang. Dikatakan miskin karena tidak bisa mendermakan sudut pandang yang lebih kepada dirinya dan kepada orang lain. Kepada orang lain ia hanya bisa mendermakan satu koin sudut pandang berupa kesalahan. Sedangkan kepada dirinya sendiri, juga hanya bisa mendermakan satu koin sudut sudut pandang, yaitu kebenaran. Tidak lebih dari itu.

Adapun sistem kerja nalar dualistik adalah: jika seseorang tidak pro berarti dia kontra, jika tidak putih berarti hitam, jika tidak kanan berarti kiri, dan seterusnya. Begitulah cara nalar dualistik bekerja. Nalar dualistik tidak memiliki alternatif ketiga apalagi keempat. Seolah-olah di dunia ini hanya ada arah barat dan timur tanpa ada utara dan selatan. Hanya ada kiri dan kanan tanpa ada atas dan bawah. Hanya ada hitam dan putih tanpa ada warna lainnya. Padahal, misalnya, di samping halal dan haram, masih ada makruh dan mubah. Di samping syariat dan hakikat, masih ada tarekat dan makrifat. Dan, bukankah syurga dan neraka itu bertingkat-tingkat (hierarkis)? Dalam hal ini, mungkin ada baiknya meminjam cara berfikir Sultan Auliya’, Syaikh Abd Qadir Al-Jailani berikut ini: “bisa jadi orang yang kafir itu akan masuk Islam sehingga husnul khatimah di akhir hidupnya, dan bisa jadi nanti aku menjadi kafir dan su’ul khatimah di akhir hayatku”. Cara berpikir seperti ini biasanya dapat meredam arogansi sehingga memunculkan toleransi.

Selain itu, petuah Socrates mungkin berguna untuk disampaikan dalam hal menyantap informasi, terutama bagi yang agresif menyebarkan informasi. Sebelum seseorang mengajak Socrates untuk berbicara lebih jauh, Socrates selalu bertanya tiga hal: Pertama, apakah berita yang ingin kamu sampaikan ini sebuah kebenaran yang tidak diragui? Kedua, apakah yang kamu sampaikan ini tentang kebaikan atau kejelekan? Ketiga, apa manfaat yang akan kita dapatkan dari penyampaian ini nantinya? Jika jawaban dari orang yang mengajaknya berbicara itu negatif, yaitu sesuatu yang tidak jelas kebenarannya, yang disampaikan adalah sengaja hal-hal yang jelek, dan tidak ada manfaat sekaligus kemaslahatannya, maka Socrates berkata, “kalau begitu, lebih baik kita berbicara tentang hal yang lain”.

Melihat gejolak liar yang timbul pada segelintir masyarakat ketika melahap informasi, maka diperlukan nalar kritis, komprehensif, mental yang stabil, wawasan berupa teori-teori ilmu pengetahuan sosial-keagamaan, dan yang tidak kalah penting adalah selalu men-komparasikan informasi yang diterima dengan berbagai fakta-fakta lainnya secara saksama (tabayun). Ini merupakan suatu upaya agar dampak negatif dari keragaman hidangan informasi tidak beredar terlalu jauh dari poros hikmah, keadilan, ketentraman, dan kemaslahatan. Apabila tidak memiliki alat tersebut di atas, maka bersikap diam merupakan solusi yang terbaik. Terakhir, selamat menikmati hidangan informasi. Hidangan spesial di zaman ini. Wallahu a’lam.

Junaidi

Junaidi

Dosen Filsafat STAIN Bengkalis Riau

More Posts

Beri Komentar