Mengenal Ontologi Bahasa Lebih Dekat

Bahasa, itulah istilah yang melekat pada ranah individu dan sosial. Lahirnya manusia di muka bumi akan membawa medium bahasa dalam keberlangsungan hidup. Akuisisi bahasa manusia pada tahap pranatal akan membentuk fase-fase perkembangan bahasa berikutnya sembari disertai dengan kematangan kecerdasan bahasa (intelegence linguistic) pada masa keemasan (golden age). Bahasa pertama yang dibawa individu (B1) merupakan akuisisi bahasa yang ditorehkan dari native speaker sejak lahir. Sedangkan, bahasa kedua (B2) diperoleh individu melalui proses interaksi sosial dan lingkungan. Manifestasi demikian merupakan terminologi bahasa secara psikologis dan neurologis.

Selain faktor psikologis, yang lebih penting lagi adalah menarasikan dan mendeskripsikan bahasa ke dalam ruang publik. Bahasa sebagai unsur kompleksitas hidup tentunya tidak bisa keluar dari relasi masyarakat. Secara sosiologis, bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan masyarakat. Budaya dan masyarakat merupakan kesatuan non-dikotomi dalam interaksi simbolis. Identitas lokal masyarakat akan lebih dikenal dengan media bahasa.

Bahasa merupakan bentuk aktualiasi kearifan lokal yang terbentuk dengan berbagai sistem dan formulasi guna menjadi media penyampaian pesan kepada pengguna bahasa (speech commmunity). Dengan bahasa, masyarakat akan mudah berinteraksi dan menjalin komunikasi antar sesama. Bahasa menjadi jembatan keberlangsungan hidup di masyarakat dan menjadi media guna memajukan peradaban bangsa. Banyak negara besar yang martabatnya terjunjung tinggi karena faktor register bahasa seperti negara Inggris dengan bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional dan Amerika yang menggunakan bahasa Latin sebagai identitas negara dan etnologi.

Eksistensi bahasa hingga dekade ini terus berlangsung sembari dengan lahirnya penelitian-penelitian linguistik mutakhir yang dilahirkan oleh kubu linguis modern. Penganut teori strukturalis bahasa (strukturalisme) ini memang memberi kontribusi besar dalam relativitas bahasa dunia. Bahasa yang dibentuk dari sistem behavioristik, lingkungan, dan pembiasaan merupakan kunci perkembangan bahasa secara kompleks. Kampanye dan promosi konsep-konsep bahasa dari kubu tersebut memberikan tendensi bahwa bahasa adalah unsur hidup yang harus bergerak dan direlasikan dengan struktur-struktur fungsional masyarakat. Bahasa akan hidup dengan terjalinnya struktur fungsional masyarakat dan bahasa. Sebaliknya, bahasa akan menjadi mati jika tidak terjalinnya struktur fungsional masyarakat dan bahasa.

Selama ini, aktualisasi bahasa (language actualization) dalam ruang publik masih memiki ragam katagori dikotomik. Bahasa merupakan ujaran manusia yang memiliki pesan termaksud yang diekspresikan dalam bentuk verbal. Bahasa verbal merupakan sistem lambang bunyi yang diujarkan dan sifatnya arbitrer atau bebas yang memiliki dimensi ruang, waktu, dan relativitas makna. Tulisan tidak bisa disebut bahasa karena bukanlah suatu ujaran. Bahasa diformulasikan sebagai media komunikasi seperti penggunaan bahasa di masyarakat guna menyampaikan pesan tertentu. Bahasa diformulasikan sebagai seni oleh para seniman, seperti karya sastra, pagelaran, dan teater. Bahasa diformulasikan sebagai disiplin ilmu seperti halnya bahasa dikaji dengan metodologi ilmiah oleh para akademisi dan peneliti.

Lantas, bagaimana memahami fenomena bahasa yang ideal? Sejauh ini, peran dan fungsi bahasa masih memasuki wilayah oposisi binner yang belum jelas. Manifestasi bahasa yang telah berlangsung sejak dulu, kini belum mendapatkan muara dan terminologi secara spesifik, apakah bahasa itu termasuk media komunikasi yang digunakan masyarakat? Apakah bahasa sebagai apresiasi seni? dan apakah bahasa itu sebagai disiplin ilmu yang mampu dikaji secara ilmiah? Dan apakah dari serangkaian terminologi bahasa tersebut dapat diintegrasikan ke dalam kesatuan yang utuh sehingga mampu membuat terminoligi bahasa yang lebih kompleks?

Dalam kajian filsafat ilmu, kita bisa melihat objek dari dua sisi, yang pertama adalah sisi objek material, dan yang kedua adalah sisi objek formal. Objek material bahasa adalah bahasa itu sendiri. Bahasa akan menjadi subjek sekaligus objek dalam studi bahasa tergantung pada peran ilmiah masing-masing. Dalam sisi objek formal, bahasa bisa ditinjau dalam berbagai perspektif. Perspektif sosiologi bahasa menyatakan bahwa bahasa merupakan media interaksi dan komunikasi masyarakat guna menjalin keberlangsungan hidup masyarakat yang harmoni. Kemudian, dalam perspektif filsafat bahasa, bahasa merupakan sistem lambang bunyi yang terbentuk dari serangkaian pemikiran, spekulasi dan tata bahasa yang kemudian dikembangkan dan diabstraksikan dengan metodologi keilmuan bahasa. Itulah kedua contoh bahasa jika ditinjau dalam sisi objek formal.

Bahasa sebagai media komunikasi, merupakan fungsi normatif bahasa dalam masyarakat. Segala macam bentuk komunikasi verbal akan mudah dimengerti dengan media bahasa. Relasi masyarakat dan bahasa menjadi faktor keharmonisan hidup. Levi Straus (1902) seorang pemikir strukturalis telah menorehkan bahwa masyarakat dan segala sistem yang terbentuk di dalamnya akan menjadi penentu keberlangsungan hidup mereka. Bahasa merupakan salah satu sistem yang ada di dalam masyarakat. Tanpa adanya bahasa, keberlangsungan hidup masyarakat akan menemukan kendala dan kesulitan. Bahasa memiliki prestis yang menarik jika bahasa dikemas dengan tindak tutur yang baik. Dalam studi pragmatik misalnya, tindak tutur komunikator dianggap berhasil jika mampu mempengaruhi komunikan. Tindak tutur ini disebut perlokusi, yakni tindak tutur yang mampu merubah sikap komunikan setelah proses komunikasi berlangsung. Hipotesis awal dalam kajian ini adalah bahasa sebagai media komunikasi dalam masyarakat tutur merupakan bentuk normativitas bahasa. Bahasa akan berkembang seiring dengan perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat seperti folklre yang mengakar di masyarakat.

Kemudian, bagaimana jika melihat fenomena bahasa dalam ajang kontestasi seni? Bahasa tidak hanya sebagai media komunikasi masyarakat. Bahasa dapat measuki wilayah bidang kesenian. Bahasa sebagai seni adalah bahasa yang digunakan dalam segala bentuk apresiasi seni seperti pertunjukan drama, wayang kulit, teater, dan kesusastraan. Terminologi bahasa sebagai media seni karena bahasa mampu berperan dalam dimensi seni. Seni yang diolah dengan bahasa akan memiliki estetika yang menarik seperti halnya lantunan pantu, puisi dan syair. Dalam posisi ini, kemartabatan bahasa akan menjadi naik seiring dengan pengolahan seni. Setiap susunan bahasa mulai dari satuan terkecil fonem, morfem, dan menjadi klausa, memiliki relativitas intepretasi yang dinamis. Bahasa seni tidak melegitimasi interpretasi tunggal.

Kebenaran linguistik dalam dimensi seni diukur dari sejauh mana seni itu dapat dinikmati orang lain. Dalam banyak kasus, orang awam yang tidak mengerti bahasa seni yang disusun dari sebuah pantun, puisi, dan syair, sehingga orang tersebut menafsirkan seolah olah setiap bait yang ditorehkan dalam karya tersebut adalah tidak benar, padahal dalam bait-bait tersebut bersifat multi interpretasi. Dengan demikian, dimensi bahasa dalam seni terletak di wilayah tataran kesenian itu dimainkan. Nilai-nilai estetika yang muncul merupakan nilai dan etika bahasa.

Bahasa sebagai disiplin ilmu karena bahasa dapat dikaji, ditelaah, dan dianalisis secara objektif dan empiris. Studi bahasa yang populer dikenal adalah studi linguistik. Linguistik merupakan ilmu yang mempelajari tentang hal-ihwal bahasa. Jika bahasa diposisikan sebagai disiplin ilmu, maka bahasa harus bersifat empiris, objektif, sistematis, dan universal. Bahasa sebagai disiplin ilmu harus mampu memainkan peran guna menganalisis fenomena-fenomena bahasa secara mikro dan makro sehingga bahasa mampu melahirkan tesis yang mutakhir. Hasil dari tesis bahasa kemudian digunakan untuk penelitian lebih lanjut. Bahasa sebagai disiplin ilmu tidak lepas dari disiplin ilmu yang mempengaruhinya. Studi linguistik mikro misalnya, dalam tataran ini bahasa digunakan guna urgensi bahasa itu sendiri seperti studi fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.

Sedangkan, studi linguistik makro lebih memposisikan bahasa agar digunakan dalam bidang terapan dan bersinggungan dengan fenomena-fenomena sosial. Dalam studi linguistik makro, maka akan terlahir linguistik terapan seperti psikolinguisik, antropolinguistik, dan sosiolinguistik. Dengan demikian, terminologi bahasa bersifat kompleks. Bahasa tidak dapat diinterpretasikan dalam satu terminologi. Beberapa terminologi bahasa yang dijelaskan seperti halnya di atas merupakan hasil dari perspektif yang berbeda. Tergantung bahasa itu ditinjau dan dibidik.

Wahyu Hanafi

Wahyu Hanafi

Alumni PPs UIN Sunan Kalijaga, Kaprodi PBA INSURI Po, dan Praktisi Linguistik Terapan

More Posts

Beri Komentar