Mendengar Dongeng Tuhan

“JANGAN sebut aku ateis!” gertakku, lantang.

***

Perkampungan tempatku menetap amatlah damai. Tak bakal kau temui pencopet melewar mencari mangsa. Sebab, mereka akan berhadapan dengan seorang jagal. Banyak jagal yang sengaja disewa oleh Pak RT. Gaji para jagal diambilkan dari uang iuran masyarakat per bulan. Tidak terlalu banyak, tapi juga tidak terlalu sedikit. Cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari—meski tidak dapat membeli mobil.

Terakhir kali kudengar, ada pencopet yang mengambil barang seorang ibu saat berbelanja di pasar. Lantas, pencopet itu dikejar oleh seorang jagal yang sedang berjaga. Mereka berlarian, lintang-pukang, menerobos kerumunan pasar.

Tak berselang lama, jagal nomor satu di kampungku—atau kerap disebut sebagai Bos Jagal, melumpuhkan pencopet itu dengan sekali pukulan. Pencopet jatuh tersungkur. Wajahnya biru legam, babak belur. Tanpa ampun, jagal itu tetap memukuli pencopet sampai ia habis darah. Barulah, si jagal menyerahkan sebuah dompet yang tadi berhasil dicopet kepada ibu itu.

“Makasih, Bang Slamet,”ucap ibu itu, membungkuk.

“Sama-sama. Lain kali hati-hati, ya.”

Ibu itu mengangguk takzim.

Tanpa ada isyarat, ibu separuh baya itu memberikan imbalan kepada Bang Slamet. Sejumlah uang yang cukup untuk membeli lima bungkus rokok. Jagal nomor wahid itu tidak menolak. Sebab, seperti itulah budaya seorang jagal di kampungku. Meski harus memberi upah, masyarakat sama sekali tak keberatan.

Aku suka dengan kehidupan di kampungku ini. Selain di keramaian pasar, jagal juga disewa untuk mengamankan rumah-rumah. Tidak semua rumah ada jagalnya. Hanya rumah orang berduit. Kehidupan para tukang pukul sangat disegani di sini. Mungkin karena bermanfaat. Atau, jika mereka tidak dibayar, mereka akan menjelma menjadi pemeras, pemalak, dan sebagainya. Untuk itu, semua masyarakat memuliakan jagal. Hingga kampungku dinamai Kampung Jagal. Tempat para jagal dibudidayakan.

***

Lima tahun berselang. Seiring berjalannya waktu, banyak masyarakat yang mulai bekerja menjadi seorang jagal. Barangkali, peruntungan di pasar tidak memihak kepada mereka. Bahkan, bocah-bocah usia lima belas tahun sudah dilatih menjadi jagal. Mereka dlatih di sebuah padepokan sederhana di ujung kampung. Letaknya cukup tersembunyi di dalam wana. Jauh dari ingar bingar masyarakat.

Kulihat, bocah-bocah itu giat berlatih. Peluh tak menyurutkan tekad mereka. Latihan demi latihan rutin dilaksanakan. Berbagai jurus andalan kerap diajarkan. Hal itu supaya mereka menjadi jagal nomor satu di kampungku, menggantikan Bang Slamet yang usianya sudah mulai renta.

“Hei, kau! Kenapa pukulan kau lemah?” Bang Slamet menampar wajah seorang bocah yang sedang berlatih pukulan. “Kalau begini terus, kau bisa jadi produk gagal. Kau bakal dibunuh oleh pencopet.”

“Maafkan aku, Bang,” sahut bocah itu, menyesal.

“Ulangi lagi. Yang kencang, dong!”

Bocah itu mengangguk, setengah gemetar.

Aku bersandar pada tiang penyangga padepokan. Memperhatikan rutinitas latihan dari kejauhan. Bang Slamet memanggilku. Aku segera turun dari rumah, menuju aula sederhana yang terbuat dari bambu. Seluruh tiang aula ditopang oleh kayu jati yang amat kuat.

“Ada apa, Bang?” tanyaku, penasaran.

Bang Slamet menyulut rokok. Duduk bersila di pinggir aula.

“Ada job buat kamu,” ujar Bang Slamet. Asap mengepul dari mulutnya. “Seorang Bos Besar hendak mengirim barang ke kapal pesiar. Mereka akan mengirim dua puluh kilo ganja dari negara kita ke Tiongkok. Mereka perlu pengamanan. Aku sengaja memerintahkanmu untuk bertugas.”

Otakku mencerna penjelasan Bang Slamet dengan saksama.

“Tentu aku tidak bisa melakukannya sekarang. Tubuhku sudah rapuh. Seorang jagal kelas kakap tidak bisa dikalahkan dengan apa pun, kecuali usia. Iya, seberapa tangguh jagal itu dapat bertahan, membunuh ratusan orang, mereka tetap tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

“Oleh sebab itulah, aku memerintahkan dirimu. Tenang saja. Kau tak bakal sendirian. Aku telah memerintahkan sepuluh jagal terbaik untuk menemanimu bertugas. Rohkim, kau sanggup, kan?”

Sesungguhnya, aku tak yakin dengan tugas berat yang dibebankan Bang Slamet kepadaku. Tapi, aku tak dapat mengelaknya. Biar bagaimana pun juga, tugas tetaplah tugas. Harus dilaksanakan. Semua jagal yang dilatih oleh Bang Slamet tidak satu pun yang menolak tugas yang dibebankan kepada mereka. Itulah aturan terakhir seorang jagal. Dan, tugas itu harus berhasil, layaknya seorang prajurit tentara: lebih baik mati pulang nama daripada gagal di medan perang.

***

Kapal pesiar berangkat menuju Tiongkok. Tidak sulit menyelundupkan ganja dari negaraku. Selain memakai uang tutup mulut—yang jumlahnya besar, kami dapat mengancam para petugas dengan ancaman pembunuhan. Ada jutaan jagal di setiap negara. Kesemuanya terkoneksi dengan sempurna, seperti sebuah organisasi gelap. Mereka tak dapat dikalahkan. Dan selalu meneror kapan pun mereka mau.

Malam harinya kami duduk di kabin. Bang Slamet kerap menghubungiku, menanyakan kabar tugas. Aku tidak terlalu peduli. Hanya kujawab masih aman. Telepon mati. Makan malam telah dimulai.

Sejak saat itu, teman-temanku membuka ranselnya. Mengeluarkan beberapa botol tuak, dan beberapa obat-obatan. Aku ditawari untuk minum. Tapi aku menolaknya. Aku tidak minum seperti itu. Mereka justru mencemoohku, sarkas.

“Apa Bang Slamet tidak salah memilihmu menjadi panglima tempur jagal? Kau takut mabuk begini,” ucap salah seorang teman, disusul gelak tawa oleh teman-teman yang lain.

Aku bersikap tak acuh, tidak ingin beradu mulut.

Meski kebiasaan jagal begitu, aku tetap menolaknya. Aku tidak suka minum tuak. Apalagi mengkonsumsi obat-obatan. Tidak sama sekali. Hal itu yang tidak kusukai dari menjadi seorang jagal.

Yang lebih parah dari itu, mereka tidak mendirikan salat. Atau mengunjungi gereja. Sebab, mereka tidak percaya Tuhan. Di dalam organisasi jagal di kampungku, hanya aku dan Bang Slamet yang percaya adanya Tuhan. Bang Slamet memeluk agama Kristen, sedang agamaku Islam. Bos jagal itu baru percaya Tuhan setelah membunuh seorang pendeta yang menghinanya di hari silam. Keyakinan Bang Slamet baru tumbuh saat itu juga. Ia sempat menyesal dan memutuskan untuk memeluk Krsiten.

Kehidupan jagal penuh dengan kegelapan. Mereka hanya mengandalkan otot, bukan pikiran. Mereka semua tidak punya perasaan. Dibutakan oleh harta dan kekuasaan. Tuak atau minuman keras menjadi jamuan pesta. Merayakan keberhasilan tugas. Mereka juga sering mengkonsumsi obat-obatan terlarang, bermain wanita, dan berjudi. Namun, pilihanku menjadi jagal adalah pilihanku sendiri. Tak ada yang melarangku. Sebab, orangtuaku telah meninggal saat dicopet sepuluh tahun yang lalu.

***

Perompak bersenjata tajam menyelinap ke dalam kabin. Pertarungan besar tak dapat dielakkan. Teman-temanku beraksi, baku hantam dengan belasan perompak berbaju hitam. Mereka mengetahui, jika Bos Besar akan bertandang ke Tiongkok, membawa ganja senilai miliaran rupiah.

Aku tersudut di pojok kabin. Dua temanku terkena peluru di keningnya. Nyawanya lenyap. Pesta malam itu berubah menjadi petaka.

Bos Besar kabur keluar kabin. Dua perompak menghadangnya. Tanpa sempat berpikir, aku merubuhkannya dengan dua kali pukulan. Satu perompak menodongkan senapan. Aku berbalik arah, menendang perompak itu hingga jatuh terjerembap ke laut lepas.

Namun, aku tak menyadari satu hal. Salah satu perompak memukul pundakku. Aku jatuh tak berkutik. Senapan api berhadapan dengan wajah cemasku. Lima temanku yang lain telah berhasil dibunuh. Sebagian tertangkap, sebagian lagi masih bertarung di dalam kabin.

“Menyerahlah, wahai ateis!” seru salah seorang perompak.

“Jangan sebut aku ateis!” gertakku, lantang.

“Kau itu jagal yang tak beragama. Mana mungkin kau bukan ateis? Tugasmu hanyalah membunuh sesama manusia.” Salah seorang perompak itu menceramahiku.

Aku bukan ateis, meski hidup sebagai jagal. Sudah menjadi tugasku untuk mengamankan kampung, tempatku dibesarkan. Orangtuaku sudah meninggal dengan tenang di alam sana. Masyarakat juga sudah hidup damai tanpa ada pencopet. Hanya itu yang kuharapkan. Kini, Tuhan telah mendongengiku. Apa-apa yang kubutuhkan tidaklah penting. Cukup menjadi bengis di mata penjahat dan menjadi baik untuk orang-orang.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar