Usaha Menarasikan Sosok Ibu Melalui Puisi

APA yang kita pahami dari sosok ibu? Apakah hanya sekadar seseorang yang melahirkan kita? Menyusui kita? Menimang-nimang supaya kita lekas terpejam? Menyiapkan sarapan? Mengingatkan kita supaya tak lupa makan? Menyiapkan alat-alat sekolah? Menjahit pakaian? Mencuci pakaian yang telah kusam dan kotor? Merawat kita saat sakit? Membersihkan pekarangan rumah? Tentu tidak hanya sebatas itu.

Saya mengamati—dalam buku antologi puisi berjudul Babu Téték terbitan Kuncup, beberapa penyair mengekspresikan sesuatu yang berbeda tatkala memandang seorang ibu. Tentu saja. Sebab, mereka memiliki kemampuan dan kecenderungan berpikir yang berbeda pula.

Puisi yang ditulis oleh 38 Penyair yang berasal dari Ponorogo dan sekitarnya ini membuai saya, mengingatkan saya kepada sosok ibu. Ya, jika kita membicarakan ibu, tentu hal itu tak akan ada ujungnya. Tetapi, coba lihatlah! Ada berbagai macam ‘ibu’ dalam buku puisi Babu Téték.

Saya, yang masih belajar menulis puisi, menjumpai ibu dalam berbagai versi. Sederhananya, bervariasi.

Variasi dalam puisi-puisi di buku Babu Téték dapat kita amati dari berbagai sisi. Selain tipografi dan pemenggalan larik, variasi yang ditimbulkan muncul melalui aku-lirik dan pesan tersirat yang ingin disampaikan oleh penyair.

Dapat kita cermati dari puisi yang berjudul ‘Surat untuk Anakku’ dengan larik: 29 April 2040/Dear cintaku yang utuh, penuh, dan seluruh,/Apa kau bangga ber-ibu seperti aku?/Ibuk.

Dalam puisi tersebut, penyair berupaya menuangkan suatu harapan kepada anaknya, kelak. Sungguh ide yang brilian. Si penyair membayangkan jika nanti ia menjadi ibu dan mengirim surat—berupa puisi (tentu saja)—itu kepada anaknya. Bukankah itu merupakan suatu hal yang romantis?

Variasi juga muncul di puisi yang bertajuk ‘Surah Al-Um.’ Kita dapat membaca beberapa larik yang bertuliskan: Dengan menyebut nama ibu,/Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang./Sesungguhnya hanya kepada kasih-mu/yang tak terhingga sepanjang masa,/kesah dan segala nestapaku muspra.

Puisi tersebut berupaya menarasikan sosok ibu ke dalam sesurat Ayat Suci. Saya tidak mengerti, apa yang dimaksud si penyairnya. Namun, saya dapat memahami bahwa begitu berartinya sosok ibu, sehingga membikin Yohan Fikri—si penulis—menganggap ‘ibu’ pantas dimaktubkan ke dalam Ayat Suci.

Puisi lain tak kalah menarik. Variasi muncul dalam puisi yang berjudul ‘Anjumasta Anggana.’ Dalam puisi tersebut, saya menemui puisi yang ditulis menggunakan bahasa Jawa. Begini lariknya: Ahwaya Agung/Sujud soho musing kinabulna/Tumprap sing mbok impekna/Meniko jumeneng ing ngarso bidadari swarga/Sujud dumateng Sang Hyang Taya.

Puitik bukan?

Satu lagi. Saya tertarik dengan puisi yang bertajuk ‘Musim Rindu.’ Larik-lariknya cukup singkat. Saya pikir, ini semacam puisi Haiku. Anda penasaran? Baik. Coba baca pelan-pelan: Musim rindu telah tiba/Aku mulai gelisah, cemas tak tentu arah//Musim rindu telah tiba/Diiringi tetesan sepi yang enggan menepi/Ditemani gemuruh sunyi yang kian menjadi.

Buuuuumm!

Itulah beberapa contoh puisi yang termaktub dalam buku antologi puisi Babu Téték karya 38 Penyair Ponorogo dan Sekitarnya. Dari pemaparan panjang kali lebar, tambah tinggi, kurang pendek—sama dengan persegi (kok bisa?)—itu, saya jadi lebih memahami beberapa hal. Pertama, ibu tidak sebatas apa yang kita lihat; wajah yang kian menua, seorang wanita separuh baya, dan hal-hal yang saya tulis di paragraf pertama. Ibu lebih dari itu. Hanya saja, apa yang kita pahami hanya sekadar apa yang tampak dari luar.

Kedua, ibu memiliki versi yang beragam, sesuai yang dinarasikan oleh ke-38 Penyair. Tentunya. Jika kita bertanya, siapakah sebenarnya ibu? Kita akan menjawab sesuai dengan apa yang kita ketahui.

38 penyair yang terbagi ke dalam berbagai daerah berhasil menarasikan sosok ibu dalam berbagai macam versi dan sudut pandang. Hal itu merupakan sesuatu yang sangat mulia. Ehm, bukankah penghormatan seorang anak kepada ibunya dapat diwujudkan melalui berbagai macam cara, termasuk dengan menulis puisi? Luar biasa!

 

Identitas Buku

Judul Buku: Babu Téték

Penulis: 38 Penyair Ponorogo dan Sekitarnya

Penerbit: Kuncup

Cetakan Pertama: Desember, 2018

Tebal: 150 hlm; 14,8 x 21 cm

ISBN: 978-602-5410-73-4

Foto: Dokumentasi Pribadi

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar