Membangun Karakter Bangsa Melalui Cerita

Mungkin judul di atas yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya dongeng dan cerita untuk kehidupan manusia. Sebenarnya manusia sudah lama mengakrabi dongeng ataupun cerita. Mulai dari yang bentuknya mitologi, legenda, cerita leluhur ataupun cerita dalam karya-karya sastra. Namun kita sadari bahwa di masa kekinian dongeng atau cerita cenderung dikesampingkan dari keseharian masyarakat pada umumnya.

Pada  tulisan berikut ini mari kita membahas tentang pengaruh rekaan cerita terhadap perkembangan dan cara berpikir anak. Sehingga cerita-cerita tersebut dapat menjadi salah satu faktor pembentukan karakter pada anak. Di masa sekarang cerita telah banyak diubah menjadi audiovisual dan film. Kebanyakan orang di era digital ini mulai melupakan dongeng atau cerita rekaan. Di satu sisi audiovisual memang memberikan kesan menarik dan lebih memikat bagi anak, tetapi di sisi lain audiovisual juga melemahkan tingkat kreativitas anak yang dalam proses awal menggali kebebasan imajinasinya.

 Imajinasi baru yang seharusnya tumbuh dari anak-anak akan terbatasi oleh daya tampil audiovisual yang menggambarkan secara jelas suatu kejadian atau tokoh. Tentu hal ini dapat mengurangi penggambaran anak secara lebih luas dan bebas terhadap suatu tokoh atau cerita.    Tetapi yang dikatakan di sini bukan berarti audiovisual semuanya buruk bagi perkembangan anak, bukan  seperti itu. Melainkan yang dimaksud di sini ialah nilai-nilai moral dan kebebasan berpikir anak akan cenderung berkurang, bila dibandingkan dongeng dan cerita langsung. Sebab kini audiovisual kebanyakan hanya menekankan pada aspek hiburannya saja.

Berbeda dengan cerita, dengan bercerita atau menceritakan suatu kejadian, peristiwa atau tokoh kepada anak, maka anak akan menggunakan alam pikirnya untuk mengimajiansikan sebuah cerita rekaan tanpa dibatasi oleh bentuk yang tergambar secara jelas sebelumnya. penggambaran itulah yang nantinya akan menstimulus daya berpikir anak. Selain itu dapat dipastikan bahwa bentuk imajinasi dari beberapa anak  akan berbeda antara satu dengan lainnya, meski berada dalam satu ruangan dan mendengarkan cerita yang sama. Tentu hal ini membuat anak terlatih berpikir tidak seragam, dan toleran pada pikiran orang lain di sekitarnya.

            Kalau dibandingkan dengan audiovisual, dongeng memang memiliki daya ungkap tersendiri yang mampu membuat daya pikir anak lebih berkembang. Sungguh miris memang, jika nantinya dongeng atau cerita rekaan mulai dilupakan. Padahal dulu cerita sudah menjadi tradisi leluhur bangsa Indonesia, misalnya saja orang tua yang membacakan dongeng sebelum tidur atau sesepuh yang membacakan dongeng di pelataran rumah dan didengarkan secara saksama oleh anak-anak sekitar lingkungan. Kita akan selau ingat nilai-nilai moral dalam cerita  yang tertanam dalam alam bawah sadar kita, seperti dongeng Malin Kundang, kancil,  Gatot kaca, dan lain sebagainya. 

            Kini kita akan lebih banyak menjumpai film kartun, pahlawan bertopeng, atau Film Avengers yang merupakan produk  dari imajinasi. Kita lebih tenang melihat anak-anak penerus bangsa hanya menjadi penikmat produk  imajinasi, bukan untuk pencipta produk dari imajinasi, yang ia kembangkan melalui proses kreatif mereka sendiri. maka jangan salahkan siapa-siapa jika kita hanya menjadi bangsa yang konsumtif. Kita lebih nyaman melihat anak diam dengan gawainya dari pada mengajaknya bercerita, sehingga cenderung berpikir seragam  tentang apa yang ia lihat baik mengenai tokoh maupun kejadian. Jadi jangan salahkan siapa-siapa, jika di masa mendatang bangsa ini tidak toleran terhadap pemikiran yang tidak seragam dengannya.

            Dalam kancah pertelevisian Indonesia, sebenarnya juga banyak acara yang merupakan salah satu produk turunan dari cerita, seperti sinetron dan FTV. Namun kebanyakan subtansi yang dimuat ialah seputar percintaan remaja dan drama rumah tangga. Kebanyakan kontennya hanyalah Kisah-kisah  percintaan yang menye menye atau kisah kehidupan rumah tangga tentang tokoh-tokoh cerita yang mengejar kekayaan dan juga cinta pastinya. Produk cerita yang seperti itulah yang sekarang banyak kita miliki, sekaligus banyak diminati, termasuk oleh anak dibawah umur seluruh Indonesia, yang dalam sehari pasti menyempatkan nonton televisi. Jadi sekali lagi jangan salahkan siapa-siapa jika muncul generasi yang hanya berkutat pada percintaan yang menye menye, gampang frustrasi, dan depresi. Jangan salahkan jika muncul calon koruptor-koruptor muda berbakat, karena konsumsi ceritanya adalah perihal mengejar kekayaan dan materi saja, bukan kemaslahatan umat.

Sifat dasar manusia lebih bisa menolak perintah atau ajakan, tetapi tidak bisa menolak cerita. Seseorang bisa saja menolak ajakan mengikuti ideologi suatu golongan, tetapi tidak bisa menolak cerita tentang golongan tersebut. Wawasan dari berbagai cerita tersebutlah yang kemudian menjadi pemahaman dan pertimbangan untuk mengambil keputusan.      

Pada akhirnya mari sama-sama menjadi pencerita setidaknya pada anak-anak di sekitar kita. Jika kita inginkan generasi selanjutnya menjadi pemimpin yang hebat maka ceritakanlah tentang pemimpin hebat, jika menginginkan generasi selanjutnya suka membaca maka ceritakanlah perihal buku-buku bagus, tokoh-tokoh hebat  yang ada dalam buku. Jika menginginkan generasi selanjutnya menjadi religius dan matang spiritualnya maka ceritakan tentang hikayat-hikayat keagamaan. Jika menginginkan generasi selanjutnya terbebas dari sikap koruptif maka ceritakan kisah kejujuran, keteguhan memegang prinsip dan pengabdian, sebab barangkali para koruptor di masa kecilnya kurang dibacakan dongeng.

Selamat bercerita, selamat mendongeng.

Wasis Nur Naini

Wasis Nur Naini

Mahasiswa Jurusan Hukum IAIN Ponorogo, Ketua Komunitas Literasi Forum Penulis Muda (FPM) IAIN PONOROGO

More Posts

Beri Komentar