Membaca Keanehan Afrizal Malna, Si Arsitektur Hujan

TIAP kali membaca puisi Afrizal Malna, saya seperti sedang berpindah ke dunia lain melalui portal yang sangat rahasia. Di dunia itu, saya melihat keanehan yang luar biasa. Membikin saya takjub, sekaligus bergidik. Bagaimana mungkin, Si Arsitektur Hujan (Afrizal Malna) itu mencipta sebuah dunia yang berbeda?

Melalui puisi-puisinya, saya mencium aroma sambal terasi yang dibikin ibu. Indra penciuman saya menangkap bau-bau menakjubkan. Tidak hanya itu. Hujan turun jadi lebih melankolis. Dengan sentuhan puisi Afrizal, hujan seolah tak pernah jatuh. Ia jatuh untuk tumbuh. Begitu pula dengan malam. Malam terasa lebih dingin dan membikin tubuh saya menggigil.

Pria kelahiran Jakarta, 7 Juni 1957 itu memang telah lama berkecimpung di dunia sastra dan teater. Tidak aneh bila puisi-puisinya bergaya baru. Afrizal lebih sering mengangkat tema dunia modern dan kehidupan urban, serta objek material dari lingkungan semisal meja, bank, hujan, kasur, api, dan lain-lain. Korespondensi antarobjek itulah yang mencipta gaya puitiknya. Bahkan, dalam beberapa puisi yang terbit di Kompas, saya menemui ia menulis biodata demikian: seseorang yang sudah tidak tahu batas-batas puisi. Keren. Tidak salah saya mengidolakannya.

Aliran puisinya disebut Alfrizalian, sebuah aliran baru yang diciptakan bagi pengikut mazhab Afrizal Malna. Bakat menulisnya telah tumbuh dengan eksplorasi puisi yang ciamik. Sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas; kita seolah digiring menuju ke dunianya. Dunia keanehan dengan segala lingkungan penuh imaji—dan tidak mengurangi nilai puitik. Dunia semacam inilah yang jarang ditemukan oleh para penyair—sekalipun itu senior. Beberapa penyair memang cenderung berada di satu titik, di mana ia merasa nyaman. Tidak seperti Afrizal, mereka lena mencipta dunia lain, gaya bahasa bermazhab diri mereka sendiri.

Awal kali mengenalnya, saya menemui puisi-puisinya yang tersiar di berbagai media, terutama di Kompas. Beberapa puisinya memang terkesan panjang, meskipun tidak dalam bentuk fragmen. Lantas, saya pun berusaha membedah salah satu puisinya yang paling sederhana bersama rekan-rekan sejawat. Puisi yang kami bedah berjudul ‘Antre Uang di Bank.’ Begini liriknya:

Seseorang datang menemui punggungku/ Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu/ Seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai/ Lalu, ia meletakkan batu es ke dalam botol mineralku.

Seberes membaca, kami beradu pendapat. Menafsirkan empat larik puisi di atas. Hasilnya sungguh di luar nalar. Afrizal mampu membikin kami berbeda tafsiran. Salah satu dari kami menafsirkan bahwa puisi itu memang mengisahkan seorang aku-lirik (yang tak lain si Afrizal) pada saat antre di bank. Sebagian lagi menafsirkan puisi tersebut menggambarkan kelicikan koruptor. Dan terakhir, saya, menjelaskan bahwa puisi tersebut menggambarkan kondisi kapitalisme hari ini.

Boom! kami terperangah, saling tatap. Penyair senior itu mampu membikin multitafsir di puisinya. Korespondensi dengan benda-benda di lingkungan ia jadikan sebuah simbol. Bisa berupa bentuk fisik maupun sifat. Maka, melalui hal-hal semiotik, Afrizal seolah tidak hanya mencipta daya ungkap yang kuat, tetapi ia mampu menghidupkan benda-benda mati. Ia pernah berkata: “Bila ingin menulis kata ‘bergetar,’ aku tidak menulisnya dengan bahasa ungkap. Akan tetapi, aku ingin pembaca bergetar.” Takjub.

Sebenarnya, rekam jejak menjadikan Afrizal lebih aneh (dan liar). Sebelum menekuni dunia sastra dan teater, ia bekerja di perusahaan kontraktor selama sepuluh tahun. Mengadu nasib di ekspedis muatan kapal laut dan asuransi jiwa di tahun-tahun berikutnya. Pengalaman-pengalaman inilah yang sangat berarti bagi dirinya. Sehingga, puisi yang dicipta tidak hanya puitik dari majasnya, melainkan memiliki sisi pengalaman indrawi.

Selama tiga puluh tahun hidup di dunianya sekarang, Afrizal telah melahirkan banyak buku dan meraih berbagai macam penghargaan. Buku-bukunya antara lain: Abad yang Berlari (1984), Arsitektur Hujan (1995), Lubang dari Separuh Langit (2004), Teman-temanku dari Atap Bahasa (2008), Museum Penghancur Dokumen (2013), dan yang terbaru; Berlin Proposal (2015). Afrizal juga meraih penghargaan Republika Award untuk esai dalam Senimania Republika, harian Republika (1994), Esai majalah Sastra Horison (21997), Dewan Kesenian Jakarta (1984), Radio Nedherland Wereldomroep untuk naskah drama Surat (1981), Dewan Kesenian Jakarta untuk buku puisi Abad yang Berlari (1987), Second Hand Languager Store, Limited Edition (Rumah Hujan, Yogyakarta, 2012), Jembatan Ilusi Antara Seni dan Kota (25 Tahun Gedung Kesenian Jakarta, 2012), dan masih banyak lagi.

Hingga kini, Si Aneh, Arsitektur Hujan itu masih tetap konsisten menulis puisi, cerpen, novel, dan esai sastra di media massa. Koran Horison, Kompas, Berita Buana, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tempo, Jawa Pos, Surabaya Pos, Pikiran rakyat, dan lain-lain tetap menjadi media tempat Afrizal mencipta dunia lain. Dunia dengan keanehan yang tak pernah terpikirkan.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar