Markopolo, Reklamasi Dan Negeri Imajinasi

Aku hidup sebatang kara ditepian utara jakarta. Orang-orang menyebut tempatku lingkungan kumuh dan kurang tertata diantara gemerlap ibukota. Dalam keseharian aku hidup sebagai nelayan meski kehidupan tak menjanjikan. Masih setia sebagai pencari ikan dengan sedikit pendapatan bagiku tak menjadi hambatan. Mencintai pekerjaan yang ku geluti dari remaja hingga usiaku menua sampai saat ini. Mungkin bukan cita-cita, tapi aku akan bahagia jika mati sebagai seorang nelayan jakarta. Ohh iya aku bernama markopolo. Nelayan-nelayan lain memanggilku marko si tua penebar jala.

Pagi sekali selepas subuh aku berangkat seorang diri mengarungi keruhnya lautan ibukota. Dan semakin keruh akibat proyek reklamasi yang mulai di kerjakan. Dengan sampan kecil berlebar satu meter dan sebatang dayung di tangan aku mulai mengarungi lautan. Semenjak motor perahuku dijual untuk kepentingan perut dan menyambung hidup, dayung adalah mesin satu-satunya yang bisa kuandalkan. Tak masalah bagiku, di usia yang hampir habis ini lenganku juga masih kuat melakukannya.

Lagi-lagi karena reklamasi laut ini semakin keruh dan ikan-ikan semakin menjauh. Aku harus mendayung lebih jauh dari dermaga ibukota ke arah utara. Dua tiga kali jala kutebar, puluhan kali kail ku lempar tak ada satupun makluk air terperangkap di jaringku. Malah sampah yang kerap salah masuk dan menyangkut. Mau tidak mau aku semakin ke utara. Itu lebih baik daripada pulang dengan tangan hampa.

Semakin ke utara tetap saja tak kutemui penghuni laut yang kucari.

 “Apakah ikan-ikan bersembunyi ?”

“apakah udang-udang sudah mati karena laut dicemari limbah reklamasi ?” tanyaku dalam hati.

Sial tanganku mulai pegal. Sial lagi aku lupa membawa jangkar. Aku tak mau terombang ambing di lautan dengan sampan kecil ku. Aku tak mau hanyut dan mati kelaparan di tengah laut. Hendak menepi ke dermaga terlalu tak mampu untuk ku jangkau.

Bola mataku menangkap pulau kecil sedekat pandanganku. Memilih menepi ke pulau itu menjadi pilihan satu-satunya. Berniat istirahat beberapa waktu untuk mengisi tenaga atau bila beruntung bisa memperoleh hasil tangkapan. Aku kaget bukan kepalang, di pulau ini airnya sejernih air mineral meski tetap asin dan gak ada manis-manisnya. Ikan-ikan dan lobster berenangan dengan gembira.

Belum sempat mengambil jala dan menebarnya, aku terperanga oleh rindangnya bibir pantai. Tak hanya kelapa, banyak pepohonan bertumbuhan di bibir pantai. Ini lebih dari pantai, ini lebih seperti kebun buah. Tak sampai ku tebar jala, aku bergegas mendekati pohon-pohon buah-buahan itu. Memastikan itu nyata dan bukan fatamorgana lalu membunuh rasa laparku. Benar saja seluruh kekayaan hutan ada disana, mulai dari jambu, apel, pepaya hinga anggur tumbuh subur. Bunga-bunga bermekaran memperindah kecantikan tempat yang layak di sebut surga. Burung-burung tak berkicau melainkan memainkan alat musik bernada merdu. Kutilangan memainkan kecapi dengan sayapnya. Kenari memetik harpa dengan kakinya. Sementara para merpati saling bersaut suara serupa terompet, seruling dan harmonika.

Pelangi yang tak sedikit pun memudar menjadi pelengkap menawannya tempat ini. Sungai air tawar nan jernih dan segar menjadi pengobat dahagaku. Otakku penuh tanda tanya

“aku ini sebenarnya ada dimana ?”

“ apakah aku sudah ada di surga ?”

bila aku di surga, kenapa tidak ada gadis-gadis perawan serupa bidadari yang bisa aku cumbui disini ? ahh ini bukan surga, lagi pula malaikat maut juga belum pernah menjemputku

Aku mulai memetik buah-buahan dari dahan-dahan yang mulai keberatan di hinggapi ratusan buah yang bertengger di ranting-rantingnya. Sejenak, ku lupakan tentang ikan dan sibuk makan segala buah yang kutemukan. Aku tenang dalam keadaan perut terlalu kenyang. Kemudian ku istirahatkan badan di bawah ayunan pohon kelapa. Sejuk dan sedingin pegunungan mengantarkanku pada ketiduran nyenyak yang tak ku inginkan.

Tiba-tiba aku terbangun. Kulihat kiri-kanan tak ada lagi pepohonan. Kulihat alas tidurku bukan lagi rumput hijau di pulau itu. Melainkan kayu lantai dermaga di utara ibukota. “Kenapa aku sudah ada disini ?”

 “siapa yang memulangkan tubuhku ?”

“Apa aku tadi mimpi”

Bergegas ku cari sampan kecilku, ternyata kendaraan laut kecilku itu sudah berlabuh di dermaga ini. Penuh dengan buah-buahan, ikan dan sehelai selendang berwarna biru muda bermotif mega mendung diatasnya.

Aku tak tau apa yang terjadi. Aku dibuat penasaran seumur hidupku mengenai pulau misteri itu.

“Apakah tuhan sedang menyenangkan hati seorang nelayan ?”

“apakah tuhan sedang bercanda dengan seorang nelayan tua ?”

 aku ingin menanyakannya jika kelak aku bertemu dengan-Nya.

Jika kau bertemu dengan Tuhan lebih dahulu, tolong tanyakan tentang pulau itu. Dan sampaikan salamku pada-Nya dariku marko si tua penebar jala di ibukota.

Andan Lawu Megantara

Andan Lawu Megantara

Lahir dan Bermukim di Ngawi. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Aktif di Instagram: @ampasskopimu

More Posts

Beri Komentar