Manusia dan Mimpinya

SAYA tertarik dengan John Steinbeck, mula-mula karena membaca wawancara Pramoedya Ananta Toer tentang beberapa penulis yang disebutnya sebagai role model, salah satunya John Steinbeck, penulis berkebangsaan Amerika Serikat, lahir di Salinas, California, pada tahun 1902. Ia mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1962, enam tahun sebelum ia meninggal dunia.

Pramoedya mengaku belajar teknik melukis narasi secara detail berkat Steinbeck. Ia juga menerjemahkan salah satu novel Steinbeck; Of Mice and Men. Sayangnya, saya tak membaca Of Mice and Men versi Pramoedya, melainkan yang diterjemahkan oleh Eriyanti E. Taman, dan diterbitbakan Gramedia Pustaka Utama, 2017. Dengan judul Bahasa Indonesia Tikus dan Manusia.

Beberapa kilometer arah selatan dari Soledad, Sungai Salinas mengalir merapat ke tepian sungai di sisi bukit dan merembah dalam dan hijau… (hal 7).

Paragraf pertama dibuka dengan narasi detail tentang sungai Salinas dekat Soledad, dan pegunungan, pohon-pohon, serta kadal. Satu hal, Steinbeck sering menempatkan latar novelnya di Salinas, di mana Steinbeck lahir di sana. Adalah George Milton dan Lennie Small, dua karakter utama. George digambarkan bertubuh pendek dan kecil, sedangkan Lennie bertubuh bongsor dan tinggi, tapi sedikit lamban berpikir, atau bahasa kasarnya, punya sedikit penyakit mental; idiot atau tunagrahita.

“Lennie!” katanya dengan nada tajam.“Lennie, demi Tuhan, jangan minum terlalu banyak.”Lennie terus mendengus ke dalam sungai. Si lelaki kecil membungkik dan mengguncang-guncang bahu temannya.“Kau bakal saki tseperti semalam.” (hal.9-10)

Dari cara menggambarkan tokoh, terlihat betapa Steinbeck adalah penulis yang cakap. Show, don’t tell. Di dalam logika cerita, yang terpenting adalah bagaimana menunjukan sesuatu, bukan mengatakan. Kita tahu, dari sedikit cuplikan di atas, bagaimana karakter George dan Lennie. Tanpa mengatakan bahwa Lennie konyol. Dan cara narasi seperti itu memang ciri khas dari Steinbeck. Itu menjadi gaya naratifnya.

George dan Lennie bisa dikatakan dua sahabat karib. Sedang dalam perjalan menuju peternakan. Tempat kerja mereka yang baru. Latar sosial dalam cerita ini adalah saat depresi ekonomi di Amerika Serikat. Mereka pindah kerja dari Weed, saat Lennie dituduh memerkosa seorang wanita hanya karena menyentuh gaun indahnya. Padahal,  Lennie hanyamenyukai hal-hal yang lembut. Seperti gaun, bulu tikus, kelinci, atau anjing. Tapi karena mentalnya yang sedikit terbelakang membikin Lennie sering mendapat masalah dari kebiasaannya itu.

Di tempat kerja yang baru, di bagian lain California, lembah Salinas, di sebuah perternakan  Soledad Selatan, mereka bekerja mengangkat karung-karung gandum. Di sana mereka berkenalan dengan Candy si pekerja tua yang bertugas untuk bersih-bersih, Slim si penggembala hebat, Carlson, serta Whit dan seorang negro bernama Crooks, mereka sama-sama sendirian dan kesepian. Tak punya masa depan. Tak punya mimpi. Seperti yang sering dikatakan George berulang kali pada Lennie:

“Orang-orang seperti kita, yang bekerja di peternakan, adalah orang-orang paling kesepian di dunia. Mereka tidak punya keluarga. Mereka tidak cocok di tempat mana pun. Mereka datang ke peternakan dan bekerja keras, lalu pergi ke kota dan menghamburkan hasil kerja keras mereka, lalu setelahnya mereka banting tulang lagi di pertenakan lain. Mereka tidak punya cita-cita.” (hal 23)

Mulai terlihat relasi hubungan antara George dan Lennie, bagaimana George seringkali harus direpotkan oleh Lennie yang bertingkah seperti anak kecil. Pada dasarnya, hubungan mereka tak seimbang. Justru karena hal itulah karakter mereka begitu memikat. Seperti melihat sesuatu yang aneh di antara pekerja yang tak punya harapan. Tapi yang paling membekas dari novel ini adalah, ketika mereka sering mengkhayalkan masa depan, tentang mimpi mereka untuk punya tanah dan peternakan sendiri. —

Lannie menyela.“Tapi, kita tidak begitu? Dan kenapa? Sebab… ada kau yang bantu aku dan kau punya aku buat membantumu, dan itu sebabnya.”  (hal 24)

Dalam narasi itu, kita menemukan humor  dan ironi campur jadi satu sekaligus. Dialog itu sering diulang dan menghasilkan repetisi yang makin ironi. Mereka percaya, bahwa mereka tidak seperti pekerja lain, yang kerja sebulan penuh, dan pada akhir bulan menghabiskan uang di tempat bordil. Sebab, mereka punya mimpi. Itulah yang membedakan mereka dengan pekerja lain: mimpi.

Atau hanya George yang punya mimpi? Sebab, tampaknya, Lennie tak tertarik dengan khayalan George tentang tanah, dan peternakan yang luas, dan rumah mewah, kecuali di pojok peternakan itu, Lennie mendapat tugas merawat kelinci, dan bebas mengelus-elus bulu kelinci sepanjang hari.

“Oke. Suatu hari nanti… kita akan kumpulkan semua uang dan kita akan punya rumah kecil dan beberapa hektar tanah dan sapi dan beberapa babi dan…” (Hal 24)

Apakah akhirnya mimpi mereka berhasi terwujud? Selanjutnya adalah tugas pembaca untuk menuntaskanya sendiri. Saya tidak mau memberi terlalu banyak spoiler. Saya percaya, ada akhir cerita yang sebaiknya ditemukan sendiri oleh pembaca. Katakanlah, sebuah hadiah bagi ketelatenan membaca sebuah cerita dari awal sampai akhir.

Tapi sebelum saya mengakhiri tulisan ini,  ada hal yang menjadi perhatian saya dalam novel ini. Hal itu adalah relasi. Selain relasi yang unik dan konyol antara George dan Lennie, yang tak kalah membikin saya heran adalah relasi antara Candy pekerja tua dan anjing tua yang ditemukannya. Candy adalah pekerja tua yang cacat. Dia cuma punya satu tangan. Anjing yang dipelihara oleh Candy itu sudah tua, dan bau.

Carlson yang tinggal di kamar bersama Candy, menyuruhnya untuk membunuh saja anjing tua itu karena sudah tidak berguna. Anjing itu akhirnya dibunuh, setelah berdebat panjang dengan Candy. Dan yang membunuhnya tentu saja bukan Candy. Dahulu, anjing tua itu adalah anjing yang kuat.Menjaga peternakan. Tapi karena anjing itu sudah tua, maka anjing itu sudah tak berguna.

Seperti metafora tentang manusia yang terjebak dalam kerja dan kehendak industri, di mana setelah mereka tak berguna, mereka akan dipecat dan diganti pekerja yang lebih muda dan segar. Candy punya simpati yang tinggi terhadap anjing itu, karena mengingatkan pada nasibnya sendiri. Candy tukang sapu tua dan cacat, ketika tenaganya habis dan tak berguna, tinggal menunggu waktu untuk dibuang seperti anjing yang dipeliharanya. Hidup sendirian. Mati tanpa meninggalkan apa-apa, kerja seumur hidup tampak sia-sia.

 

Identitas Buku:

Judul Asli: Of Mice and Men–Tikus dan Manusia (terbit 1937)

Pengarang: John Steinbeck

Penerjemah: Eriyanti E. Taman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan Pertama: Februari 2017

ISBN: 9786020337814

Tebal: 144 hlm.

Foto: Dokumentasi Pribadi

Randy Mahendra

Randy Mahendra

Kontributor nggalek.co. Pernah bergiat di KAWAH; komunitas menulis jurusan KPI, IAIN Ponorogo.

More Posts

Beri Komentar