Makna Toleransi Beragama

Dalam percakapan sehari-hari seperti tak ada perbedaan antara kerukunan dengan toleransi. Sebenarnya antara kedua kata ini terdapat perbedaan, namun saling memerlukan. Kerukunan mempersatukan unsur-unsur yang berbeda, sedangkan toleransi merupakan sikap atau refleksi dari kerukunan. Tanpa kerukunan, toleransi tidak pernah ada, sedangkan toleransi tidak akan pernah tercermin jika kerukunan belum berwujud.

Istilah toleransi berasal dari bahasa Inggris, yaitu: ‘tolerance’ berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain tanpa memerlukan persetujuan. Bahasa Arab menerjemahkannya dengan ‘tasamuh’yang berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.

Dengan adanya toleransi maka akan diharapkan dapat melestarikan persatuan dan kesatuan bangsa, mendukung serta menyukseskan pembangunan dan menghilangkan kesenjangan. Hubungan antar umat beragama didasarkan pada prinsip yang baik, bekerjasama untuk menghadapi musuh dan membela golongan yang lemah.

Toleransi adalah istilah yang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kata ini bahkan dianggap sudah inheren dalam jiwa bangsa Indonesia karena jauh sebelum berdirinya negara ini kata itu sudah menjadi kearifan dan cara hidup masyarakat nusantara. Sebagaimana kita tahu, nusantara adalah bangsa majemuk yang diperlihatkan dari banyaknya agama, suku, dan ras.

Kemajemukan ini telah lama hadir sebagai realitas empirik yang tak terbantahkan. Indonesia kemudian dikenal sebagai bangsa dengan sebutan ‘mega cultural diversity’ karena di Indonesia terdapat tidak kurang dari 250 kelompok etnis dengan lebih dari 500 jenis ragam bahasa yang berbeda.

Toleransi dalam pergaulan hidup antara umat beragama yang didasarkan kepada: setiap agama menjadi tanggung jawab agama itu sendiri dan mempunyai bentuk ibadat (ritual) dengan sistem dan cara tersendiri yang ditaklifkan (dibebankan) serta menjadi tanggung jawab orang yang pemeluknya atas dasar itu, maka toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama bukanlah toleransi dalam masalah-masalah keagamaan, melainkan perwujudan sikap keberagamaan pemeluk suatu agama dalam pergaulan hidup antara orang yang tidak seagama, dalam masalah-masalah kemasyarakatan atau kemasalahatan umum.

Dalam mewujudkan kemaslahatan umum, agama telah menggariskan dua pola dasar hubungan yang harus dilaksanakan oleh pemeluknya, yaitu: hubungan secara vertikal dan hubungan secara horizontal. Yang pertama adalah hubungan pribadi dengan Khaliknya yang direalisasikan dalam bentuk ibadat sebagaimana yang telah digariskan oleh setiap agama. Hubungan ini dilaksanakan secara individual, tetapi lebih diutamakan secara kolektif atau berjemaah (salat dalam Islam). Pada hubungan pertama ini berlaku toleransi agama yang hanya terbatas dalam lingkungan atau intern suatu agama saja. Hubungan kedua adalah hubungan antar manusia dengan sesamanya. Pada hubungan ini tidak hanya terbatas pada lingkungan suatu agama saja, tetapi juga berlaku kepada orang yang tidak seagama, yaitu dalam bentuk kerjasama dalam masalah-masalah masyarakat dan kemaslahatan umum. Dalam hal inilah berlaku toleransi dalam pergaulan hidup antara umat beragama.

Toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama berpangkal dari penghayatan ajaran agama masing-masing. Bila toleransi dalam pergaulan hidup ditinggalkan, berarti kebenaran ajaran agama tidak dimanfaatkan sehingga pergaulan dipengaruhi oleh saling curiga dan prasangka. Perwujudan toleransi dalam pergaulan hidup antar umat beragama direalisasikan dengan cara: pertama, setiap penganut agama mengakui eksistensi agama-agama lain dan menghormati hak asasi penganutnya. Kedua, dalam pergaulan bermasyarakat, setiap golongan umat beragama menampakkan sikap saling mengerti, menghormati, dan menghargai.

Semua umat manusia di muka bumi sejatinya mendambakan hidup rukun dan damai. Suasana hidup yang penuh kedamaian menjadi modal utama terciptannya kesejahteraan dan kebahagiaan. Tidak akan ada kesejahteraan dan kebahagiaan tanpa kedamaian

Kerukunan antar umat beragama pada mulanya atas prakasa dan program pemerintah, namun tidak berada di bawah dan pengaruh pemerintah. Esensi kerukunan bukan pemerintah, tetapi umat beragama itu sendiri. Bila terjadi perselisihan, intern suatu agama maupun antar umat beragama, diselesaikan umat beragama itu sendiri.

Setiap usaha baik dalam bentuk perbuatan atau tindakan mempunyai tujuan tertentu. Suatu usaha dikatakan bernilai apabila melalui proses dan mencapai tujuan yang benar. Perkataan tujuan mengandung pengertian; arah yang akan dicapai atau titik akhir dari usaha. Memahami arti tujuan selain dari menumbuhkan cita-cita, juga memberi nilai kepada usaha. Nilai usaha terletak pada cara yang memberi jaminan kepada tercapainya tujuan.

Bentuk kerukunan atau toleransi antar umat beragama tidak dapat dipisahkan dari agama itu sendiri. Pengertian yang terkandung dalam tujuan ini bukan hanya sekadar mencapai tujuan itu saja, tetapi juga bagaimana merealisasikan dan memelihara tujuan itu. Mengingat tujuan yang akan dicapai merupakan tujuan bersama umat beragama, maka konsekuensi dari tujuan ini berada di tangan umat beragama itu sendiri.

Ada dua bentuk toleransi beragama: Pertama, toleransi beragama pasif, yakni sikap yang menerima perbedaan sebagai suatu yang bersifat faktual. Kedua, toleransi beragama aktif, yaitu toleransi yang melibatkan diri dengan yang lain di tengah perbedaaan dan keragaman. Toleransi aktif merupakan ajaran semua agama. Hakikat toleransi adalah hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai di antara keberagaman. Praktik toleransi di suatu negara sering mengalamai pasang surut. Pasang surut ini dipicu oleh distingtif yang bertumpu pada relasi ‘mereka’ dan ‘kita.’

Bentuk-bentuk toleransi beragama yang diperintahkan Nabi kepada sesama kaum muslim maupun terhadap non-muslim ialah: (a) Tidak boleh memaksakan suatu agama pada orang lain: setiap agama menjanjikan kemaslahatan bagi seluruh manusia tanpa pengecualian, dan setiap penganut agama menyakini sepenuhnya bahwa Tuhan yang merupakan sumber ajaran agama itu ialah Tuhan yang Maha Sempurna, Tuhan yang tidak butuh pengabdian manusia. Ketaatan dan kedurhakaan manusia tidak akan pernah memengaruhi atau menambah kesempurnaan dari Tuhan. Maka dari itu, sedemikian besarnya Tuhan sehingga manusia diberi kebebasan untuk menerima atau menolak petunjuk agama, dan karena itulah Tuhan menuntut ketulusan beribadah dan beragama dan tidak membenarkan paksaan dalam bentuk apa pun, baik yang nyata maupun yang terselubung;

(b) Tidak memusuhi orang-orang non-muslim: Islam adalah agama yang mampu menyatukan rakyat, menimbulkan rasa kasih sayang, dan pada akhirnya semua hal tersebut dapat menciptakan tali persaudaraan di antara pemeluknya. Atas dasar itulah, maka semua jenis manusia, semua warna kulit, semua bahasa dan semua agama berhak untuk mendapatkan perlindungan. Mereka semua merasakan di dalam suatu keluarga yang mempertemukan dalam satu ikatan, ialah ikatan kemanusiaan, yang tidak mengenal perbedaan hitam, putih, utara, selatan karena semua makhluk Tuhan dan berasal dari yang sama. Jadi, sesama umat Tuhan tidak boleh adanya saling memusuhi antara umat yang satu dengan yang lain karena hal tersebut tidak diajarkan dalam agama apa pun.

(c) Hidup rukun dan damai dengan sesama manusia: hidup rukun dan damai dengan sesama manusia baik yang muslim maupun non-muslim seperti yang diajarkan Rasullullah akan membawa umat manusia pada kehidupan yang damai. Seperti yang telah dijarakan, mengenai bersikap lembut kepada sesama manusia baik yang beragama Kristen dan Yahudi.

(d) Saling tolong-menolong dengan sesama manusia: dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama, sudah seharusnya berbuat baik kepada sesama manusia, karena manusia adalah makhluk sosial yang pada hakikatnya saling membutuhkan satu sama lain, maka dari itu manusia juga perlu saling tolong-menolong dengan sesama manusia. Saling tolong-menolong yang dimaksud adalah dalam hal kebaikan. Sesama makhluk Tuhan tidak diperbolehkan untuk berbuat kejahatan pada manusia.

Dani Saputra

Founder Komunitas Omah Shoro dan Santri Pecinta Alam (SAPALA Omah Shoro)

More Posts

Beri Komentar