Lembah Satwa Bukit Pringgitan

Malam masih kekanak-kanakan belum terlalu pantas disebut dewasa. Cuaca sangat cerah untuk ukuran malam. Langit lumayan terang karena ditemani candra purnama dan beberapa rasi bintang yang bergelantungan.

Selepas menunaikan kewajiban bagi seorang muslim yaitu mendirikan sembahyang isya. Kami berkumpul di sebuah kontrakan tua milik seorang sahabat kami, bisma. Dan seorang sahabat lagi bernama Bambang. Kami bertiga berencana mendaki sebuah bukit di Ponorogo bagian selatan. Orang-orang menamainya bukit Pringgitan, atau lebih populer disebut gunung Pringgitan. Ohh iya aku sendiri seorang fotografer alam. Aku Yudistira, wira-wiri ke seluruh penjuru negeri hanya untuk melihat keindahannya melalui lensa kemudian ku abadikan dengan jepretan bingkai kamera.

Keberangkatan kami sedikit tertunda karena menunggu bisma berkemas dan merapikan barang bawaannya. Diantara kami bertiga hanya aku dan Bambang yang berpengalaman mendaki. Sementara bisma ini adalah pengalaman pertamanya.

Kami berangkat menuju kaki bukit Pringgitan mengendarai sepeda motor. Berjarak waktu 30 menit akhirnya kami tiba sesuai rencana. Sepeda motor kami titipkan di sebuah rumah penduduk dan kami mulai mendaki selangkah demi selangkah diiringi suara-suara jernih hewan-hewan kecil penghuni hutan. Jalan tak begitu curam, malam juga masih lumayan terang, membuat perjalanan kami begitu indah dan menyenangkan.

Cukup berjalan kaki dengan  waktu kurang lebih satu jam kami tiba di puncak bukit Pringgitan. Kami disuguhi paparan lampu kota dan bintang-bintang penghias malam. Pemandangan khas bukit Pringgitan. Bintang di langit seakan bercermin pada lampu-lampu kota penghias jalanan. Setiap titik cahaya bintang dan lampu-lampu jalanan seakan bermewah-mewahan memamerkan terang sinarnya. Tentu saja aku bergegas mengambil kamera dan mulai merekamnya.

Tenda kecil berkapasitas 4 orang mulai didirikan oleh Bisma dan Bambang, sementara nyala api unggun malam ini menjadi tanggung jawabku seorang diri. Tenda sudah tegak berdiri, nyala api unggun mulai menjilat-jilat kesunyian, kopi mulai diseduh dan petikan gitar Bisma menemani dinginnya malam dengan irama merdunya.

Jarum pendek jam tanganku melangkah kurang lebih satu angka dari semula. Api unggun mulai meredup. Ini tugasku mencari kayu untuk bahan bakarnya. Ahh sialan, ranting di sekeliling sudah habis tanpa sisa. Dengan bermodal senter dan tetap menenteng kamera kuberanikan diri melangkah lebih jauh lalu turun ke sebuah lembah yang cukup lapang. 

Aku benar-benar sendiri. Jauh dari jangkauan tenda. Jauh dari mereka. Kudengar suara-suara riuh keramaian dari sebelah kananku. Kuberanikan diri ini perlahan mendekat datang dengan mengendap-endap di balik batu dan pepohonan cemara.

Setelah sedikit mengintip dari balik batu seukuran bokong gajah aku terkejut bukan kepalang. Ku lihat ratusan hewan sedang berpesta di bawah cahaya purnama. Mereka menari layaknya manusia. Singa, badak, celeng, rusa dan hewan berkaki empat lainnya dapat berdiri menggunakan dua kaki belakangnya. Semua satwa disini berbicara menggunakan bahasa manusia. Terdapat pula satwa-satwa yang duduk dan bercengkrama di atas kursi dan meja batu. Tak hanya itu, kulihat segerombolan kera sedang menikmati wiski dan menghisap ganja. Beberapa ekor hewan mancanegara seperti panda dan koala memukul gendang dan kayu sebagai musiknya. Ini seperti tempat pesta para satwa setengah manusia. Nampak juga seekor kera sedang menyatakan cinta pada kekasihnya. Dengan rasa takut yang semakin menjadi-jadi, diam-diam ku ambil belasan gambar dari lensa kameraku.

Setelah cukup mengambil gambarnya aku bergegas kembali ke tenda kemudian mengabarkan pada Bambang dan Bisma. Karena penasaran dan seakan tidak percaya, kuajak mereka turun ke lembah itu.

Sesampainya di lembah tak ada satupun hewan atau makhluk bernyawa lainnya hanya batu, pohon, dan biji-biji cemara. Bisma dan Bambang mulai kesal seakan aku mengerjai mereka. Kamera langsung ku buka untuk menunjukan foto-foto yang sempat ku ambil tadi. Naas foto hewan-hewan berpesta sudah berubah. Berubah jadi batang cemara dan bongkahan-bongkahan batu. Dua orang sahabatku itu semakin kesal dan tak percaya.

Mulai saat itu bisma, bambang dan semua orang yang mendengar ceritaku tak sudi percaya pada apa yang aku lihat dan aku saksikan. Mereka menganggapku mengada-ngada.

Dan kau tak percaya juga ?

Kau tak percaya ?

Tak percaya ?

Kau boleh tak percaya padaku. Kau boleh tak percaya pada ceritaku. Kau boleh tak percaya pada tulisan ini. Tapi kau bisa percaya pada dirimu sendiri. Maka mendakilah gunung Pringgitan pada sabtu malam. Tepat saat purnama, turunlah ke lembah sebelah puncak Pringgitan. Selamat berpetualang. Dariku Yudistira.

Andan Lawu Megantara

Andan Lawu Megantara

Lahir dan Bermukim di Ngawi. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda IAIN Ponorogo. Aktif di Instagram: @ampasskopimu

More Posts

Beri Komentar