Kontestasi Politik Era Milenial

NEGERI kita negeri yang subur. Negeri kita negeri yang berkembang pesat, mengikuti siklus zaman. Masyarakat lebih mengenal rice cooker untuk menanak nasi daripada periuk yang telah usang. Masyarakat lebih memilih gawai dalam berkabar, meninggalkan surat-menyurat yang proses pengirimannya membutuhkan waktu panjang, atau bertemu secara face to face.

Perubahan zaman memaksa kita untuk beradaptasi, supaya tidak tertinggall dan punah—selayaknya kisah spesies jerapah berleher panjang dengan jerapah berleher pendek, yang mana kemampuan survival-nya jelas lebih diunggulkan jerapah berleher panjang. Meskipun kita bukan jerapah, tetapi kita dapat belajar dari pengaruh evolusi tersebut.

Perkembangan zaman memang menguntungkan. Aktivitas manusia semakin dipermudah dengan kemunculan berbagai macam teknologi. Orientasi kepraktisan senantiasa dikembangkan oleh para ilmuan. Kini, segala sesuatu dapat dilakukan dengan mudah. Rasa-rasanya, berkat kemajuan teknologi tersebut, ruang dan waktu terasa sempit. Informasi terasa mudah didapatkan. Hanya diakses dengan sekali klik (one click). Sama halnya dengan pengetahuan, juga manuver politik.

Inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh para politisi. Pengaruh teknologi dalam perkembangan zaman membawa dampak yang signifikan dalam bidang politik. Menurut survei yang telah dilakukan oleh KPU, pemilih milenial berjumlah 70-80 juta jiwa dari 193. Artinya, sekitar 35-40% memberikan pengaruh terhadap hasil pemilu. Pada pemilu 2014 yang lalu, diperkirakan sekitar 18,3 juta pemilih pemula dari usia 17-24 tahun. Mengacu pada hasil survei ini, meskipun belum memberi pengaruh yang besar, generasi milenial tetap mendapat tempat di hati para politisi. Bukan tidak mungkin, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, persentase pemilih milenial melesat tajam.

Strategi politik dengan menyasar pemilih milenial memang telah dilakukan oleh sejumlah koalisi partai. Ibaratnya seperti menanam benih-benih padi di lahan. Mungkin, kita masih bisa makan padi hari ini dan hari esok. Tetapi, kita belum tentu bisa makan padi satu bulan ke depan jika kita tidak mau menanamnya jauh-jauh hari. Analogi sederhana itulah yang saya pikir akan diimplementasikan dalam kontestasi politik di tahun-tahun ke depan, termasuk di ajang pilpres 2019.

Peranan Jejaring Sosial

Beberapa waktu yang lalu, kita telah dihebohkan dengan tagar (tanda pagar) #2019GantiPresiden. Tagar tersebut memicu perdebatan panjang di hampir seluruh kalangan. Meskipun maksud dan tujuan tagar tersebut belum jelas—entah dalam rangka kampanye atau ada tunggangan politik, nyatanya tagar tersebut sukses merajai trending topic di Twitter. Berangkat dari tagar yang kontroversial itu, saya pikir, strategi politik dengan maksud menggaet calon pemilih cukup relevan jika diterapkan melalui jejaring sosial.

Sekarang ini, strategi politik dengan menggunakan jejaring sosial tersebut telah dilakukan oleh kedua paslon, Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi. Terbukti, sesaat setelah KPU menetapkan nomor urut kedua paslon, jejaring sosial ramai dengan serbuan beberapa tagar yang merujuk pada dukungan suara untuk kedua paslon. Tagar-tagar tersebut seperti #JokowiLagi, #PrabowoSandi, #IndonesiaMaju, dan tagar-tagar yang lainnya.

Perang tagar seperti ini saya kira menarik untuk disimak. Selintas, survei elektabilitas kedua paslon dapat dilihat melalui tagar yang menjadi trending topic. Meskipun tidak secara resmi, hal ini dapat menjadi sebuah tolak ukur tersendiri. Adapun, kreativitas pendukung dan timses dalam pesta demokrasi tahun 2019 ini lebih menarik dan sengit. Para pendukung dan timses mulai meracik strategi jitu dengan menggatuk-gatukan tagar, membuat meme, serta kreativitas lainnya.

Biarpun perang tagar terkesan unik dan menarik, namun perlu adanya sikap antisipatif dari pihak polisi, Bawaslu, dan masyarakat. Sebab, dengan mencuatnya sebuan tagar di jejaring sosial, dapat memicu terjadinya kerusuhan. Sebagian besar penulis tagar merupakan generasi milenial yang masih labil dan sangat mudah untuk dipengaruhi. Belum lagi adanya tunggangan politik gelap yang memiliki maksud dan tujuan yang buruk.

Jangan sampai, pesta demokrasi yang akan berlangsung pada tahun 2019 ini ternodai. Pendidikan politik jelas diperlukan di sini. Baiknya, kita membawa semangat positif. Saling berbagi kebaikan. Manuver politik melalui jejaring sosial sudah semestinya digunakan sesuai dengan porsinya. Sederhananya, politik yang mendidik. Tidak ada salahnya memakai strategi politik melalui jejaring sosial, akan tetapi nilai-nilai solidaritas antar sesama bangsa harus tetap tertanam.

Patut disimak, layaknya sebuah drama kolosal. Sedikit banyak, perang tagar yang acap kali terjadi di jejaring sosial ini merupakan implikasi dari perkembangan zaman. Dengan menilik warganet yang mayoritas berusia muda, tentu bentuk kampanye di dunia maya patut untuk diperhitungkan.

Hendy Pratama

Hendy Pratama

Lahir dan bermukim di Madiun. Bergiat di komunitas Forum Penulis Muda, Laskar Sastra Muda, dan Pesantren Literasi (Omah Shoro). Instagram: @hendyy_pratama.

More Posts

Follow Me:
TwitterFacebookYouTube

Beri Komentar