Kiai, Masjid, dan Gamelan

Suatu ketika penulis mengikuti Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, tepatnya pada 3 Mei 2017. Seminar tersebut mengangkat tema “Seni, Religiositas, dan Kecerdasan Sosial” dengan menghadirkan pembicara: Zainal Abidin (Dosen UNPAD), KH. Yusuf Chudlori/Gus Yusuf (Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang), dan Dr. Ahmad Sobari (Budayawan, Jakarta). Bagi penulis, tema semacam ini secara kontekstual cukup implementatif bagi perkembangan wacana kesenian dalam menyikapi isu-isu dewasa ini.

Penulis terngiang ketika menyimak paparan Gus Yusuf yang menceritakan tentang ayahnya, Kyai Chudlori, kyai kharismatik sekaligus guru yang cukup berpengaruh dalam pemikiran kebudayaan seorang Gus Dur. Kisah ini juga sering diceritakan Gus Dur dalam ceramah ataupun tulisannya di berbagai kesempatan. Pernah suatu ketika Kiai Chudlori didatangi serombongan tamu dari sebuah desa di Timur Pesantren Tegal Rejo. Mereka mengadukan sebuah persoalan tentang pengelolaan banda desa (kas desa). Masyarakat terpecah menjadi dua kubu, satu pihak dari kalangan santri menginginkan kas tersebut digunakan untuk pembangunan masjid, pihak lain menginginkan untuk dibelikan perangkat gamelan yang mumpung pada saat itu dijual sangat murah.

Persoalan   tersebut   sulit  menemukan   jalan  keluar,   musyawarah  demi musyawarah tak kunjung menghasilkan kesepakatan. Jalan satu-satunya yang mereka buat adalah meminta “fatwa” Kyai Chudlori. Betapa tercengang Gus Dur mendengar jawaban Kyai Chudlori memberikan fatwa supaya dana kas desa tersebut dibelikan gamelan. Hal yang sama juga terjadi di pihak warga yang ingin membangun masjid, mereka mempersoalkan fatwa Kyai Chudlori tersebut. Dengan jawaban singkat Kyai Chudlori menjawab, “Nanti kalau gamelannya sudah ada, kelak masjidnya akan ada dengan sendirinya, asal masyarakat mau hidup rukun”. Dan memang seperti yang dikatakan Kyai Chudlori, masjid itu dikemudian hari tumbuh dengan sendirinya berkat kerukunan masyarakatnya.

Kiai, dalam masyarakat yang masih lekat dengan kultur pesantren tradisional merupakan tokoh yang sangat dihormati. Selain ia seorang yang alim dalam bidang agama, juga sebagai orang yang memiliki kelebihan dalam mendampingi serta membangun masyarakatnya secara arif. Sebagaimana dinyatakan oleh Zamahsyari Dhofier (2011) dalam Tradisi Pesantren, bahwa kyai merupakan seorang pembuat keputusan yang efektif dalam sistem kehidupan sosial, tidak hanya dalam kehidupan keagamaan tetapi juga dalam persoalan politik [bahkan termasuk wilayah kebudayaan-pen.].

Apa yang dapat kita pelajari dari kebijakan Kyai Chudlori di atas, sebetulnya merupakan sebuah wujud pemikiran yang menggambarkan tentang “kecerdasan sosial”. Secara teoritis kecerdasan sosial diartikan sebagai kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, dan kemampuan untuk memiliki perasaan, pikiran, serta tindakan yang sesuai dengan kondisi lingkungan (Goleman, 2006). Ini tertuang dalam tindakan Kiai Chudlori di atas, di mana kecerdasan sosial di sini bukan semata bagaimana otoritas kyai sebagai tokoh kharismatik yang disegani, mengatur keharmonisan masyarakatnya hanya sebatas asal dawuh (fatwa) saja, melainkan juga memperhatikan aspek keselarasan lainnya baik sosial maupun budaya.

Seperti kebijakan yang diutarakan Kyai Chudlori ketika lebih mendahulukan untuk mendahulukan membeli gamelan daripada membangun masjid, tentu ini bukan keputusan yang sekedar „ngawur‟ atau tanpa dasar. Namun melalui pertimbangan yang amat matang dari seorang kyai benar-benar luas secara pengetahuan. Kebijakan ini tentu memperhatikan dampak psikologis-sosial masyarakat pada waktu itu dan bagaimana stabilitas ke depannya nanti. Di situ ada kaidah yang cukup dijaga, yakni “dar’ul mafasidi muqoddamun ‘ala jalbil masholihi” (mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemanfaatan).  Kerusakan  di  sini  yang  harus  dihindari  bisa  jadi  adalah perpecahan   masyarakat  itu  sendiri.   Sebaliknya,   kalaupun  seandainya membangun masjid lebih didahulukan belum tentu juga bisa mendatangkan kemanfaatan yang lebih besar.

Mungkin, sebagian besar warga muslim  –di manapun berada– beranggapan bahwa, membangun masjid sudah barang tentu lebih utama daripada –hanya sekedar– membeli gamelan. Namun Kyai Chudlori sadar betul bahwa “masjid bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebagai sarana menuju Tuhan”. Ini yang menjadi ironi dengan kondisi hari ini, di mana-mana berlomba membangun masjid, tapi cenderung hanya sebatas fisik, tanpa disertai dengan pembangunan esensi dan mentalitas manusianya. Rela mengorbankan dengan meminta-minta di  mana-mana,  menengadah  satu-persatu  kendaraan  yang  lewat  di  tengah jalan, disertai orasi rayuan sambil iming-iming pahala di akherat. Setelah jadi, masjid hanya diposisikan sebagai “prasasti”  keberislaman yang telah dipatok kuat-kuat, tetapi kosong dari misi peradaban. Kenyataannya banyak masjid dibangun  dengan  fasilitas  memadahi,  namun  kering  akan  daya  “spiritual”. Bahkan banyak pula masjid sekarang tidak lagi menjadi tempat teduh bagi jiwa- jiwa yang kehausan, malah menjadi “mimbar politik” yang ceramahnya semakin menebar kebencian antar sesama – apalagi saat musim pilkada tiba.

Terkait  pemaknaan  Kyai Chudlori tentang  “masjid  bukanlah  tujuan” di atas sebetulnya bisa menjadi bahan refleksi kita bersama. Meramaikan atau memakmurkan masjid memang dianjurkan agama, sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Saw: “Orang-orang yang membangun masjid akan diberi imbalan serupa oleh Allah di surga kelak”. Dalil tersebut kiranya juga perlu kita urai kontekstualisasinya, bahwa membangun sebuah tempat peribadatan hendaknya juga memperhatikan aspek lokalitas, saling menghargai dan menyesuaikan dengan kultur setempat. Ini supaya esensi tempat ibadah dapat melekat dengan tradisi masyarakatnya, tanpa kehilangan nilai-nilai spiritualnya.

Di sisi lain, keputusan Kiai Chudlori lebih mendahulukan membeli gamelan juga tidak  bisa  dianggap  remeh-temeh.  Kalau  kita  menengok  sejarah  Islam Nusantara, gamelan –kalau boleh saya mengatakan– sebetulnya bukan sekedar untuk medium dakwah penyebaran agama Islam saja. Tetapi lebih merupakan sebuah instrument penting dalam pembentukan karakter maupun aspek batiniah masyarakat Jawa. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kosmologi kebudayaan Jawa, yang secara bawah sadar telah diikat dalam memori kolektif masyarakatnya. Maka dimensi spiritual pada gamelan tidak bisa dilepaskan dari saripati Islam itu sendiri, yakni tasawuf.

Sebagai contoh, menurut pandangan Judith Becker (1979), bahwa melodi musik Jawa sesuai dengan konsep waktu siklus dalam sistem pengetahuan Jawa. satu siklus (gongan) dapat dibagi setengah oleh kenong, menjadi seperempat oleh kempul,  seperdelapan   oleh   kethuk,   sepernambelas   oleh   saron,   dan sepertigapuluh dua oleh bonang barung. Ini sesuai dengan kalender bulan yang disebut asta-wara, suatu lingkaran yang selalu kembali pada hitungan delapan.

Gamelan menurut budayawan Ki Herman Sinu Janutama berasal dari bahasa Arab “jamalan”, yang berarti keindahan. Ini merupakan bentuk ekspresi orang Jawa dalam mengagumi Dzat Yang Maha Indah melalui bunyi-bunyian (orkestra gamelan). Maka dalam konsep musik ini lebih menggunakan kesunyian sebagai bagian integral dalam komposisinya. Lebih menegaskan suasana fana bagi yang sedang menjalani suluk. Setiap gongan terasa sebagai simbol bagi tercapainya suatu tingkat (maqam) tertentu setelah orang beralih dari suasana zikir dan sunyi  secara  bergantian  (Kuntowijoyo,  2006).  Sebagai  puncak  keheningan, maka dalam sebuah komposisi ditutup instrumen gong gedhe yang melambangkan getaran semesta, manifestasi Yang Maha Agung. Maka gamelan tidak lain merepresentasikan suara alam. Ketika kita memahami gamelan maka kita akan mengerti tentang alam, ketika kita mampu memahami alam kita akan menemukan tajalli Penciptanya. Dapat dikatakan, melodi, ritme, harmoni, dan dinamika gamelan adalah perjalanan suci menuju Tuhan.

Dadang Wahyu Saputra

Dadang Wahyu Saputra

Alumni Seni ISI Yogyakarta, Seniman Muda dan Dosen IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar