Ketika Rindu Menyapa

Ombak dipantai membawa percikan air hingga mengenai tubuhku, aku mencoba berlari, kemudian duduk diatas sebuah batu yang terletak didekat pohon kelapa. Tak terasa hari ini  umurku genap 22 tahun. Sekitar empat bulan yang lalu aku menyelesaikan S1 ku. Aku lulus empat tahun sesuai yang mama targetkan padaku. Aku sudah diterima mengajar disekolah swasta faforit didaerah rumahku. Tapi, Kekecewaan tampak dimuka  mama ketika aku menolak tiga pria yang ingin berkenalan denganku. Yang pertama guru ayah ngaji yang terkenal alim bahkan telah menyelesaikan hafalan qur’annya. Kemudian teman kakak sepupuku yaitu Zafran dia bekerja disalah satu perusahaan besar di Jakarta, kami kenal karena mama pernah mengizinkanku pergi ke Jakarta untuk berlibur. Dan yang terakhir, setelah aku wisuda  kejutan yang tak pernah terbayang tiba-tiba teman sekelasku  mengenalkanku pada orang tuanya, padahal kami tidak pernah ada hubugan tentang perasaan.

Lamunanku masih terfokus pada ombak pantai, aku rindu entah kepada siapa. Tak biasanya aku hanya diam membisu seperti ini.  Burung-burung berterbangan membuatku menghilangkan rasa cemas ini. Siapakah orang yang sering ada dalam lamunanku, senyumnya sangat pekat, menarik tanganku dan membawaku berlari ke daerah yang baru. Kicauan burung mulai terdengar aku bergegas pergi meninggalkan tempat ini. Aku tahu tuhan Maha Adil dan Dia selalu mendengar do’a-do’a hambaNya, mungkin Dia hanya megujiku. Agar aku tetap bertahan dan bersabar dalam penantian ini. “Apakah aku akan melanjutkan S2 ku? Mama pasti melarangku untuk melanjutkan S2 karena aku belum menikah. Sedangkan aku sudah diterima melanjutkan S2 ku dikampus yang sudah lama aku impikan” kataku dalam hati. Pelan-pelan aku berjalan menuju  mobil, sebelum aku masuk mobil, tiba-tiba  ada yang aneh dari mobil itu. Pria yang keluar dari mobil itu, tersenyum manis kemudian mengangguk ke arahku. Aku sempat terkejut, tertuduk malu dan langsung masuk ke mobil. Detak jantung tak beraturan rasanya aku ingin menatapnya lagi dan lagi. Ketika aku keluar dari mobil, dia sudah tak ada , dia pergi sangat cepat. Aku seperti tak asing dengan senyumnya tapi siapa dia. Entahlah, sunsite sudah tampak aku takut mama cemas karena aku belum pulang.

Sesampai dirumah aku meletakkan mobil dibagasi mama membuka pintu, muka mama tampak cemas mungkin aku pulang terlalu larut, karena selama ini aku tak pernah lupa memberi kabar pada mama jika pulang terlalu sore.

“kamu dari mana sayang…”. Tanya mama

“dari pantai, ma’af ma aku lupa belum izin”

“iya, buruan mandi nanti ayah pulang mama gak mau kamu tampak lesu ketika ayah datang”

“iya ma, aku ngerti kok”

Setelah selesai mandi aku membuka jendela depan kamarku mawar merah itu mekar sempurna. Dari aku SMA aku sangat suka menatapnya setiap hari, bukan hanya pagi tapi siang, sore bahkan malam hari. Dia selalu mengerti tentang hatiku kapan harus mekar dan kapan akan layu. Mama bilang “mawar merah itu mahal, keindahannya sangat menggoda bagi siapa saja yang melihatnya.”. Aku membuka pintu kamarku menuju ke taman, “Ups, sakit…” rintihku ketika memetiknya, aku lupa kalau mawar merah ini berduri.

“Tok,tok,tok. Tante assalamu’alaikum…”. Aku yang semula dikamar bergegas membuka pintu.

“Iya, wa’alaikumsalam. Tunggu sebentar” jawabku dari kejauhan

“Hamam, masuk sudah lama kita tak bertemu”

“Ih, kamu Syahidah makin cantik aja, apakah kamu masih mengingat Ziyan?”

“Memang ada apa dengan Ziyan?”

“Awalnya aku mau ketemu mamamu, tapi mamamu gak ada ya udah aku pulang dulu…”

“Tadi kamu bukannya nanya ke aku tentang Ziyan, memang dia kenapa?”

“Dia akan segera menikah hehe, ya uda aku pamit ya, salamku untuk mamamu”

Ziyan adalah cinta pertamaku ketika aku di SMA, bukan teman SMA tapi dia teman Hamam. Kami sempat dekat hanya saja kami tidak pernah bertemu. Aku pernah punya fotonya, tapi entah sekarang dimana. Dulu dia berjanji akan menikahiku tapi kenyataannya dia menghilang. Entah apa yang membuatnya meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Hamam bilang keluarga besar Ziyan sangat fanatik dengan agama mungkin caraku dan cara dia meluahkan perasaan salah hingga akhirnya dia menghilang entah kemana. Sedangkan Hamam ia adalah  sepupuku dia baik dan pandai, dia lulusan terbaik di pondoknya. Sekarang dia kerja dikantor pengadilan. Dulu aku sering banget main kerumahnya, setelah aku tahu bahwa dia anak angkat dari tante Faza mama menyuruhku lebih jaga jarak. Maka dari itu sekarang kita tak seakrab dulu. Aku menuju kamarku karena sudah malam.

Hari ini aku pulang malam dari sekolah karena akan diadakan akreditasi disekolah. Aku ke sekolah tidak membawa montor atau mobil tapi dianter sama mama. Yah, terdengar manja memang kemana-mana harus izin, dianter dan lain-lain. Tapi ini penjagaan mama untuk anak perempuannya. Bahkan anak semata wayangnya.

Jilbab besar baju lebar bukanlah modal bahwa seorang wanita itu sempurna, namun dari situ aku menemukan sebuah keajaiban. Sekalipun sikap cuekku yang amat menyatu dengan diriku, membuat diriku semakin terjaga. Aku memang bukan wanita sempurna tapi aku mencoba menyempurnakan iman dan taqwaku dimulai dari pakaianku ini. Dari pakaian aku bisa belajar bagaimana cara menjaga diri. Dulu aku sering marah sama mama begini salah begitu salah dan sekarang aku sadar bahwa pakaian adalah awal dari semua ini. Sudah biasa cacian itu keluar dari mulut mereka, mengatakan bahwa aku tak laku tak modis atau apalah. Tapi dari situ aku belajar bagaimana caraku menguatkan hati.

Aku mecoba menelfon mama tapi handphone mama mati. Aku gak mungkin menelfon ayah karena ayah hanya pulang dihari Sabtu dan berangkat ke luar kota hari Minggu. Aku bingung mau menghubungi siapa. Tinggal aku yang ada disekolah bahkan satpam sekolah lagi keluar. Aku harus gimana? Kenapa satpam belum kembali juga, padahal hampir satu jam aku di depan sekolah. Tiba-tiba datang tiga pria yang tampak sangat menakutkan. Aku hanya diam seribu kata, aku takut tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

“Hai cantik…”, kata-kata itu mulai ku dengar saling bergantian dan semakin mendekat. Satu diantara mereka mulai menarik jilbabku. Bermula dari lambaian lembut tapi aku menarik jilbabku kemudian berlari. Dia mengejarku dua antaranya hanya tertawa menatap kami. Dia mulai memberikan energinya dia  menarik tangan kiriku dengan keras sehingga posisiku berada tepat didepannya aku menedang dadanya dengan kaki kananku. Satu preman mendekat kemudian memelukku. “Ups, rupanya kau ingin bermain-main terlebih dahulu ya cantik” satu preman mendekat karena tahu bahwa temannya mulai lemah. Tiba-tiba preman itu memelukku dari belakang. Aku membentangkan kedua tanganku dengan keras sehingga dia tidak dapat meraihku. Tiba-tiba preman yang semula hanya tertawa melihatku, tiba-tiba memberi tonjokan didadaku tapi sebelum tonjokan itu mengenaiku tangkisan dari tangan kiriku keluar.  Aku  memposisikan kakiku posisi kuda-kuda, agar bisa menompong tubuhku. Ternyata usahaku sia-sia dua preman yang sudah bertengkar denganku mengepungku dari sisi kanan dan kiriku. Aku masih dalam posisi waspada mereka bertiga berada disekelilingku. Ketika seorang preman memukulku aku memberi tangkisan tiba-tiba ada pukulan lain yang muncul dari belakangku. Ketiga preman itu terjatuh kemudian lari terbirit-birit.

Tiba-tiba mobil mama datang dari  arah kejauhan.  Air  mataku mulai berjatuhan mama keluar dari mobil.

“ Kamu gakpapa sayang?” Tanya mama, aku hanya diam sambil menagis memeluk mama.

“Terima kasih nak” ucap mama pada laki-laki yang menolongku melawat preman itu.

“Iya bu, apakah dia baik-baik saja bu?” dia menanyakan kondisiku,

“Iya mungkin dia hanya butuh ketenangan nak”jawab mama,

“Ya sudah saya pamit dulu bu”

“ Mari nak ke rumah, mama lagi masak masakan yang enak lo hitung-hitung tanda terima kasih mama ke kamu”

“Ma’af bu tapi saya sudah ditunggu teman saya, sudah maghrib bu gak enak kalau lama-lama”

“ya sudah mama tidak memaksa hati-hati ya nak, hanya Allah yang bisa membalas semua”

Aku masih berada dipelukan mama, mama mencoba menghentikan tangisku tapi tak semudah itu. Bahkan aku belum sempat melihat siapa yang menolongku. Akhirnya mama memegang bahuku dan memposisikan tubuhku didepan tubuhnya. Tersenyum dan mengangguk padaku kemudian mengajakku pulang.

Sesampai dirumah aku mandi ganti baju, dan mencoba menguatkan badanku, mama tahu kalau aku sudah lama tak pernah lagi latihan karate jadi mungkin aku lupa bagaimana tangkisan-tangkisan yang diajarkan oleh guruku. Mama kekamar membawa minyak dia memijatku dengan lembut sambil mengoleskan minyak itu. Tiba-tiba..

“Tok,tok,tok assalamu’alaikum…”

“Iya wa’alaikumsalam sebentar”

Mama pergi meninggalkanku dikamar. Kemudian terdengar suara akrab dan sangat syahdu diruang tamu. Tiba-tiba mama kekamarku kemudian berbisik.

“Sayang ada yang mau bertemu kamu”

“Siapa ma?

“Coba kamu temui dulu”

Aku beranjak meninggalkan kamarku kemudian menemui orang yang dibilang mama, hanya ada Hamam  diruang tamu. Dia tersenyum kemudian mengerutkan matanya dan bertanya.

“Kamu habis ngapain? Kenapa matamu bengkak kaya gitu?, Tanya Hamam padaku. Mama belum bilang, kalau aku habis dihajar preman. Aku menghiraukan pertanyaan Hamam, dia menatapku dan berkata:

“ Syahidah aku ingin melamarmu?”

“Kamu ngomong apa Sih…”. Mama tampak bingung apalagi aku. Tiba-tiba ada laki-laki yang muncul dari luar, dan berkata:

“Aku yang sebenarnya ingin melamarmu syahidah”

“ Kau? Ziyan ?” aku menatapnya dengan tersenyum

“Iya ini aku, tujuh tahun kamu menungguku, pergi untuk menguji kesabaranmu semua keluargaku sudah tahu tentang hubungan kita. aku mencoba menjelaskan semua ke keluargaku. Dan  hari ini, aku datang untukmu, keluargamu dan keluarga kita . Aku sudah menemui ayahmu seminggu yang lalu ketika aku mengisi seminar dikota Jepara. Kemudian aku bilang ke Hamam untuk mengantarkanku ke rumahmu.” Penjelasan dari Ziyan, Hamam hanya tertawa menatap kami.

“Loh, kamu kan yang menolong syahidah tadikan?” Tanya mama.

“Iya mungkin tadi hanya sebuah kebetulan tante, tapi yang ini adalah takdir cinta yang tertunda, semua tidak terencana, kalau syahidah berkenan saya tak mau berlama-lama lagi. Minggu depan saya ingin menikahi syahidah insyaallah 3 hari lagi keluarga saya bakal kesini menemui keluarga Syahida ma” Jelas Ziyan.

“Masyaallah, bagaimana syahida?” Tanya mama.

“ Baiklah saya setuju”, jawabku sambil terseyum malu.

Tangis sakit menjadi tangis senang yang sangat istimewa, semua berjalan begitu cepat dan cinta lama yang telah hilang itu menjadi sebuah kejutan yang istimewa.

Hari ini hari  pernikahan, keluarga Ziyan datang sekitar 3 hari yang lalu. Resepsi dilaksanakan meriah karena hanya senyuman yang terlintas dimuka-muka keluargaku dan keluarga Ziyan. Tuhan memang tak pernah salah dan selalu mengerti apa yang kubutuhkan. Jodoh yang tertulis adalah dia yang tak pernah lupa kupanggil dalam do’aku.

Setelah acara pernikahan berlangsung. Aku  kekamar bersama Ziyan, kami masih tampak malu-malu ketika saling memandang. Tiba-tiba dia berjalan menuju jendela. Aku duduk diatas kasurku, entah dia melihat apa tapi dia menarik tanganku dengan tersenyum. Astaga, senyumnya senyum yang sering menghantu-hatuiku sangat indah. Kemudian dia berkata “ Neng Wardatus syahida sayang, abang rindu padamu. Kau bagai mawar merah yang berduri ditaman itu, kamu indah dan tak boleh ada satu orangpun yang memiliki dan memegangmu kecuali aku, ayahmu dan anak-anak kita. sekarang aku bisa memelukmu, tidak lagi dari telfon tapi dari hati dan dari ketulusan cinta. Kau Wardah Syahidah terimalah aku dengan apa adanya”. Ziyan memelukku dan mengusap kepalaku dengan lembut. Aku menjawab “Bang Ziyan nurul qolbi tetaplah berada dalam hatiku, aku tak pernah lupa dengan kenangan manis kita dulu sampai kapanpun kau tetap imamku bawalah aku menuju surgaNya,”  Dan laki-laki yang kutemui ketika dipantai itu adalah dia, karena pada saat itu Ziyan sedang tes S2 dikampusku bahkan kami  kuliah dikampus yang sama.

Isnani Fitri Aminah Sutrisna

Isnani Fitri Aminah Sutrisna

Mahasiswa Tadris IPA IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar