Kenapa Ya, Musik Kok Diharamkan?

Sebelum saya memaparkan lebih jauh, terus terang saja, tulisan ini bukan dalam rangka untuk “menyerang balik”  atau berusaha mendekonstruksi teori-teori yang telah “beku” dan diyakini mereka orang-orang “agamis” yang terlanjur antipati terhadap musik. Bukan level saya untuk mengkritisinya apalagi menciptakan antitesis terhadap teori yang didasarkan pada ratusan dalil—yang dianggapnya—sahih dan menjadi dasar pijakan epistemologinya.

Kalau saya jangan ditanya soal dalil, jangankan mengerti, satupun ndak ada yang hafal…

Jujur, risalah yang saya tulis ini adalah uneg-uneg saya melihat banyaknya ceramah ustadz yang cenderung memvonis musik itu haram, bid’ah, melalaikan, simbol pemujaan setan, dll. Pandangan tersebut biasanya didasarkan pada legalitas dalil yang dipahaminya secara tekstual (hafal atau paham beda tipis sih). Ada juga video beredar yang mempertontonkan adegan orang ngamuk merusak gitar, dipukul-pukulin sampai dipecahin pakai kampak segala— sambil ngucapin testimoni katanya sih mau “hijrah” untuk tidak bersentuhan dengan musik lagi.

Keponakanku  yang  masih  SD  ikut  nonton  di  sebelahku  sampai  bingung  “kok  sampai begitunya, lalu apa salahnya gitar?”…

Melalui tulisan ini, saya ingin berusaha lebih reflektif saja terhadap nalar berfikir saya sendiri tentang MUSIK, apakah  nalar saya masih sehat (baca: waras) atau tidak. Jangan-jangan selama ini saya salah memahaminya? Bisa jadi. Kalau mereka masih berpegang teguh dengan pandangannya, ya tidak apa-apa kiat saling menghormati. Itu menunjukkan nalar mereka masih sehat juga, sanggup istiqomah (konsisten) dengan totalitasnya dalam berhijrah.

Namun saya kadang kurang yakin juga je…, apakah mereka bisa melepaskan musik sepenuhnya? Boleh saja mereka bilang sudah bebas dari musik, tapi dalam aktivitas sehari- hari saya nggak yakin mereka bisa lepas dengan yang namanya gadget. Kalau mereka ndak mau dengar musik, lantas nada panggilan (ringtone) apa yang diatur dalam androidnya? Mungkin dengan bacaan ngaji murottal? Okelah masuk akal, sekaligus menjadi pahala juga—mudah-mudahan.

Saya nggak yakin juga kalau di rumahnya nggak ada televisi. Lalu bagaimana mengantisipasi suara  musik  dalam  tivi  ketika  iklan  misalnya?  Atau  saat  muncul  musik  ilustrasi  dalam sinetron kesukaannya, apakah lantas volumenya dikecilkan? Ataukah nonton tivinya hanya gambarnya saja, minus suara? Ah, ndak mungkin juga.

Lagi pas belanja di mall misalnya, ketika mendengar musik dangdut yang kebetulan muncul dari toko pakaian yang ingin dibelinya, sambil memilih barang ataupun transaksi, apakah ia menutup rapat-rapat telinganya? Atau cukup dikasih kapas untuk meredam suara yang diterimanya? Ribet banget sih…

Kalau  dalam  kisah  diceritakan  bahwa  Kanjeng  Nabi  Muhammad  Saw  menerima  wahyu paling berat justru seperti gemerincing bunyi lonceng. Kalau saya simpulkan itu sebagai peristiwa musikal, pasti mereka dengan tegas menolak dan bisa-bisa mengecam saya dengan tuduhan sesat, mereka akan berbalik ngajari saya: “itu bukan musik, tolol…!!”. Ya…masih bisa diterima akal, itu bukan peristiwa musik. Kalau musik itu ya konser, di panggung- panggung, ada penyanyinya, dll.

Tetapi kalau kaum yang mengharamkan musik itu mengalaminya sendiri, paling tidak, akan sedikit paham. Coba kita belajar dari peristiwa sehari-hari. Bayangkan!! Jika setiap pagi anda mengalami rutinitas “panggilan alam” pergi ke kamar mandi, pasti terdengar bunyi yang jatuh ke dalam air closet dengan irama dan tempo yang khas sesuai kondisi kesehatan perut anda, “sesuatu” yang berasal dari hasil metabolisme tubuh selama seharian. Jika suatu saat anda melakukan rutinitas yang sama, tetapi tiba-tiba “bunyi” yang jatuh ke dalam air itu hilang, padahal anda sudah merasa yakin ada benda jatuh berasal dari perut anda, pasti anda akan kaget dan merasa ada yang aneh atau bahkan ketakutan, “kok nggak ada suaranya ya?”. Ngeri juga kan???.

Nah, kalau sampai sini kita masih saja kesulitan memahaminya, ya…wallahu a’lam.

***

Saya kok jadi penasaran, lalu apa sih yang mereka mengerti tentang musik? Atau jangan- jangan mereka malah belum ngerti apa itu musik? Musik atau alat musik? Musik atau bunyi? Bunyi atau suara? Makin bingung kan?.

Oke, kita sepakati bersama dengan bahasa yang lebih millenial tentang apa itu musik. “MUSIK: Yen Muni Asik” (kalau berbunyi asik), gitu dulu saja ya dab pengertiannya. Jadi musik itu segala macam bunyi ketika mendengarnya kita merasa enjoy, senang, nikmat, dan bahagia. Kalau pandangan ini sudah bisa diterima oleh telinga umum, sementara „mereka- mereka‟  tetap  saja  belum  bisa  menerimanya  (belum  merasakan  asik  ketika mendengarkannya), ya ndak masalah, mungkin saja mereka lagi kurang enak badan atau lagi sakit gigi mau ngapa-ngapain serba gak enak.

Saya pertegas lagi, yang saya tahu, kalau pengertian musik menurut akademisi adalah: “bunyi yang  diorganisir  sedemikian  rupa,  sesuai  aturan  dan  kaidah  yang  berlaku,  sehingga menyimpan sebuah ide atau gagasan tertentu yang ingin diungkapkan oleh komponisnya”. Jadi bahan dasar musik itu adalah bunyi, sedangkan aturannya sesuai beberapa elemen: pitch, timbre, tempo, dan dinamika, dll. Tiap elemen dasar tersebut secara luas akan selalu bermunculan dalam hidup manusia, jadi nggak usah jauh-jauh kita ngambil contoh.

Perlu kita ulas sedikit di bawah ini:

Pertama, tinggi rendah nada (pitch). Ini dapat diamati pada cara bicara setiap orang, pasti menggunakan alur serta aksentuasi sesuai tinggi rendah nada sesuai ekspresi saat berbicara.

Marah, sedih, senang, pasti menggunakan intonasi yang berbeda-beda. Tidak mungkin orang berbicara menggunakan satu nada monoton begitu saja. Anda belum pernah menyaksikan kan? Sama, saya juga belum pernah.

Kedua, warna suara (timbre). Sudah barang tentu  kita dapat membedakan jenis kelamin seseorang salah satunya melalui suaranya. Biasanya perempuan suaranya cenderung kecil/tinggi dengan jangkauan frekuensi menengah ke atas (nribel), sedangkan laki-laki suaranya besar jangkauan frekuensinya menengah ke bawah (nge-bass). Itu sudah bawaan karakter manusia, walaupun ada beberapa kasus warna suara ini tertukar, itupun jumlahnya kecil sekali. Jadi dengan warna suara inilah kita dapat mendeteksi identitas manusia, si A laki-laki, si B perempuan, si C anak-anak, si D nenek-nenek, dsb.

Ketiga, kecepatan (tempo). Setiap orang memiliki karakteristik masing-masing. Ada yang jalannya lambat, ada  yang cepat; ada  yang bicaranya lambat, ada  yang cepat;  ada  yang kerjanya cepat, ada yang lambat; dll. Semua karakter itu biasanya berkaitan dengan sifat dan perilaku manusia. Ini juga berkaitan dengan musik. si A seleranya musik lebih suka irama cepat, sedangkan si B suka musik yang melankoli dengan tempo lambat. Dengan begitu, antara si A dan si B pasti memiliki karakteristik masing-masing, apakah pemarah, sumbu pendek, ataukah pemaaf, baik hati.

Keempat, keras-lembut (dinamika) bunyi. Saya tidak percaya, hidup seseorang akan berjalan secara statis, monoton, tidak ada perubahan. Akan terasa hambar tentunya apabila perjalanan hidup tidak ada dinamikanya. Tidak mungkin juga karir seseorang akan selalu di atas atau di bawah terus-menerus. Suatu ketika kita refreshing menikmati keindahan alam, kita menyaksikan desiran angin dan gelombang laut berjalan bersahutan dalam kesatuan dinamika alam. Mungkin hanya kipas angin dan suara mesin-mesin lah yang tidak memiliki dinamika.

Sampai di sini kita dapat mengerti bahwa musik merupakan satu kesatuan nada, warna suara, irama, tempo, dan dinamika yang harmoni, yang kesemuanya itu dapat kita temukan dalam diri kita, dalam masyarakat kita, di dalam alam serta jagat raya seisinya ini. Kalau mau berfikir lebih jernih, seluruh komposisi “musik” di alam ini tidak lain adalah manifestasi dari Dzat  yang Maha Agung,  yang diciptakan-Nya supaya dapat disyukuri dan diresapi oleh semua makhluk.

Maka  dari  itu  saya  tidak  bisa  membayangkan  orang  yang  hidup  tanpa “musik”. Kiranya kita perlu berfikir secara mendalam, paling tidak untuk kita refleksikan ke dalam diri kita pribadi sesuai dawuhnya Al-Ghazali dalam mahakarya Ihya’ Ulumuddin: “Siapa yang tidak berkesan di musim bunga dengan kembang-kembangnya, atau oleh musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati”.

Dadang Wahyu Saputra

Dadang Wahyu Saputra

Alumni Seni ISI Yogyakarta, Seniman Muda dan Dosen IAIN Ponorogo

More Posts

Beri Komentar