Kamu Itu Bebek Atau Kambing ?

Sejak puluhan abad lalu kita telah diajarkan mengenali diri sendiri dan kemudian kembali pulang pada asal muasal. Maka kita ini adalah keturunan nenek moyang yang tekun menempuh jalan menuju keabadian, meskipun kenikmatan dunia ada di depan mata. Dengan segala pemikiran dan ketulusan hati mereka berusaha merumuskan sendiri sebuah laku untuk mencari tahu siapa sesungguhnya pembuat, pemililk dan pengatur alam semesta ini, Sang Hyang Wenang. Baik dengan bersemedi, tirakat, mengembara, puasa, dan lain sebagainya. Karena perihal kebaikan budi dan tata moral kehidupan, bangsa Nusantara sudah memilikinya sejak sebelum datangnya kitab suci.

Kemudian Islam datang untuk semakin mengarahkan jalan dan men-sertifikasi rumusan laku tersebut agar lebih jelas kemana arah dan kepada siapa tujuan itu. Tanpa merusak rumusan laku jawi yang sudah kuat mengakar, namun menyempurnakannya menjadi susunan etika yang tepat.

Wali songo dan ulama lainnya begitu cerdas dan detail menyusun formula dakwah, yang tidak hanya sekedar mengejar keislaman semata, tapi hingga benar-benar tahu Sangkan paraning dumadi. Mereka selalu menanamkan makna terhadap sekecil apapun benda-benda kebudayaan pada saat itu. Bahkan untuk anak-anak pun, mereka menitipkan tembang dolanan yang menyimpan banyak makna. Bukti kecerdasan Walisongo yang juga berpikir jauh untuk genersi kedepan dan menangkal benturan-benturan modernisasi yang bisa mengaburkan jatidiri bangsa dan jatidiri manusia.

Kekhawatiran walisongo itu pun kini telah terbukti. Mulai langka konstruksi bangunan yang menyimpan banyak filosofi, mulai hilang seni ukir tertentu, tembang macapat, tembang dolanan, pakaian adat, bahkan menu dan sajian makanan adat, yang di situ mempunyai makna tuntunan karakter sejati manusia. Andaikan ada, itu pun hanya sekedar pelestarian yang bersifat simbolik. Paling hanya sekedar dipelajari, tidak sampai diambil pelajaran, apalagi untuk tuntunan kehidupan sehari-hari.

Budaya kita sudah tergeser, terpinggirkan, bahkan tertindih oleh kebudayaan asing yang tanpa makna, apalagi tuntunan hidup. Semua itu kamuflase yang diatasnamakan sebagai kemajuan, yang fokusnya hanya satu yaitu kapitalisme. Nominal harga benda menjadi penentu derajat kemuliaan.

Lalu apakah berarti para sesepuh pendahulu kita dulu tidak mempunyai barang mewah? Tentu saja punya, bahkan mengelolanya dengan baik. Namun mindset dan sikap telah tertanam dalam hati untuk tetap selalu dalam jalan menuju Tuhan. Sementara di era ini “penjajah asing” itu telah berhasil memutar lalu menjerumuskan pola pikir kita jauh bahkan sangat jauh dari sesepuh kita dulu.

Sejak bangun tidur yang kita ingat adalah keuntungan materi. Punya keahlian maka Ia berpikir gimana supaya bisa menghasilkan materi. Haji dan Umroh menjadi lahan bisnis. Bahkan pelatihan baca Qur’an, shalat khusyuk, sampai ruqyah sekalipun tak luput dari ajang putaran bisnis. Bulan Ramadlan menjadi bulan yang sangat dirindukan karena sangat berpotensi menjadi pasar keuntuntan berkedok dakwah. Keuntungan materi berposisi sebagai tujuan.

Apakah tidak boleh bekerja mencari keuntungan? Ya tentu boleh.. tapi kelirunya adalah keuntungan materi diposisikan sebagai tujuan, bukan sebagai dampak melakukan kebaikan. Karena sebetulnya kalau kita percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil dan Bijaksana, jika kita melaksanakan kebaikan tulus karena Allah, niat berbuat baik kepada masyarakat sekitar, maka Allah tentu menjamin kehidupan kita. Maka kita tata pola pikir kita agar tidak mengejar dunia, tapi dunia yang mengikuti kita atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan.

Kamu itu bebek atau kambing? Kalau kamu bebek nggak usah berpikir keras supaya bisa punya tanduk. Kalau kamu kambing nggak usah jungkir balik berusaha bisa berenang. Pasti celaka sendiri. Wajib hukumnya menjadi diri sendiri, mensyukuri kemampuan diri, dan berlaku hidup dengan peradaban sendiri.

Kita ini bangsa Indoneisa, apapun sukunya. Bangsa yang mempunyai karakter asli sebagai manusia yang beradab. Bangsa yang tertanami sikap salik kepada Tuhannya. Bangsa yang tangguh menghadapi benturan dari mana pun, dan cerdas mengelola kekayaan alam dan hasil bumi atas rasa syukur kepada Tuhan. Bukan keturunan penggila dunia, pengejar tahta, apalagi gampang bunuh diri seolah tak punya sandaran hidup.

Kambing tidak lebih hebat dari bebek, bebek pun tidak lebih mulia dari kambing. Pohon pisang tidak lebih rendah dari pohon kelapa, pohon kelapa tidak lebih tinggi dari pohon pisang. Tapi keduanya itu ya seperti itu, tidak kurang tidak lebih, dengan tingkat kemanfaatannya masing-masing.

Negara-negara barat tidak lebih maju daripada Indonesia, Negara arab, turki, mesir, juga tidak lebih mulia dari Indonesia. Masing-masing mempunyai martabat dan nilai kejayaan sendiri. Boleh kita menuntut ilmu dan mengambil pelajaran dari bangsa lain, tapi kita tetap sebagai bangsa Nusantara yang bercirikan mempunyai hati yang selesai, jiwa yang murni, dan akal pikiran yang selalu mencari jalan kesejatian. Apapun agama dan keyakinannya, menuju Sang hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi, Al-Ahad, Allah SWT.

Zahrul La'aly

Zahrul La'aly

Pegiat Kajian Budaya

More Posts

Beri Komentar