Kambing dan Hujan: Bukan Hanya Sekadar Roman Cinta Biasa

Judul               : Kambing dan Hujan : Sebuah Roman

Penulis             : Mahfud Ikhwan

Penerbit           : Bentang Pustaka

Cetakan           : II, April 2018

Tebal               : vii + 380 hlm,: 20,5 cm

ISBN               : 978-602-291-470-9

 

Is, bagi sebagian besar dari kami, seperti kambing dan hujan, sesuatu yang hampir mustahil dipertemukan”

Seperti kisah Roman Romeo dan Juliet, kisah cinta terkenal dari Eropa yang terpaksa terpisahkan oleh jurang perbedaan. Kisah cinta Mif (Miftahul Abrar) dan Fauzia (Nurul Fauzia) dalam kisah novel Kambing dan Hujan ini yang terhalang perbedaan dikeduanya, bukan kasta soaial, atau agama namun aliran kelompok dalam beragama. Mif yang tumbuh dalam latar belakang islam modern (Muhammadiyah) sedangkan Fauzia dengan latar belakang islam Tradisonal (Nahdlatul Ulama), perbedaan kultural yang mereka lalui membawa kepada kisah masa lalu keluarga masing-masing yang penuh rahasia yang telah lama terpendam.

Berlatar belakang pada suatu Desa bernama Tegal Centong, kita dibawa dalam cerita yang kuat nuansa pedesaan seperti novel-novel Mahfud Ikhwan yang lain. Kisah asama Mif dan Fuzia berawal dari pertemuan mereka dalam sebuah Bus menuju Surabaya, Mif yang telah lulus kuliah di Jogja dan bekerja sebagai editor, sedangkan Fauzia mahasiswa yang akan wisuda dari Universitas di Surabaya, hingga akhirnya mereka bertukar surel sehinga hubungan mereka semakin dekat. Alur cerita mengalir seperti novel-novel pada umumnya, sehingga mereka memutuskan untuk menikah. Sampai di sini selanjutnya Mahfud Ikhwan seperti menyihir pembaca untuk membaca lembar demi lembar selanjutnya tanpa henti. Masalah muncul ketika keduanya mengutarakan keinginan menikah kepada masing-masing keluarganya, Pak Fauzan yang merupakan ayah dari Fauzia merupakan tokoh masjid Selatan yang berseberangan paham beragama dengan Pak Kandar tokoh masjid Utara. Tegal Centong terbagi kultural masyarakat menjadi dua wilayah, yaitu Utara dan Selatan. Utara masyarakat yang beraliran Islam modern (Muhammadiyah) sedangkan Selatan masyarakatnya beraliran Islam Tradisonal (Nahdaltul Ulama).

 

Mengalir dalam alur cerita, kita dibawa ke Tegal Centong 60-an. Berawal dari kisah cinta Mif dan Fauzia kita dibawa pada rahasia-rahisa terpecahnya Tegal Centong menjadi dua belahan yang berseberangan. Meok (Pak Fauzan) ternyata adalah sahabat kecil Is (Pak Kandar). Keduanya adalah sahabat di SR (sekolah rakyat) sekaligus sahabat menggembala kambing keduanya sangat dekat bagai saudara. Keduanya terpisahkan ketika Moek melanjutkan mondok di jombang, sedangkan Is masih berada di Centong. Di Centong Is mengaji bersama Cak Ali bersama teman-temanya, dari mengaji dengan Cak Ali tersebut Is dan kelompoknya bersitegang dengan golongan orang-orang tua yang mereka anggap bid’ah, sehingga mereka harus terasingkan dari Masjid tempat mereka mengaji dan berkumpul. Sehingga Cak Ali, Is dan kelompoknya mendirikan mushola sendiri dengan ritual keagamaan yang mereka anggap benar.

“kita dulu mengira bapak-bapak kita adalah dua musuh bebuyutan yang tak terdamaikan. Ternyata, mereka dua sahabat karib, bahkan saling memanggil saudara”. (Mif:156)

Dari sinilah munculnya embrio dualisme agama di centong, sehingga Moek harus dijemput pulang oleh Ayahnya dan Pak Kamituwo  untuk melawan gerakan Cak Ali dan kelompoknya. Is dan Moek harus dihadapkan dalam posisi yang berseberangan, dua sahabat yang dulunya sangat dekat terpaksa Saling berhadap-hadapan dalam aleniasi Masjid Utara dan Masjid Selatan. Ditambah Jatun (ibu dari fauzia) perempuan yang disukai oleh Is Anak dari Pak Kamituwo yang bersebrangan paham dengan Is, menikah dengan Moek, cinta segitiga dan paham yang berseberangan membuat dua sahabat tersebut harus melupakan satu dengan yang lain.

Lalu bagaimana dengan kisah cinta Mif dan Fauzia? Kisah yang harus dihadapkan dengan kisah rumit kedua Ayah mereka yang sekaligus kisah terbelahnya Centong menjadi Utara dan Selatan. Berbedaan kultural yang hampir mustahil mereka lalui, kisah lama yang terpendam berpuluh-puluh tahun. Apakah mereka dapat dapat menyatukan kedua keluarga masing-masing serta centong Utara dan Selatan yang sebelumnya terbelah? Untuk selanjutnya silakan anda baca sendiri, Mahfud Ikhwan akan menyihir anda sampai halaman terakhir buku ini.

“Dan ,apasalahnya berbeda? Tuhan menciptakan makhluk juga berbeda-beda. Manusia juga berbeda-beda….,. Dan mereka Memang menjadi dua orang yang berbeda. Tetapi, karena apa yang kalian lakukan atau apa yang Kalian tidak lakukan anak-anak kalian jadi dua orang yang berbeda sekaligus saling ingin melenyapkan”.( Anwar: 343)

 

Mahfud Ikhwan menyajikan secara apik kepada pembaca  kisah asmara Mif dan Fauzia kedalam kisah yang yang lebih besar yaitu kisah Moek (Fauzan) dan Is (Kandar). Mahfud Ikhwan mampu mengangkat realitas sosial dalam masyarakat kita yaitu perbedaan cara pandang beragama yang menjadikan aleniasi dalam masyarakat kedalam sebuah cerita yang menarik. Sepertihalnya dalam kehidupan bermasyarakat kita, islam modern yang dimotori oleh Muhammadiyah dengan islam tradisional yang dimotori oleh Nahdlatul Ulama seringkali membuat masyarakat menjadi antipati terhadap satu dengan yang lain. Isu yang sensitif dapat diangkat dengan berani dapat diracik oleh Mahfud Ikhwan dalam sebuah alur cerita yang menarik dibumbui dengan asmara dan humor yang dapat mengolah emosi pembaca sehinga pembaca terbawa dalam alur cerita. Rasanya tidak berlebihan dan sangat pantas novel ini terpilih sebagai pemenang Sayembara Novel DKJ (dewan kesenian jakarta) 2014.

Buku ini sangat cocok untuk anak-anak muda, agar pikiran kita terbuka pada sebuah perbedaan-perbedaan terutama dalam hal agama. Kita sebagai generasi muda seringkali mewarisi kebencian-kebencian dari orang-orang sebelum kita kepada sesuatu yang dianggap berbeda, padahal kita sendiri tak tahu mengapa kita harus membenci. Kebencian-kebencian tersebut dilanggengkan, dipupuk dan tumbuh subur dan terus mengalir dalam rantai turun temurun. Maka kita harus mampu memutus mata rantai kebencian tersebut agar anak cucu generasi selanjutnya tak terwarisi kebencian kepada sesama manusia yang bahkan seagama.

Muhammad Khoiri

Muhammad Khoiri

Manusia biasa, bukan superhero @Khoirii.mk

More Posts

Beri Komentar