Indahnya Damai Ketika Agama dan Budaya Seirama

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terbentuk oleh aneka macam suku, agama, ras, dan latarbelakang golongan lainnya. Dalam percakapan sehari-hari, identitas kekelompokan ini akrab di lidah kita dengan istilah SARA. Pengalaman sejarah bangsa ini telah membuktikan, bahwa keragaman SARA tidak menjadi masalah besar. Jauh sejak masa pra-kerajaan, era kolonialisasi Hindia Belanda, hingga Republik Indonesia yang merdeka pada hari ini, SARA tidak pernah benar-benar dapat meruntuhkan kokohnya persatuan bangsa ini.

Memang kurang tepat kalau dikatakan bahwa perdamaian bangsa ini tidak pernah terganggu oleh isu SARA. Beberapa kali pernah juga terjadi polemik yang disebabkan oleh perbedaan SARA dalam perjalanan bangsa ini. Seperti yang masih hangat dalam ingatan adalah kontroversi kasus Ahok dan Aksi 212, puisi “Ibu Indonesia”, serta yang terbaru adalah perundungan pada masyarakat pesisir Jogja yang hendak mengadakan sedekah laut. Namun sekali lagi, perlu kita tegaskan bahwa hal tersebut tidak pernah menjadi problem mahabesar yang membahayakan keutuhan bangsa.

Bukan berarti menyepelekan masalah yang mungkin terjadi, tetapi kesadaran kolektif (public awareness) ini patut kita bangun untuk menunjukkan bahwa bangsa ini memiliki imunitas kuat untuk bertahan. Salah satu yang menjadi kekuatan bangsa ini adalah sikapnya dalam memahami agama dan budaya.

Lentera Kembar

Bagi bangsa ini, agama dan budaya bukanlah hal yang patut untuk diperbandingkan. Keduanya adalah lentera kembar yang menuntun bangsa ini dalam menempuh jalan kehidupan sehari-hari. Dengan agama, kita dapat mengetahui mana baik dan mana buruk dalam kacamata teologis. Dengan agama pula, kita menjadi termotivasi untuk senantiasa berbuat baik pada sesama. Bukankah ini perwujudan dari akhlak karimah? Ataukah perbuatan baik pada sesama ini adalah pengejawantahan dari nilai-nilai gotong royong yang sejatinya merupakan domain budaya?

Sampai di sini kita tak perlu bingung, apakah A itu agama atau budaya, ataukah B itu agama dan budaya sekaligus, dan seterusnya. Kelenturan itu adalah salah satu kekuatan yang unik dari bangsa ini. Karena secara umum, bangsa kita memang tidak memiliki budaya yang secara serampangan bertentangan dengan agama. Budaya yang berkembang di bangsa ini mengandung nilai universal yang selaras dengan ajaran agama.

Dari masyarakat Minangkabau, misalnya, kita dapat mengambil pelajaran penting tentang hal ini. Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir barat Pulau Sumatera ini, “adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah”, atau adat bersendikan syari’at (agama), dan syari’at bersendikan Qur’an, menjadi pedoman dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, segenap urusan dalam kehidupan budaya masyarakat dipayungi dengan apik oleh nilai-nilai agama. Walhasil, kita dapat menyaksikan bagaimana relijusnya saudara kita dari Minangkabau.

Potret yang kurang lebih sama juga dapat kita saksikan pada berbagai suku di seluruh penjuru pulau-pulau Indonesia. Sebagaimana misalnya juga ada di Pulau Jawa, pulau padat di mana tinggal suku berpopulasi terbanyak di Indonesia. Fakta bahwa kini agama Islam berkembang pesat di Nusantara, tak lepas dari kecermatan Walisanga memadukan ajaran agama tersebut dengan budaya yang dilestarikan oleh masyarakat. Wayang, misalnya, sebagai kesenian tradisional yang sudah lama berkembang di masyarakat Jawa, kemudian diadopsi oleh Sunan Kalijaga untuk menyiarkan ajaran agama Islam.

Di tempat lain, ada juga Sunan Gunungjati yang menyiarkan agama Islam di kawasan bertemunya budaya Jawa, Sunda, dan Tionghoa. Salah satu peninggalan monumental yang dapat kita saksikan sampai hari ini adalah masjid dan makam dengan perpaduan indah yang khas: adat Jawa-Sunda-Tionghoa pada arsitekur bangunan, dan peribadatan agama Islam pada fungsinya.

Tak hanya dalam masyarakat beragama Islam saja budaya dapat berjalan seirama membentuk kedamaian yang indah. Dalam masyarakat Kristiani pun tampak adanya harmoni itu. Di Batak, di Jawa Tengah, di Manado, di Papua, dan di tempat-tempat lain dapat kita saksikan bagaimana agama Kristen berpadu dalam indahnya budaya Indonesia. Belum lagi kalau kita tengok ke Pulau Bali, alangkah indahnya paduan antara agama Hindu dan budaya khas Bali.

Dan akhirnya, kitapun mesti sadar bahwa tak ada yang dapat mengganggu persatuan dan perdamaian bangsa. Tidak oleh provokator culas yang memanfaatkan isu SARA, tidak juga oleh pesimisme atas kekuatan kita dalam kebersamaan. Maka tak salah jika kita perlu tegaskan kembali, menyitir satu judul puisi karya Taufiq Ismail – dan merevisinya dengan narasi positif, “Bangga Aku Jadi Orang Indonesia!”.

Dawam M Rohmatulloh

Dawam M Rohmatulloh

Dawam M. Rohmatulloh adalah alumnus PPM Islam Nusantara UNU Indonesia Jakarta. Tinggal di Ponorogo, Jawa Timur, kini mengabdikan diri sebagai Ketua PAC GP Ansor Mlarak dan teman belajar mahasiswa di IAIN & INSURI Ponorogo.

More Posts

Follow Me:
FacebookYouTube

Beri Komentar