Hidup seperti Mengejar Kereta untuk (Kembali) Mengejar Kereta

HARI Ahad, 16 Desember 2018, saya mengikuti outing bersama teman-teman peserta kursus dari Pusat Bahasa UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Kegiatan rekreasional ini dilaksanakan di salah satu taman wisata di kawasan Serpong, Tangerang. Lokasi ini dipilih karena terletak di tempat yang cocok untuk plesir satu hari. Serpong memang tidak terlalu jauh dari Ciputat jika dibandingkan dengan Bogor atau Pulau Seribu seperti sebelumnya diusulkan oleh sebagian peserta, juga tidak terlalu dekat seperti Situ Gintung yang hanya sepelemparan batu di belakang kampus kami.

Dengan pertimbangan itu, dipilihlah Pulo Saiji di Cisauk-Serpong untuk menjadi wahana pelampiasan kepenatan kami setelah lima bulan berjibaku dengan IELTS. Semestinya kami kemarin berduapuluhdua, tapi kebetulan salah satu kawan kami tidak hadir karena harus ikut SKB ASN di Bengkulu. Demikian juga tutor kami dan tim Pusat Bahasa yang semestinya bersembilan, tetapi ada dua tutor yang berhalangan. Beruntung semua tutor dan sebagian dari kami datang bersama keluarga, jadi suasana makin semarak.

Singkat kata, tibalah kami di Pulo Saiji dan menikmati aneka wahana yang tersedia di sekeliling situ atau danau itu. Wahana unggulannya adalah sky-bridge adventure, dan kami—khususnya saya—begitu menikmatinya. Disebut sky bridge karena memang seperti jembatan yang ada di langit. Melintas di atas danau, kami menikmati pemandangan sekitar dengan melewati beberapa jembatan yang ada. Bukan jembatan biasa tentunya.

Yang pertama adalah Burma Bridge. Terdiri dari potongan papan kayu sekira 100 x 15 cm yang disusun memanjang jadi jembatan gantung dan membentang sejauh hampir 50 meter dari tepi utara danau ke pulau Saiji yang ada di tengah. Beraksi menyeberang jembatan itu tidak membikin saya membayangkan jadi orang Myanmar–sesuai nama wahananya, tapi justru jadi anak-anak Banten yang harus menyeberang jembatan semacam itu untuk berangkat sekolah dan fotonya jadi viral itu. Semoga keberkahan selalu menyertai mereka menjemput cita-citanya.

Tiba di tengah danau, petualangan berlanjut. Kali ini jembatannya terdiri dari seutas kabel yang membentang dari tengah ke tepi barat danau. Two Line Bridge namanya. Seutas kabel di bawah sebagai tumpangan kaki, penyeberang dibantu dengan dua utas tali sebagai pegangan.  Mungkin karena akan tampak menyeramkan, jembatan ini hanya sepanjang kira-kira 20 meter saja. Dan menurut saya, jembatan kedua ini lebih mudah dilalui jika dibandingkan dengan jembatan sebelumnya—semoga kita pun dimudahkan ketika kelak menyeberang Shirathal Mustaqim.

Petualangan belum usai ketika saya tiba kembali di tepi danau. Dari ujung Jembatan Dua Tali, kami kembali lagi ke pulau Saiji di tengah. ‘Jembatan’ ketiga yang berupa anyaman tali semacam jaring laba-laba ini dinamai Spider Cargo. Awalnya berencana untuk istirahat sejenak dengan tiduran-sambil-cengengesan di tengah jembatan jaring ini, saya gagal mewujudkannya karena tali pengaman yang terlalu pendek. Tak mengapa, karena tidak semua keinginan kita harus terwujud.

Mentas dari jaring laba-laba, tibalah kami di menara ‘jembatan’ terakhir: Flying Fox. Digantung di seutas tali, kami dikirim kembali ke titik awal keberangkatan di tepi utara danau. Setelah menyeberang tiga jembatan yang menuntut konsentrasi untuk fokus, kekuatan kaki, dan terutama tangan, kali ini hanya diperlukan adrenalin untuk berani jadi seperti rubah yang terbang dari satu pohon ke pohon lainnya. Meluncur kencang di atas danau ini, mengajarkan saya tentang ilmu pasrah.

Mengejar Kereta

Mengapa saya berbagi kisah narsistik ini? Jawabnya sederhana: karena petualangan di Pulo Saiji mengingatkan saya akan perjalanan mengejar kereta untuk mengejar kereta. Berusaha menyeberang Jembatan Burma untuk apa? Untuk tiba di pangkal Jembatan Dua Tali. Sudah tuntas dengan itu, selanjutnya selesai? Tidak. Masih ada Jembatan Jaring Laba-laba dan Rubah Terbang di depannya. Begitulah kisah tentang kehidupan di dunia yang juga dengan elok tergambar pada potret manusia urban pengguna kereta api.

Sebagai contoh sederhana, bisa pakai perjalanan mudik saya dengan kereta dari Ciputat ke Ponorogo. Semoga pembaca tidak bosan membaca lagi kisah narsistik tentang saya ini. Dari rumah indekos di Muri Salim Pisangan, untuk menuju ke Stasiun Pondok Ranji, saya biasanya memilih modal transportasi berbasis aplikasi online. Apakah Go-Jek atau Grab, motor atau mobil, selain tergantung dengan barang yang harus dimuat, tentunya juga tergantung dengan tarif. Yang mana yang lebih murah, apalagi jika ada diskon, itulah yang dipilih. Tentang menentukan pilihan ini juga mirip dengan bagaimana Pulo Saiji akhirnya jadi tujuan retreat kami. Dan tentunya juga familiar dengan bagaimana kita menjalani hidup ini, kan?

Tiba di Pondok Ranji, saya naik Commuter Line (dulu disebut KRL, Kereta Rel Listrik) ke Stasiun Pasar Senen. Tapi perjalanan ini tidak sederhana. Dari Pondok Ranji, saya harus transit di Stasiun Tanah Abang. Turun di Peron 5 atau 6, naik ke terminal stasiun dan turun lagi ke Peron 2 untuk mengejar kereta berikutnya. Karena akan ke Pasar Senen, maka saya naik kereta jurusan Jatinegara dan turun di Stasiun Sentiong, yang sebenarnya melewati Pasar Senen juga tetapi sayang sekali kereta ini tidak berhenti di sana. Dari Sentiong, yang hanya berjarak tiga menit perjalanan dengan kereta atau kurang dari sepuluh menit dengan ojek motor, saya harus naik kereta lagi dengan arah sebaliknya.

Tantangannya ada di masa transit di Tanah Abang dan Sentiong—adakalanya saya harus mengejar kereta yang segera berangkat, atau justru harus menunggu lama untuk kedatangan kereta berikutnya. Di dalam kereta pun, tantangan ditambah dengan harus berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain. Indah sekali, persis seperti tantangan yang harus ditempuh dalam empat jembatan di Pulo Saiji. Tiap kereta atau tiap jembatan saja sudah menantang, ditambah lagi dengan keyakinan bahwa masih akan ada tantangan berikutnya; yang harus dikejar.

Naik kereta ke Tanah Abang untuk mengejar kereta ke Sentiong, kemudian ke Pasar Senen untuk selanjutnya mengejar kereta ke Madiun dan bus atau ojek ke Ponorogo. Bukankah hidup kita pun seperti itu? Mengejar keinginan, apa pun itu, untuk kemudian terus mengejar keinginan yang paripurna. []

Dawam M Rohmatulloh

Dawam M Rohmatulloh

Dawam M. Rohmatulloh adalah alumnus PPM Islam Nusantara UNU Indonesia Jakarta. Tinggal di Ponorogo, Jawa Timur, kini mengabdikan diri sebagai Ketua PAC GP Ansor Mlarak dan teman belajar mahasiswa di IAIN & INSURI Ponorogo.

More Posts

Follow Me:
FacebookYouTube

Beri Komentar