Gus Dur, Bapak Bangsa Yang Tidak Sombong

“Agama dipandang sebagai suatu khayal untuk mempertahankan atau melestarikan kelompoknya sendiri”. –Durkheim-

Apa yang dikatan oleh Durkheim tersebut tidak perlu kita tanggapi dengan emosi melainkan sebagai sindiran kepada kita untuk lebih dewasa lagi dalam beragama baik dari wilayah pemaknaan maupun aplikatifnya. Bagaimanapun ukhuwah yang di tafsirkan secara kolot dan salah malah akan membenarkan pendapat Durkheim tersebut.

Sudah saatnya kita memperjuangkan persaudaraan yang sama-sama pasrah dan tunduk kepada-Nya bukan persaudaraan sesama islam saja, kristen saja atau atas satu agama saja. Saya meyakini setiap agama apapun pasti mengajarkan kepada pemeluknya untuk berbuat baik kepada sesama manusia selain kepada Tuhannya. Sama-sama memperjuangkan haknya sebagai manusia. Makna jihat adalah kerja memanusiakan manusia demi terwujudnya cinta didunia. Penafsiran yang salah malah akan mengerdilkan kemanusiaan kita dan bagaimanapun kesucian agama itu dilihat dari manusia dalam menjalankannya bukan pakaian atau peralatan fisik yang digunakan.

Kita tidak boleh kehilangan cinta, kepada Tuhan, kepada sesama makhluk apalagi kepada diri sendiri. Pengakuan jujur tentang keterbatasan kita sebagai manusia dan juga sikap terbuka dalam usaha berakhlak mulia dalam kreatifitas disegala hal harus segera direalisasikan.

Kita harus memandang kebenaran bukan karena orang yang mengatakan tetapi melihat  kebenaran sebagai kebenaran. Ini adalah peringatan pada kita bahwa jangan lagi mudah menyalahkan karena perjuangan orang-orang yang kita benci sekalipun bukan berarti untuk sesuatu yang kurang mulia. Kebencian itu didasarkan ketidaktahuan jadi jangan meletakan pengetahuan kita pada kepercayaan yang sempit. Perbedaanpun harus kita sikapi secara dewasa dengan tidak merasa paling benar. Mudah-mudahan kita sadar bawah sikap yang hanya mengakui dan membenarkan satu pendapat saja adalah dekat dengan kekafiran dan pertentangan. Dan tidak ada satupun keuntungan bagi kita untuk mengkafirkan seseorang hanya karna kesalahan didalam Takwil.

Dengan pendekatan etika dapat dilihat bahwa tujuan manusia adalah bagaimana hidup secara baik didunia dan nanti dikehidupan mendatang. Dengan ini kita mampu melihat perjuangan kebenaran seperti apa yang sebenarnya dicari. Apakah perjuangan yang tidak rela melihat pertumpahan darah sesama manusia ataukah perjuangan yang hanya didasarkan nafsu untuk menguasai.

Sudah terlalu banyak manusia yang menganggap keyakinannya sebagai sesuatu yang mutlak, hal ini memang tak salah asalkan tidak menyalahkan kesalahan setiap perbedaan. Ada kalanya orang berada pada sisi kilaf, ada saatnya tidak. Yang salah jangan dicaci maki, apa lagi yang beda. Yang benar pun jangan terlalu dijunjung, takutnya itu malah kesalahan yang hanya berkamuflase.

Dizaman sekarang banyak orang yang logikanya kaku, akalnya mencoba mengakali ketentuan. Bagaimana mau menerima kemakluman orang lain kalau cara pandang kita sudah berjubel dengan kebencian. Bagaimana mau mengajak yang salah agar kembali kejalan yang benar jika yang salah malah dimaki-maki. Manusia memang tidak bisa merdeka dalam kebenaran atau bahkan dalam hal apapun tetapi setidaknya manusia bisa membatasi dengan kepasrahan kepada-Nya

Bukankah sudah jelas dalam setiap sabda bahwa manusia memang diciptakan dengan berbagai macam warna agar mereka saling membaur, menyapa dan menjaga demi menciptakan warna pelangi yang indah. Perbedaan itu seakan-akan memang sengaja diciptakan agar  manusia tidak terlalu menyombongkan diri. Kita saling membutuhkan, baik benar maupun salah. Tidak akan ada pengakuan benar jika salah tidak ada, tidak akan merasa salah kalau benar tiada. Jika ada golongan yang merasa paling benar dengan anggapan kalau yang berbeda harus dihilangkan mungkin mereka sedang terlupa oleh sejarah, mereka lupa berterima kasih kepada yang salah. Tidak bisa dibayangkan jika yang salah harus diusir, lalu apa yang akan menjadi ukuran kebenaran tersebut.

Saya tidak bisa membayangkan jika bangsa ini tidak mengenalmu dan pluralisme yang bapak perjuangkan. Bagaimana kacaunya negara ini jika harus dipaksakan satu bendera. Jelaslah hancur negeri ini jika harus diwajibkan berdiri pada sajadah yang sama.

Darimu saya belajar bahwa perjuangan memanglah tidak harus berhenti pada ambisiusitas individu, kelompok dan agama yang diyakini sekalipun guna menyalahkan yang berbeda. Engkau dengan pluralisme mengajak semua manusia untuk sama-sama memperjuangkan prosesnya menjadi manusia. Dari pluralisme yang engkau ajarkan membuat saya mengerti bahwa perjuangan secara universal tidak akan berhenti selama masih bernafas. Dari engkau saya belajar bahwa saya, yang sama dengan saya, yang berbeda dengan saya, yang mencintai saya dan yang membenci saya sama-sama mempunyai hak bernafas yang juga ingin dihelahkan

Dari pluralisme yang engkau ajarkan pak, saya mengerti bahwa Allah memberi saya hidup dan juga orang lain sebagai manusia. Tak harus ada perselisihan jika hal itu disadari, tak harus saling mencaci, saling menyalahkan karena semuanya pun akhirnya bersumber pada satu sumber yang sama. Engkau masih berada dalam setiap nafas orang-orang yang peduli kemanusiaan, berada pada setiap langkah orang yang dalam proses menjadi manusia.

Kini seiring waktu berlalu banyak yang menentang niat muliamu itu. Banyak yang menganggap apa yang bapak perjuangkan adalah sebuah kesalahan, dan bagi saya itu adalah soal pemahaman yang barangkali kurang sempurna. Saya tak bisa membayangkan jika tanpa pluralisme mu apakah mereka (yang menganggap pluralisme adalah salah) bisa berkeliaran bebas memperjuangkan dirinya, kelompok sampai keyakinannya sekalipun. Apakah tanpa pluralisme mu mereka dapat bebas berbicara bahwa mereka yang paling benar dan yang berbeda adalah sebuah kesalahan sehingga harus dilenyapkan.

Dengan pluralisme mu pak, engkau telah membangun rumah yang sederhana namun begitu ramah. Rumah itu tidak berpagar tinggi, dikelilingi bunga-bunga indah sebagai penghiasnya. Engkau membiarkan orang-orang, siapapun itu untuk memasukinya. Pada mereka yang sama dan mereka yang berbeda bebas melihat-lihat rumahmu. Namun sekarang tamu rumahmu banyak yang tidak punya sopan santun tetapi engkau masih begitu sangat baik. Ketika orang-orang yang memasuki rumahmu banyak mengolok-olok tidak engkau marahi. Mereka yang mencoba merubah warna cat rumahmu atau bahkan sampai berusaha merubuhkan rumahmu tidak pernah engkau usir.

Dan kini benar pak, dengan kebaikanmu   rumah yang engkau bangun dengan niat baik itu masih tetap berdiri, tangguh tanpa angkuh, dan tegak tanpa berlagak.

 -Selamat jalan pak, Cinta kami padamu lebih agung ketimbang do’a-do’a semesta-

Dani Saputra

Founder Komunitas Omah Shoro dan Santri Pecinta Alam (SAPALA Omah Shoro)

More Posts

Beri Komentar