Gadis Pukul Empat

SAAT itu, Doni sedang tak ada jadwal kuliah di kampusnya, sehingga membuatnya berkunjung ke rumah bibinya. Kampung tempat bibinya menetap itu tak disinggahinya lagi sejak 2 tahun yang lalu karena sibuk dengan kegiatan-kegiatan di kampus. Banyak yang telah berubah. Meski kampung itu jauh dari pusat kota, rupanya pembangunan di sana tak tertinggal. Beberapa toko besar dan kafe telah menjamur. Tak hanya itu, ia bahkan melihat taman bunga dengan beberapa wahana mainan anak-anak sepeti ayunan, jungkat-jungkit dan gazebo yang terbuat dari kayu.

            “Apa yang sedang kau lakukan, Doni?”

            Doni menoleh ke arah bibinya yang datang membawa camilan dan segelas teh hangat. “Hanya bermain ponsel, Bi,” jawabnya ringan lalu, memasukkan benda itu di kantong jaketnya.

            “Kau datang di waktu yang tidak tepat. Anak-anak sedang menginap di rumah neneknya.”

            Doni menyesap teh, lalu bertanya, “Apakah rumah nenek tidak jauh dari sekolah, Bi?”

            “Itu tak masalah. Ada paman Seto yang siap mengantarmu ke mana pun kau mau. Kau tahu kan, ia belum dianugerahi seorang anak, meski telah berumah tangga selama 10 tahun. Makanya, ia sangat senang jika anak-anak mau menginap di rumahnya.”

            “Oh, begitu.” Doni mengangguk.

            “Jika bosan, kau bisa pergi ke taman, biasanya, di sore hari banyak anak muda yang bermain.”

            Setelah percakapan dengan bibinya selesai, hati Doni tergerak untuk mengunjungi taman yang dimaksud. Doni memacu sepeda motornya setelah jarum jam menunjukkan pukul 4 sore. Dan rupanya, taman itu adalah taman yang dilihatnya saat ia tiba pertama kali di kampung ini. Taman itu tak seluas taman di pusat kota, tapi cukup sejuk karena diselimuti pohon-pohon dan bunga-bunga yang bermekaran. Sebelum ia memilih duduk di gazebo, ia melihat anak kecil yang digandeng ibunya sedang menunjuk bunga berwarna kuning yang mendominasi taman itu.

            “Itu bunga apa, Bu?” tanyanya.

            “Itu namanya bunga pukul 4, Nak,” jawab ibunya.

            “Kenapa namanya seperti itu, Bu?”

            “Karena bunga itu hanya mekar saat jam 4 sore.”

            Seketika itu, Doni tersenyum simpul, mendengar percakapan mereka. Ia baru tahu jika di taman itu terdapat sekuntum bunga dengan nama yang unik. Sembari menikmati kesiur angin sore, Doni memotret pemandangan di sekitarnya dengan bibir kamera. Ia memanfaatkan fitur ponsel yang ada sehingga taman itu tampak beraneka rupa di layarnya. Sesaat, ia terpaku ketika ponselnya mengarah pada seorang gadis bergaun putih yang bersandar di tiang lampu. Gadis itu tampak cantik meskipun tanpa lumuran bedak di wajahnya. Cantik sekali. Di senja ini, Doni mendapati dirinya seperti terbang jauh dari dunia nyata.

            Doni masih terpaku di tempatnya berdiri. Baginya, dunia seolah berhenti, kecuali jantungnya yang masih berdetak dengan irama yang tak beraturan. Suara degup dan getarnya, seolah sanggup di dengar telinga. Doni merasa kembali menginjak bumi ketika seorang laki-laki berkacamata melewati tiang lampu dan gadis itu beranjak mengikutinya. Lalu, mereka duduk di sebuah gazebo. Aneh. Lelaki itu tampak membisu, sedangkan gadis itu hanya menatapnya dalam diam. Tak berselang lama, laki-laki itu menatap meja yang berbaris di salah satu sudut taman. Doni ikut memperhatikan arah pandangan laki-laki itu. Doni mulai digerayangi tanda tanya, dan yang bikin heran, ada apa dengan mereka berdua?

            Menit demi menit berlalu, laki-laki itu masih saja membaca buku yang dibawanya. Sementara itu, si gadis tak melakukan apa pun. Diam dan hanya memperhatikan lelaki di sampingnya. Apakah mereka sepasang kekasih? Ah, Doni tak peduli. Jika pun mereka telah bersama, Doni bersedia mengagumi gadis itu, meski dari jauh. Seperti kata orang-orang; cinta tak harus memiliki. Doni mendesah, ia berhenti mengamati dua orang itu dan tiba-tiba merasa lapar. Akhirnya ia meninggalkan taman dan mencari warung demi meredakan teriakan cacing-cacing di perutnya.

***

MALAM harinya, Doni membuka hasil jepretannya, tadi, di taman. Ia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Tetapi, ada yang janggal. Doni tak menemukan satu pun foto gadis itu. Yang ada hanya tiang lampu tanpa seseorang di bawahnya, kecuali saat laki-laki berkacamata berjalan di sekitarnya. Doni tak percaya, bagaimana mungkin gadis itu tak tertangkap kamera? Doni mengernyit, matanya menerawang jauh. Ia hanyalah laki-laki yang sedang jatuh cinta. Apalagi yang harus ia lakukan selain bertekad kembali ke taman itu esok hari.

            Doni datang ketika jam di tangannya menunjukkan pukul 3 sore. Doni menunggu kedatangan gadis itu. 10 menit, 20 menit, 40 menit, dan hari berdentang di angka 4. Lalu, tiba-tiba saja, entah darimana datangnya, gadis itu telah bersandar di tiang lampu. Doni terbelalak memperhatikan seorang gadis jelita di depannya yang tiba-tiba muncul begitu saja. Apakah ia bukan manusia? Tapi, kakinya menapak di tanah. Apa ia hantu modern?

            Doni menggeleng, berusaha mengusir pertanyaan-pertanyaan bodoh itu dari otaknya. Ia tidak perlu berpikir yang aneh-aneh selama rindunya terjawab waktu. Lalu, Doni melihat hal yang sama terjadi lagi; laki-laki berkacamata melewati gadis itu, kemudian duduk di gazebo. Gadis itu mengikutinya dan duduk di sebelahnya. Tetapi, lagi-lagi mereka sama-sama membisu. 5 menit, 10 menit, 15 menit, mereka masih saja seperti itu. Doni ingin menghampiri mereka—lebih tepatnya, ingin menggantikan laki-laki itu untuk duduk di samping si gadis. Namun, sebelum kehendaknya terkabul, tiba-tiba Bibi mendatanginya. Mengapa semua menjadi tiba-tiba?

            “Eh, Bi-Bibi darimana?” tanya Doni, sedikit terhenyak.

            Bibinya memperlihatkan sebungkus sate ayam asli Ponorogo di tangan kanannya. Ia berucap, “Aku habis membeli sate, lalu melihatmu duduk melamun di sini.”

            “Aku tidak melamun.”

            “Lalu?”

            “Aku sedang melihat orang berpacaran. Itu, di sana,” tunjuk Doni.

            Bibinya mengikuti arah yang ditunjukkan jari Doni. Lalu, mengernyitkan dahi. “Yang kulihat adalah seorang laki-laki berkacamata yang sedang membaca buku. Tak ada yang pacaran. Aneh.”

            “Apa? Aneh? Meja yang berbaris di sana lebih aneh.”

            “Oh, meja itu tidak aneh. Dulu, ada seorang gadis dari kota yang menyediakan makanan gratis untuk orang-orang yang mengunjungi taman itu. Gadis itulah yang mendirikan taman ini. Kaulihat banyak bunga pukul 4 di sini, kan? Itu adalah bunga favorit gadis bergaun putih.”

            “Sekarang di mana gadis itu, Bi?”

            “Aku tak tahu. Hampir satu bulan ia tidak pernah ke sini lagi. Mungkin, ia sudah kuliah di luar kota. Gadis itu pernah bercerita bahwa ia akan segera kuliah.”

            “Apa Bibi punya fotonya?”

            “Tentu saja. Kami suka foto bersama.”

            Doni melihat foto di ponsel bibinya. Dan benar, gadis bergaun putih itulah orangnya. “Apa gadis itu datang ke sini setiap jam 4 sore?”

           “Bagaimana kau tahu? Apa diam-diam kaumencari tahu tentangnya?”

           “Ah tidak, bukankah bunga itu mekar saat jam 4 sore? Mestinya gadis itu harus datang tepat waktu untuk melihat bunganya bermekaran.”

          “Tepat. Rupanya kau cerdas sekali.”

          Doni tersenyum kikuk, lalu menatap gadis yang duduk di samping laki-laki berkacamata. Gadis itu pun kini tengah memandangnya. Mereka saling tatap hingga gadis itu melangkah pergi. Doni segera mengembalikan ponsel milik bibinya dan berkata dengan terburu-buru. “Bibi aku harus pergi ke suatu tempat.” Lalu, ia berlari mengejar langkah gadis bergaun putih.

          Gadis itu terus berjalan dan Doni mengekornya dengan cepat. Mereka melewati gang sempit hingga akhirnya Doni mengakhiri langkahnya. “Hei kamu, perempuan bergaun putih, berhentilah!”

          Doni melihat gadis itu berhenti dan membalikkan tubuhnya. “Kamu bisa melihatku?”

          “Tentu saja.”

          Gadis itu terdiam sejenak sebelum mengulangi kalimatnya. “Kau bisa melihatku?”

         “Apa maksudmu?”

         “Aku meninggal satu bulan yang lalu saat menaiki bus menuju taman ini.”

         “Apa?” Seketika itu, Doni merasa dunianya telah berhenti berputar. Tak mungkin gadis itu hanya jiwa tanpa raga.

         “Aku sudah meninggal.” Gadis itu meyakinkan Doni

         “Lalu mengapa kau ada di sini?”

         Gadis itu melangkah maju, mendekatinya. “Bukankah mereka yang mati tidak akan pergi selama yang masih hidup selalu mengingatnya?”

         “Bukankah begitu?” tanya gadis misterius itu.

         “Jadi, laki-laki berkacamata itu—”

         “Iya. Ia selalu mengingatku.”

         “Tapi, apa kau selalu mengingatnya?”

         “Apaaaaaa?” Gadis itu terkesiap.

          Doni jatuh cinta, dan ia tidak ingin menyerah. Bukankah takdir telah mempertemukan mereka? Doni melangkah maju, menghapus jarak di antara mereka. “Jika aku selalu mengingatmu, bersediakah kau hanya melihat ke arahku?” ***

Beri Komentar