Disabilitas: Satu Kekuranganku Membuka Seribu Bakatku

Sepagi ini seperti pada hari hari biasanya kuhabiskan waktuku bersama mereka para ABK Tunarunguwicara, saat kumpul bersama dengan guru guru mereka pada moment pelepasan guru paripurna, kuamati dan ku tatap mereka satu persatu mulai dari siswa TK hingga siswa SMA, kulihat wajah polos dan kesunyian dunia ini bagi mereka. Alunan lagu Nisa Sabyan yang merdu mungkin akan menjadi lagu yang begitu dahsyat bagi mereka jika andai saja saat itu mereka tiba tiba di kehendaki oleh Yang Kuasa untuk mendengarkan walaupun semenit saja.

Namun siswa sebanyak itu satu pun tidak ada yang memiliki pendengaran yang tersisa walaupn hanya 1 MD. Mungkin akan sangat berarti bagi mereka jika sisa pendengaran itu ada.

Namun keadaan tersebut bagi mereka itu sudah biasa, sejak usia dini bahkan sejak usia nol hari kelahiran mereka sudah terbiasa dengan kesunyian. Dengan keadaan tersebut banyak orang termasuk guru guru mereka awalnya merasa iba dengan keadaan mereka, namun setelahs ekoan lama.bergelut dengan mereka, bahkan mereka pun tidak ada yang menunjukkan wajah susah, sehingga mungkin rasa kasihan itu cukup dibenak kita.

Mereka seperti halnya anak lain yang sekilas normal dan wajar tidak meminta kita untuk memberikan belas kasihan, dan ternyata setelah difikir dan dirasakan bentuk iba yang berlebihan justru akan menjadikan mereka semakin terisolasi dengan keterbatasannya, maka mau tidak mau sebagai orang tua dan guru memberikan semangat untuk mereka agar terus maju dan berlatih, adalah jalan terang yang akan menjadikan mereka kelak sebagai anak dengan keterbatasan namun mampu dan mandiri dengan segala ketrampilannya.

Tunarungu Wicara merupakan sebuah ketunaan yang disebabkan oleh ketidak berfungsinya pendengaran akibat cacat permanen, baik dibawa sejal lahir atau accident born atau karena faktor post natal yang lain, kejadian hal ini menyebabkan mereka tidak terlatih untuk mendengar sehingga berdampak pada sulitnya berucap dan berbahasa, perlu latihan bertahun tahun agar mereka mampu memahami gerakan mulut lawan bicaranya sehingga sedikit banyak mereka mampu berkomunikasi. Juga perlunya berlatih artikulasi dan persepsi sehingga mereka akan mampu menyamakan kata, fikiran dan gerakan dan tentu itu tidak mudah.

Satu kekurangan mereka bukan berarti menjadikan mereka berkeluh kesah, tergantung bagaimana orang tua dan lembaga yang menangani belajar mereka. Pada lembaga yang tepat serta motivasi dari orang tuanya mereka akan menjadi manusia yang cakap mandiri dan memiliki berbagai macam kelebihan. Lembaga yang  tepat akan melatih mereka untuk melakukan sesuatu sampai mereka mampu dan mahir, rata rata pelatihan yang diberikan adalah pelatihan untuk wirausaha mandiri seperti pelatihan membatik, konveksi, menjahit, sablon, selain itu juga mereka yang memiliki jiwa seni seperti menari, rias, lukis hingga bela diri pun diajarkan untuk mereka.

Adanya pelatihan yang bervariasi dan terus menerus akan menjadikan mereka muncul bakat menonjol, sehingga tidak jarang diantara mereka saat moment kompetisi antar sekolah, mulai tingkat kabupaten, provinsi, nasional yang menyabet juara, dan hal tersebut sepadan dengan hasil karya yang diciptakan tangan tangan terampil mereka. Beberapa sponsorship juga tidak kalah dalam andil besar guna mewujudkan cita cita mereka menjadi insan trampil serba bisa, banyak program-program pelatihan dengan sistem karantina diberikan untuk mereka, dan ketika mereka sudah benar benar terampil maka banyak perusahaan yang akan merekrut mereka sebagai bentuk komitment perusahaan tersebut terhadap pekerja disabilitas. Disisi lain Guru pelatih maupun guru yang setiap hari mengajari mereka di sekolah sudah cukup senang jika mereka mampu dan cakap disemua bidang pelatihan tersebut dan nyatanya mereka juga cukup cakap dan mampu mengikuti semua pelatihan itu.

Lalu bagaimana dengan orang tua mereka? beberapa ada yang cukup senang dengan capaian tersebut, namun banyak diantara mereka yang memiliki sifat konservatif. Banyak alasan yang menyebabkan hal tersebut masih melekat erat di benak para orang tua. Salah satunya adalah alasan tidak ingin meninggalkan dan membiarkan mereka jauh dari para orang tua. Dan alasan itu memang secara emosional tidak terbantahkan, karena Rata rata beberapa penyedia pekerjaan bagi mereka penyandang disabilitas adalah perusahan bonafit yang berada di kota besar. (Wallohu A’lam)

Fuad Fitriawan

Fuad Fitriawan

Dosen dan Peneliti di Insuri Ponorogo

More Posts

Beri Komentar