Disabilitas: Aku Mampu Dan Aku Bisa

Keberadaan disabilitas atau cacat tubuh bagi penyandangnya bukan kehendak mereka, pun juga bukan kehendak kedua orang tua mereka, namun Kuasa tuhanlah yang menitipkan hal tersebut sebagai amanah untuk dijaga dan dirawat dengan sebaik baiknya. Keberadaan anak disabilitas di Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 sebesar 13% dan berdasarkan riset kesehatan dan disabilitas tahun 2013 prevalensi dengan disabilitas sedang dan berat mencapai 11%.

Negara telah membuat aturan bagi para penyandang cacat dan disabilitas dengan berusaha melindungi, menghormati, memajukan dan berupaya memenuhi hak-hak mereka sebagai penyandang cacat yaitu sesuai dengan UU no 36 tahun 2009 pasal 138-140. Namun tidaklah sebaik yang dibayangkan mengenai keberadaan mereka, dalam lingkup kecil mulai dari keluarga pun mereka kadang dianggap aib dan masalah seumur hidup, banyak keluarga berantakan akibat adanya anak disabilitas di tengah tengah keluarga, kecuali bagi keluarga yang menerima dan menyadari akan hal tersebut sehingga  mau dan bisa menerima akan adanya anak disabilitas.

Keberadaan anak disabilitas sebenarnya terjadi bukan sepenuhnya akibat faktor genetik, namun lebih banyak karena faktor-faktor lain yang menjadi penyebabnya, dan penyebab tersebut dibagi menjadi 3 fase, fase 1 yaitu pada fase prenatal atau fase dalam kandungan, fase ini lebih didominasi oleh keadaan ibu yang sedang mengandungnya, stress berat, asupan gizi ibu hamil kurang saat kehamilan menjadi alasan mendasar penyebab kecacatan dari fase prenatal, fase 2 yaitu fase natal atau saat melahirkan, dominasi kesalahan penanganan saat kelahiran sebagai penyebabnya seperti terlalu kuat memagang kepala, lahir sungsang dan sebagainya, dan fase 3 adalah fase post natal atau fase penanganan keseharian setelah melahirkan, mulai dari penangan saat memandikan mungkin kemasukan air sabun pada bagian mata telinga dan lain sebagainya adalah contoh kasus awal terjadinya disabilitas pada anak.

Bagi keluarga yang sadar akan pendidikan anak berkebutuhan khusus, maka tidak akan menjadikan gelisah dan memaksakan diri untuk anaknya, sehingga mereka menyadari lembaga pendidikan yang layak bagi mereka adalah Sekolah Luar Biasa (SLB), kadang beberapa keluarga karena tidak mau menerima keadaan anak mereka mengalami kecacatan merasa gengsi untuk memasukkan anak mereka disekolah khusus. Mereka kadang rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah hanya untuk mengikuti saran dokter dengan alasan kecacatan mereka bisa disembuhkan dengan terapi dan penangan medis. Beberapa kasus yang terjadi adanya keluarga yang demikian toh pada akhirnya akan merelakan anaknya masuk di Sekolah Luar Biasa.

Adanya Sekolah Luar Biasa bagi sebagian orang yang belum mengetahui peran penting keberadaannya sebagai lembaga khusus yang menangani siswa disabilitas dianggap sebagai sekolah yang tidak memberikan pengaruh apapun bagi peserta didik. Namun jika orang tua mau memantau perkembangan pendidikan anak disabilitas, bahkan setiap hari perkembangan mereka akan Nampak terlihat karena adanya pendidikan khusus tersebut.

Pendidikan Luar Biasa adalah pendidikan yang disediakan pemerintah khusus bagi siswa dengan kecacatannya melalui PP no 72 Tahun 1991. Pendidikan ini dibuat dan diatur sedemikian rupa dengan tujuan agar siswa yang mengalami disabilitas mampu berkembang dan mandiri kelak ketika usianya telah beranjak dewasa. Kurikulum mereka sama seperti kurikulum tingkat satuan pendidikan yang lain, namun dalam pemetaanya dibuat khusus dengan penekanan pada pengembangan diri di beberapa hari di jam sekolah, banyak hal yang dilakukan pada kegiatan pengembangan diri tersebut, mulai dari pengambangan bina diri merawat diri sendiri, hingga pengembangan diri melalui skill dan talenta talenta yang meraka miliki, sehingga ketika kita melihat ajang Asian Paragame yang dalam beberapa waktu lalu dihelat di Jakarta dan Palembang kita akan melihat bagaimana mereka dengan ketidak sempurnaan tubuh mampu melakukan kompetisi tolak peluru, renang dan lain sebagainya, kita sebagai orang yang dianggap sempurna tanpa kecacatan mungkin tidak bisa melakukan seperti halnya yang mereka lakukan.

Mereka dengan ketidak sempurnaannya dengan mata kita terlihat kasihan dan perlu dikasihani, namun mereka memandang diri mereka sendiri tidak merasa perlu untuk dikasihani, mereka dengan kegigihan dan ketelatenan dan keuletan mampu meraih cita cita mereka setahap demi setahap. Bahkan berdasarkan hemat penulis, pendidikan mereka dirasakan lebih unggul dibanding pendidikan umum yang setara dengan mereka karena mereka ternyata memiliki kesungguhan yang luar biasa. Wallohu a’lam

Fuad Fitriawan

Fuad Fitriawan

Dosen dan Peneliti di Insuri Ponorogo

More Posts

Beri Komentar